*Lyn POV*
Vano berjalan melewatiku. Aku tidak bisa menahannya. Kaki-kakiku membeku. Hatiku sakit. Pikiranku kacau. Bodohnya aku. Aku sungguh bodoh. Wanita terbodoh di dunia ini. Bisa-bisanya aku mengkhianati perasaanku sendiri.
Tidak, Vano... Jangan pergi. Jangan lagi... Aku takut sendirian. Aku ingin tetap bersamamu. Jangan pergi...
Aku mendengar suara Chika yang mengejar Vano dan mereka akan pulang bersama. Hatiku sakit. Begini mungkin rasanya Vano ketika berkali-kali melihatku dengan Reno. Dia selalu memendamnya. Sampai hari ini, dia meledak. Aku bodoh sekali.
Aku terjatuh. Mataku belum berkedip sama sekali. Air mataku mengalir. Tatapanku kosong. Aku menyadari betapa konyolnya aku. Marah karena melihat Chika dan Vano di lift bersama. Tapi aku pergi bersenang-senang dengan Reno di belakangnya.
Vano... Apakah ada kesempatan untukku lagi? Vano...
"Lyn!"
Ah, namaku dipanggil. Apakah itu Vano? Iya Vano! Vano! Vano! Va... no?? Bukan... Itu Reno. Sial.
"Lyn? Are you okay?"
No, I'm not. Go away. Don't touch me.
"Lyn? Jawab Lyn?"
"Pergi..." lirihku.
"Gak akan! Aku khawatir Lyn!"
"PERGI! AKU GAK BUTUH KAMU! PERGI SANA YANG JAUH!"
Aku tidak sadar membentaknya. Maaf, Reno. Aku tidak kuasa msnahannya.
Reno keluar dari kamarku. Aku menutup pintu dan menangis di baliknya. Aku tidak kuat menahan sakitnya. Bodoh sekali aku. Aku hanyalah seorang perempuan yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan kedua. Bodohnya aku. Bodoh sekali.
Harusnya aku sadar. Ulang tahunku waktu itu. Vano tertidur karena menungguku pulang. Bodohnya aku malah bersenang-senang dengan Reno sampai larut. Lagi, aku marah dengan Vano karena ada Chika di sebelahnya saat di lift. Bodohnya aku, padahal mereka bisa saja tidak sengaja bertemu. Lagi pula itu kan kantor. Aku malah marah dengannya. Ditambah aku malah jalan dengan Reno malamnya. Bodoh sekali aku.
Vano...
"AAAAAARRRRGGGGHHHHH!!!! BODOH BODOH BODOHHH!!!"
Aku menangis dengan keras. Aku berani bilang menyukai Vano, tapi aku tidak bisa menjaga persaannya. Aku paham betul seberapa kecewanya Vano. Bodohnya aku.
Hari berlalu begitu cepat. Aku belum beranjak dari depan pintu. Aku masih duduk meratapi kebodohanku. Air mataku sudah habis terkuras. Langit mulai gelap. Perutku sudah keroncongan. Tapi aku tidak punya tenaga untuk pergi keluar mencari makan.
*Ting tong*
Suara bel. Siapa itu? Aku harus berdiri dengan kedua kakiku yang sudah lemas ini. Aku membukakan pintu. Oh, Reno ternyata.
"Makan? Boleh sedih, tapi jangan lupa makan."
Aku melihat sebungkus makanan di tangan Reno. Aku mengambilnya.
"Makasih."
Aku menutup pintu lagi setelahnya. Aku bawa makanan itu ke meja dan membukanya. Nasi ayam. Ah, tadi siang aku juga makan nasi ayam dengan Vano. Bahkan lengkap dengan sayurnya. Aku mulai memakannya. Satu suapan. Dua suapan. Tiga suapan. Air mataku kembali keluar. Aku memakannya sambil menahan isak tangisku sendiri.
"Fiony, maaf aku gak bisa jagain Vano. Aku terlalu bodoh. Udah seharusnya kamu yang sama dia. Bukan aku."
Aku duduk di lantai sambil bersandar di kasur. Berbicara dengan orang yang sudah tidak ada ternyata cukup menenangkan hati. Pantas saja Vano sering ke makam ibunya. Hanya di sana ia berani mengungkapkan seluruh keluh kesahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall In Love Again
RomanceMenikah tanpa rasa itu menyakitkan. Setiap kali aku mencintai, semuanya menghilang begitu saja.
