22 - Jesslyn Elly (End)

1.6K 68 5
                                        

Aku menggenggam tangan Lyn. Dingin sekali. Aku tidak tau, apa yang selama ini ia lakukan. Apa sikapku saat itu berlebihan? Apa aku tidak seharusnya meluapkan segala emosiku kepadanya? Andai saja aku bisa menahan emosiku saat itu. Aku tidak akan melihat Lyn terkapar seperti ini.

Aku tatap wajah pucatnya. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku merindukan senyum dan suaranya. Aku tiba-tiba saja sangat menyesal meninggalkannya selama ini. Meskipun aku tau, beberapa bulan ini hubungan kami begitu renggang. Tapi aku yang membuatnya demikian. Aku yang pergi meninggalaknnya berkali-kali. Aku yang menyakitinya. Mungkin karena itu, Lyn pergi bersama dengan Reno untuk mencari kesenangan yang tidak bisa aku berikan.

"Lyn..."

Aku harap ia segera bangun. Aku ngantuk sekali. Sudah malam juga. Aku ingin tidur. Semoga kamu juga bangun saat aku bangun nanti.

*Third POV*

Vano tertidur tepat di samping Lyn. Ia tidak melepaskan genggamannya. Kedua tangannya memegang tangan kanan Lyn seolah ia tidak ingin ditinggal pergi sekali lagi.

Sementara itu, Chika ternyata sudah berdiri tepat di depan pintu rumah sakit. Jangan tanya dia tau darimana. Memang belum terlalu malam. Masih terlalu dini untuk disebut jam tidur. Gadis itu menatap Vano dan Lyn dari luar. Tatapannya seolah tidak mau kalah dalam pertarungan ini. Ia ingin masuk. Tapi seperti ada yang menahan langkahnya untuk tidak masuk ke dalam. Hatinya panas. Ia ingin segera memenangkan peperangan ini. Hati kecilnya berharap Lyn tidak bangun lagi. Jauh lebih baik dari pada harus membuat mereka bercerai.

*Vano POV*

Aku terbangun. Aku mencari jam dan melihatnya. Aku kucek sedikit mataku yang masih agak kabur ini.

Ah, baru pukul empat pagi. Aku kira sudah siang. Lyn? Sepertinya belum sadar juga. Aku melihat wajahnya lagi. Aku tidak bisa berbohong kali ini. Aku ingin melihat matanya kembali terbuka dan tersenyum ke arahku. Aku rindu dengannnya. Sekarang ia terkulai lemas di kasur rumah sakit. Itu semua salahku. Ya, aku terlalu egois. Aku pikir begitu. Aku ingin Lyn kembali. Aku sangat ingin. Wahai takdir, berpihaklah padaku. Biarkan Lyn kembali.

Detak jantungnya melemah. Tidak. Tidak boleh. Jantung Lyn harus terus berdetak. Tidak. Tidak. Tidak... Jangan... Jangan pergi, Lyn... Jangan...

Aku terpaku. Suara panjang terdengar di telingaku. Tidak lagi putus-putus. Dengan tangan gemetar aku memencet tombol untuk kedua kalinya. Aku berharap dokter bisa menolongnya kali ini. Aku mohon.

Seorang dokter dengan beberapa perawat datang begitu cepat. Mereka melakukan pertolongan dan memompa jantung Lyn. Aku melihat kejadian yang sama untuk kedua kalinya dengan orang yang berbeda. Kakiku lemas. Pasrah jika Lyn harus menyusul semua orang yang aku cintai. Tahun ini begitu menyakitkan. Minggu ini begitu jahat. Sam dan Lyn mereka harus pergi. Aku tidak percaya takdir sejahat ini. Sial. Aku ingin menyusul mereka.

Tatapanku kosong. Aku membelakangi kamar Lyn. Terlarut dalam kesedihan yang tidak bisa lagi aku pendam. Sial. Sungguh sial.

"Pak?"

Ada yang memanggilku? Siapa itu?

"Pak?"

"Pak?"

Ah, dokter yang menangani Lyn. Aku sudah siap dengan berita buruk.

"Pak, detak jantung istri bapak sudah kembali normal. Masih ada harapan. Saya percaya, kehendak Tuhan adalah istri bapak tetap hidup."

Aku tidak percaya. Mataku membulat. Hatiku merasa lega. Meskipun belum siuman, aku lega mendengar detak jantungnya kembali.

"Terima kasih banyak dok! Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih banyak!"

"Iya pak, sama-sama."

Aku segera kembali ke sebelah Lyn dan memegang tangannya. Seluruh doa aku panjatkan demi kesadaran Lyn. Aku berharap keajaiban dari Tuhan. Aku sangat berharap takdir untuk berpihak kepadaku.

Fall In Love AgainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang