HABIS SABAR

14 1 0
                                    

Tiga hari Namjoon menunggu dengan sabar. Tiga hari dia menyibukkan diri agar sabarnya tak menguap. Tiga hari Namjoon menahan diri untuk berpikir hal-hal yang baik. Tiga hari pemuda itu dilanda rasa cemas dan gelisah yang sangat menyiksa. Tiga hari Namjoon meyakinkan diri bahwa mungkin saja Vee sibuk dengan pekerjaannya dan menjadi alasan tak mengiriminya pesan.

But, damn, Namjoon pun sibuk. Dia sibuk belajar. Dia sibuk mengerjakan tugas. Dia sibuk berolahraga. Dia sibuk merawat pohon jeruk favorit Vee. Dia sibuk panjat tebing. Dia sibuk mengurus pendaftaran universitasnya. Dia sibuk mengerjakan hal-hal. Dia sibuk, tak menganggur, tak hanya rebahan, dan tak berleha-leha. Tapi, Namjoon beberapa kali mendapati dirinya hampir menelpon Vee atau mengirimnya pesan disela-sela kesibukannya. Dia mampu dan mau menyisihkan waktu barang hanya lima menit untuk mengecek handphonennya.

Tapi kenapa Vee tidak?

Tiga hari artinya tujuh puluh dua jam yang Namjoon habiskan untuk menunggu Vee mengiriminya pesan, tapi tak gadis itu lakukan. Tujuh puluh dua jam dan Vee sama sekali tak mengambil lima menit saja atau well lima detik untuk mengetik, "hey," dan mengirimnya pada Namjoon.

Sangat keterlaluan. Sangat menyiksa. Sangat menyakitkan.

Namjoon sudah tak punya lagi rasa sabar. Habis sudah kesabarannya.

Siang itu, sepulang sekolah, dengan langkah panjang, Namjoon berjalan cepat menuju tempat tinggal Vee. Dia tak memastikan apapun seperti apakah Hoseok akan keberatan atau penasaran atau apakah orang tua Vee ada di rumah. Namjoon tak berpikir apapun selain mengikuti kata hati dan kakinya untuk melangkah menemui Vee.

Hatinya sudah bergolak hebat ingin bertanya banyak hal pada Vee dan ingin membuat gadis itu mengemis padanya. Bukan hanya sekedar belaian tangan atau kecupan bibir, tapi juga seluruh dirinya. Namjoon memang yang paling terobsesi pada Vee, tapi pemuda itu juga akan membut Vee terobsesi padanya. Tak hanya perkara libido semata, tapi juga perasaan lainnya. Namjoon harus memiliki Vee seutuhnya atau tidak sama sekali.

Jantungnya berdegup begitu cepat ketika kakinya sudah berada di depan rumah Vee. Kalau ada Hoseok, dia tak perlu memencet bel, tapi karena Namjoon tahu bahwa Hoseok masih di sekolah, kini Namjoon harus membunyikan alarm penanda tamu itu agar yang berpenghuni di dalamnya tahu bahwa Namjoon sedang menunggu dibukakan pintu.

"Hey, Namjoon!"

Deg.

Ayah Vee ada di rumah.

"Masuklah. Kau tak pulang dengan Hoseok?"

Namjoon masuk dengan canggung. Ia jarang bertemu dengan ayah Vee dan Hoseok karena seringnya ayah mereka bekerja ke luar kota.

"Hoseok masih di sekolah. Aku sengaja ke sini tanpanya."

"Okay. Apa kalian akan mengerjakan tugas bersama?"

"Hemm sebenarnya tidak..." Namjoon mendapati dirinya tersandung alasan yang akan ia berikan pada ayah Vee. "Sebenarnya aku punya janji dengan kak Vee." Tapi tiba-tiba dia teringat cerpen bertema ekonomi tugas Sakura sensei yang sebenarnya sudah ia selesaikan.

"Kau mau menemui Vee?"

"Iya. Aku memintanya membantuku mengerjakan tugas cerpen bertema ekonomi. Aku tak terlalu pandai dengan tema itu dan--"

"Kon'nichiwa,"

"Kon'nichiwa, Jimin-san!"

"Aku ada janji dengan kak Vee."

Jimin?

Namjoon melotot melihat Jimin. Tak percaya bahwa Jimin membuat janji dengan kekasihnya.

"Apakah tugas yang sama dengan Namjoon?" Tanya ayah Vee.

THE ORANGETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang