ES KRIM

14 0 0
                                    

Vee sangat marah. Tapi ia tak terlalu bisa marah. Rasa rindunya pada Namjoon akhirnya terbayar setelah beberapa hari dia menunggu Namjoon untuk menghubunginya terlebih dahulu. Memang benar Namjoon menyuruhnya mengirim pesan, tapi dia tak melakukannya. Gengsinya terlalu besar untuk menyuratkan bahwa dirinya menyimpan rindu pada Namjoon.

Saat ia melihat Namjoon di ruang tamunya, Vee sangat senang. Hampir ia melompat-lompat saking senangnya, tapi ia tak melakukannya karena orang tuanya ada di rumah. Sekalipun tak ada siapa-siapa, ia pastikan ia takkan melakukannya juga. Dia tak mau terlihat sangat menyukai Namjoon meski kenyataannya memang begitu. Cukup saat dia berlari ke rumah Namjoon saja untuk memberitahu bahwa perasaanya juga sama dengan pemuda itu.

"Kenapa kau tinggalkan Namjoon sendirian?" Inilah salah satu hal yang membuatnya marah. Ibunya sangat cerewet.

"Kan ada Jimin, ma..."

"Mana mungkin Jimin tahu cara mengompres orang sakit?"

Yang benar saja. Vee memutar bola mata tanpa sepengetahuan mamanya. "Ma, Jimin sudah kelas tiga SMA. Masa dia tidak tahu cara mengompres orang sakit?"

"Jimin tidak tahu apa-apa selain membuat lagu."

"Dan menggoda perempuan."

"Vee?" Sang mama meliriknya kesal.

"Iya aku akan mengurus Namjoon. Tapi aku ke sini untuk membantu mama membuat meal prep."

"Sudah hampir selesai. Jadi kau kembali saja ke atas dan rawatlah Namjoon. Dia harus sehat jadi dia bisa mengajari Hoseok beberapa mata pelajaran."

"Iya ma."

"Kau antarkan ini untuk Namjoon. Ini es krim yang mengandung antioksidan tinggi, jadi bagus untuknya yang sedang sakit."

Ingin sekali Vee berteriak memberi tahu mamanya jika Namjoon hanya berpura-pura sakit saja. "Iya ma," tapi dia tak bisa mengatakannya karena Namjoon akan membongkar hubungan mereka dan Vee belum siap.

"Baik lah. Jagalah Namjoon seperti kau menjaga adikmu sendiri."

🍊

Namjoon tidak beristirahat. Pemuda itu malah membuat Vee ketar ketir tak karuan karena ulahnya.

Vee pikir Jimin akan pulang, tapi ternyata pemuda itu malah masih bersama Namjoon di dalam kamar. Membuat Vee canggung karena keberadaannya.

"Aku bisa menjaganya, Jim. Kau bisa pulang."

"Jimin tetap disini."

What? Untuk apa?
Vee membatin.

"Ke--kenapa?" Vee bertanya dengan gugup. Namjoon menatapnya begitu intens tanpa mengalihkan pandang sedikitpun.

"Kemarilah. Apa yang kau bawa?" Bukannya menjawab pertanyaan Vee, Namjoon malah bertanya hal lain. "Untukku, kan?"

"Es krim. Kata mama bagus untukmu yang sedang sakit." Vee menjawabnya dengan ketus sambil menyodorkan es krim itu pada Namjoon tanpa mendekatkan dirinya pada Namjoon. Vee trauma dia akan dibekap lagi oleh Namjoon meskipun itu adalah hal yang sangat menyenangkan.

"Kenapa kau menjaga jarak dariku?" Tanya Namjoon dan dengan gerakan super cepat, Vee sudah ditarik hingga jatuh lagi ke ranjang bersama Namjoon.

"Namjoon--"

"Ssshhhh jangan buat keributan. Orang tuamu belum berangkat." Entah bagaimana caranya, tau-tau saja Vee sudah ada dipangkuan Namjoon di atas ranjang, dengan Jimin yang terlihat begitu santai di meja belajar Hoseok, menghadap ke balkon.

"Lepaskan celana dalammu." Bisik Namjoon di telinga Vee.

"Apa kau gila?" Vee balik berbisik dan melotot.

THE ORANGETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang