Note: Tolong perhatikan keterangan waktu agar tidak terjadi kekeliruan pada waktu kejadian.
•••
[ 15 Oktober, 06.30 pm ]
.
Mata hitam Shikamaru melirik Hinata yang duduk di sofa tunggal, atensi perempuan itu tertuju sepenuhnya pada layar televisi yang menyala. Mungkin saja Hinata sangat menyukai drama itu, hingga tidak sadar jika ia melangkah pergi ke dapur.
Shikamaru menekan satu kontak, terdengar nada tunggu yang singkat sebelum lawan bicaranya mengangkat panggilan. "Posisimu di mana?"
"Dua menit lagi aku sampai."
"Segeralah kemari sebelum mereka datang," ujarnya, ia menatap punggung Hinata yang membelakanginya. "Kau harus membawanya pergi dari sini secepat mungkin."
Tut
•••
[ 15 Oktober, 06. 45 pm ]
.
Mobil Audi berwarna hitam kelam itu menerobos lampu merah, tidak peduli jika tindakannya memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas. Beberapa pengendara dari arah berlawanan sontak menekan klakson, bunyi klakson yang saling bersahutan mengiringi perjalanan Naruto dan Sai hingga 100 meter ke depan.
Sai kian menambah kecepatan, tangannya menarik persneling yang terletak di bagian kanan. Pria berdarah campuran antara Jepang-Amerika itu enggan mengecewakan sang atasan dalam kelambanannya mengemudi. Walau faktanya, speedometer dengan lampu putih itu menunjuk ke angka 160 kilometer perjam. Kecepatannya sudah cukup untuk memaksa mata terpejam, namun Sai tetap membuka mata agar keselamatan mereka terjaga.
Naruto mematikan ponsel saat panggilan kesepuluh yang ditujukan pada Shikamaru tidak juga mendapat balasan. Setali tiga uang dengan Shikamaru, ponsel Hinata juga menunjukkan respon yang sama ketika Naruto menekan tombol panggil; hanya terdengar nada tunggu berkepanjangan, sebelum akhirnya berganti suara operator yang membuatnya muak.
"Istri anda akan baik-baik saja, Pak."
Seakan tahu kegelisahan yang sedang membelit atasannya, Sai memberanikan diri bersuara. Netranya yang sehitam arang masih fokus pada jalan raya, setir dibawah kontrolnya berputar 360 derajat ke arah kanan di pertigaan jalan. Sai melirik spion, mobil Aoki dan Genta menyusul di belakang tak lama setelahnya.
"Kita akan sampai lima menit lagi."
Kekhawatiran Naruto tak akan surut hanya karena satu kalimat semacam itu. Yang pria itu perlukan hanya satu hal, istrinya yang baik-baik saja tanpa satupun luka. Naruto tidak butuh yang lain, baginya keselamatan Hinata saja sudah cukup.
Keinginannya sesederhana itu. Namun, takdir Tuhan memang penuh kejutan.
Kaki Sai menginjak pedal rem secepat lecutan kilat. Bunyi ban mobil yang berdecit tajam———disusul kepulan asap———kian memperkeruh perkara yang terjadi 20 meter di depan. Tubuhnya terdorong maju seiring mobil milik atasannya yang berhenti melaju. Naruto yang duduk di sampingnya bereaksi serupa, seatbelt yang menyilang di tubuh keduanya adalah alasan mengapa mereka masih selamat.
Mata biru Naruto menerawang ke balik kaca, terjadi antrian mobil sepanjang dua puluh meter di depan sana. Entah iblis macam yang dengan tega merancang situasi celaka seperti ini, Naruto hanya ingin membenturkan kepala keparat yang menciptakan kemacetan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sacrifice [ END ]
FanfictionKehidupan Namikaze Naruto terbilang sempurna dimata orang-orang. Pria itu mapan, wajahnya tampan, karirnya cemerlang diusia dua puluhan. Namun, sebagaimana dunia yang memiliki siang dan malam, pria itu memiliki sisi kelam yang dipendam. Naruto menge...
![Sacrifice [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/313722740-64-k535.jpg)