20 : End and beginning

5.8K 369 108
                                        

Naruto tahu bahwa hukuman mati bukanlah hukuman yang setara atas perbuatannya. Di masa lampau, ia terlalu banyak menodai jejaknya dengan darah. Sepanjang waktu yang berlalu, ia tidak segera membersihkan jejaknya, justru menarik orang lain agar turut berkubang pada dosa.

Naruto tidak mengatakan jika membentuk Hades adalah sebuah kesalahan. Kelompok itu memberinya ruang dan kekayaan. Nami Corp yang berdiri megah adalah hasil dari topangan Hades. Jika Hades tidak ada, Nami Corp tidak akan memiliki modal yang cukup untuk membesarkan nama. Hades adalah inti dari kehidupannya, dan dengan bodohnya ia sempat berpikir untuk membubarkannya.

Namun disisi lain, membentuk Hades adalah tindakan terkutuk. Naruto muak untuk menghitung berapa banyak napas yang terhenti akibat ulah Hades. Sudah banyak orang mati demi kelanjutan transaksi. Takhtanya yang berlumuran darah juga tak layak dibanggakan didepan khalayak.

Naruto ... tidak tahu sisi mana yang patut ia pertahankan.

Tapi lupakan saja. Menyesal ataupun membuat pilihan adalah kesia-siaan. Minggu depan ia akan dieksekusi, tali gantung adalah jembatan yang mengantarkannya pada kematian.

Dan ketika itu terjadi, ia akan terbebas dari kejamnya duniawi.

.

.

.

"Hei, apa kabar?"

Naruto tertawa pelan, Shikamaru tak perlu berbasa-basi seperti ini padanya. "Kau terlihat baik," ujarnya seraya meneliti penampilan Shikamaru. Tubuh sahabatnya itu memiliki banyak bagian yang diperban. Wajahnya juga diplester, dan Shikamaru datang kemari dengan kursi roda.

Naruto beralih menatap Sai yang duduk di sebelah Shikamaru. Pria blesteran berkulit pucat itu segera menundukkan kepala begitu mereka bertemu pandang. "Yang menjaga Hinata ... siapa?"

"Saya sudah menempatkan Aoki dan Naomi untuk berjaga di sekitar rumah beliau," jawab Sai. Kepalanya yang menunduk mulai mendongak, mengintip sang atasan yang masih memberinya tatapan kecemasan. "Saya pastikan beliau baik-baik saja, Pak."

Naruto menghela napas, semoga saja benar begitu. "Kenapa kalian kemari?"

"Kau tidak suka kami berkunjung?" Shikamaru melempar tanya, sisi wajah sebelah kanannya diberi plester akibat terserempet peluru. Pria yang seusia dengan Naruto itu membenarkan posisi duduknya di kursi roda, lantas tidak melepaskan kontak mata dengan sang atasan. "Sebentar lagi kau mati, kupikir kami harus melihatmu."

Sai terlihat hendak menghentikan ucapan Shikamaru, sementara Naruto justru tersenyum kecut. Shikamaru sedang menyindir perihal keputusannya untuk menyerahkan diri.

"Beritanya ada dimana-mana sampai aku muak saat melihat televisi, kau selalu muncul. Di ponsel, di koran juga selalu ada fotomu. Kenapa kau gila popularitas, Naruto?"

"Hei, sudahlah," bisik Sai. Baginya, tidak seharusnya Shikamaru mengatakan hal tersebut ketika Namikaze Naruto hendak dieksekusi tiga hari lagi. "Tolong berhentilah, Shikamaru."

Shikamaru justru mendecih. "Apa kau tak marah padanya? Dia bahkan tidak memberi kita tempat untuk berbagi ketenaran, Sai. Keparat ini sangat serakah!"

"Hei, hentikan Shikamaru." Naruto turut berbisik, bola matanya yang berwarna biru padam melirik seorang sipir yang berdiri di pojok ruangan--mengisyaratkan pada Shikamaru dan Sai untuk tidak mengatakannya sesuatu yang aneh. "Pergilah jika kau berniat membongkar identitasmu."

Shikamaru menggertakkan gigi. Naruto selalu bersikap egois dengan mengorbankan dirinya sendiri! "Tidakkah kau berpikir jika sikapmu sangat menjijikkan?"

Sacrifice [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang