3.

76.1K 8K 508
                                    

Rafa menguap tanda mengantuk. Dia berjalan di gendongan Abang pertamanya. Awalnya dia menolak, tetapi Sagara memaksa. Ia jadi heran, keluarganya juga sedikit berubah pagi tadi. Tetapi Rafa tidak mau memikirkan lebih lanjut masalah itu.

Dari parkiran yang terlihat mewah dan begitu luas. Bahkan parkiran ini berada dalam gedung, bukan berada di luar. Tidak ada yang namanya sepeda motor yang sering dia lihat, jika ada yang membawanya, ada parkiran khusus di depan.

Bahkan bisa dia lihat, gedung olah raga saja berbeda dengan gedung lainnya, kantin pun sama. Semua terlihat mewah.

"Sekolahan ini begitu luas," gumam Rafa yang masih di dengar Sagara. Sagara tersenyum, "kamu tau sekolahan ini milik keluarga Lesmana?"

Rafa menggeleng, "Aku tidak tau bang. Aku tidak berhak untuk tau, aku disini hadir bukan dengan marga Lesmana, hanya Kenzie Alsaki."

"Pemuda tidak tau diri yang sering menganggu tuan muda Lesmana, begitulah mereka mengenal diriku." Sagara bungkam. Dia tak tau harus menjawab apa, setiap kata yang keluar dari adiknya membuat relung hatinya seakan tertusuk ribuan panah.

"Kenzie, bisakah kamu berhenti berkata hal seperti itu?" ujar Sagara.

"Seperti itu yang bagaimana bang? Aku hanya mengatakan sebuah fakta, tidak lebih."

Sagara tidak berbicara lagi, dia berjalan mendekati sekumpulan pemuda yang bersama adik keduanya.   "Carlos..." panggilnya.

Carlos menoleh, dia mengernyit melihat kakaknya menggendong sang adik, alisnya terangkat seolah bertanya apa yang terjadi, "Dia hanya malas berjalan," ujar Sagara terkekeh.

"Carlos bisakah kamu menjaganya?" ujar Sagara. Teman dari Carlos pun menatap heran Sagara. Rafa melepaskan cekalannnya, dia menoleh kedepan dimana kakaknya sedang bersama anggota Aderfia.

Kelompok yang di ketuai oleh Xavier Saguna Jackson sang male lead kedua, dan merupakan tunangan dari antagonis perempuan. Ada pula Raymon dan Raden, juga Tristan dan Abimana. Mereka merupakan inti dari geng tersebut

"Memang dia kenapa bang?" tanya Abi heran.

"Iya, memangnya aku kenapa abang?" tanya Rafa dengan polosnya. Dia menatap bingung Abangnya itu.

"Abang hanya tidak ingin kamu terluka Ken," jawab Sagara.

"Abang Carlos tidak perlu melakukan hal itu padaku, itu akan membuat namanya tercoreng," ucap Rafa. Sagara bingung dengan hal itu, begitu pula dengan lainnya.

"Itu tidak akan mungkin Kenzie, bagaimana-

"Sudah cukup aku membuatnya malu dengan mengejarnya terus menerus bang, aku berhenti. Aku terbiasa sendiri. Jika abang khawatir aku akan di bully, tidak perlu risau, aku sudah terbiasa dengan rasa sakit." Rafa sedikit tersenyum, dalam hati dia menggerutu. Dia lelah bermain kata dan berucap kata yang panjang.

Carlos mengepalkan tangannya, "Ken, bisakah kau tidak mengatakan hal yang menyakitkan?" ujar Carlos sendu.

Rafa terkekeh, "Baru saja abang Sagara mengatakan hal yang sedikit mirip."

"Yang melewatinya adalah aku bang, yang menjalankan hal menyakitkan itu aku, jadi abang tidak perlu merasa sakit. Aku minta maaf jika ada perkataanku yang membuat kalian sakit hati,tapi itu adalah fakta." mereka yang ada disana bungkam.

"Bang, kelasku dimana? Aku ingin cepat duduk bersandar disana." Sagara yang melamun pun cepat sadar. Dia mengantarkan adiknya ke kelasnya.

Banyak siswa siswi yang berlalu lalang menatap keduanya aneh. Untuk apa anak seperti Kenzie di gendong oleh tuan muda Lesmana, begitulah bisik-bisik yang terdengar.

Just Figuran ✔ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang