happy reading
***
"Izin pinjam hp, boleh?" pinta Sheila pada lelaki yang sedang sibuk berkutat dengan laptop di hadapannya.
Fariz menoleh sebentar lalu kembali ke fokus awalnya. "Pake aja."
Sheila menggumamkan ucapan terima kasih kemudian setelahnya membawa keluar ponsel itu dari ruang kerja. Ia mendudukkan diri pada sofa yang berada tidak jauh dari tempat tidur kemudian menyusuri aplikasi demi aplikasi yang ada di ponsel sang suami.
Sekadar informasi, ponselnya sendiri memiliki baterai yang penuh, tapi Sheila tiba-tiba dilanda rasa bosan memainkan benda itu. Alhasil, ponsel milik Fariz dipilih sebagai penghilang rasa bosannya. Tidak peduli aplikasi ponsel yang sedang berada di tangannya tak sebanyak aplikasi miliknya, ia hanya menginginkan suasana baru saja untuk menghilangkan rasa jenuh.
Tujuan Sheila kali ini tidak berada pada instagram, twitter apalagi whatsapp. Satu hal yang perlu diketahui, aplkasi berlogo hijau itu sangat jarang disentuh oleh dirinya jika membuka ponsel milik Fariz. Intinya, semua media sosial Fariz tidak ingin dibuka olehnya. Saat ini, Sheila hanya ingin membaca kumpulan sajak-sajak pria itu yang biasa disimpan dalam aplikasi notes.
"Argetha 1, Argetha 2," gumam Sheila pelan. Jika tidak segera mengingat nama lengkapnya sendiri, hampir saja ia berprasangka buruk kalau Fariz sedang menulis sajak untuk perempuan lain dari judul yang dibacanya.
"Ini bukan tentang siapa yang datang lebih dulu, melainkan tentang siapa yang bertahan sampai akhir."
"Sampai saat ini belum ada hal paling ter-plotwist di hidup saya, selain kamu." Sheila tiba-tiba tertawa kecil kala membaca sajak yang ini. Tapi, benar juga, sih. Bersatunya mereka berdua adalah jalan cerita yang memang tidak bisa ditebak.
Fariz yang baru saja menyelesaikan pekerjaan, menghampiri perempuan yang tengah sibuk menatap layar ponsel miliknya.
"Dari dulu gak berubah, ya, notes lagi notes lagi. Nggak bosan apa?" komen Fariz.
Sheila menatap seseorang yang sedang duduk disampingnya itu lalu menggeleng. "Nggak," jawabnya.
"Kalau suatu saat ngerasa bosan, bilang aja, ya. Gak usah dipendam."
"Emangnya kalau aku bilang bosan, Kak Fariz mau ngapain?"
"Ngelakuin apapun biar rasa bosannya hilang." Fariz menaruh tangan kiri Sheila kemudian mengaitkan jari-jarinya. "Kali ini detak jantungnya normal, kan?" lanjutnya dengan sisipan tawa.
"Aman." Sheila menaruh ponsel Fariz di sampingnya.
Fariz mengangguk. "Bagus."
"Kalau waktu itu aku gak bangun dari koma gimana, ya, Kak? Maksud aku, Kak Fariz bakal kayak gimana?" tanya Sheila kala mengingat peristiwa yang sempat membuatnya terbaring berhari-hari di rumah sakit.
"Gak ngerti lagi, waktu mikir kamu gak ada aja rasanya kayak ..." Fariz menggantungkan ucapannya. "Susah ngejelasinnya," tambahnya.
"Harus direlain, sih, kalau kata aku. Semua orang juga bakal pergi dari dunia, kan?"
"Tau, cuman waktu itu kayak nggak siap dan nggak rela banget, apalagi kita lagi ada masalah besar. Aku mah udah pasti nggak akan tenang seumur hidup mikirin permasalahan yang belum selesai itu."
Sheila memukul pelan tangan Fariz yang sedang menggenggam tangannya. "Makanya gak usah cari gara-gara, Pak."
Fariz menyandarkan kepala di bahu Sheila. "Janji gak keulang," ucapnya seraya mengusap-usap tangan sang istri
KAMU SEDANG MEMBACA
Selaras
General FictionShe fell first, but he fell harder. *** (Last Season Rasa & Harapan)
