Note : Sebelum baca plis baca part sebelumnya karena dijamin kalian pasti lupa saking lamanya ga update
***
Pagi datang lebih cepat dari yang mereka kira.
Adzan subuh yang berkumandang dari masjid dekat rumah orang tua Sheila membangunkan Fariz lebih dulu. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar yang sudah sangat familiar baginya. Kamar itu adalah kamar Sheila semasa gadis, tempat di mana dulu ia sering datang diam-diam hanya untuk menjemput perempuan itu kuliah atau sekadar mengantarkan makanan.
Fariz menoleh ke samping. Sheila masih tertidur dengan posisi miring menghadap Khalid yang juga masih pulas. Tangan Sheila berada di atas kepala anak mereka, seperti refleks seorang ibu yang ingin memastikan anaknya tetap dekat.
Fariz tersenyum kecil.
Ia bangkit pelan-pelan agar tidak membangunkan mereka, lalu berjalan keluar kamar untuk mengambil wudhu. Rumah itu masih sepi. Lampu ruang tamu sudah menyala, kemungkinan Maryam sudah bangun lebih dulu.
Benar saja, saat Fariz selesai wudhu dan berjalan ke ruang tengah, Maryam sudah duduk di sajadahnya sambil membaca Al-Qur'an.
"Udah bangun, Riz?" tanya Maryam pelan.
"Iya, Ma. Mau ke masjid dulu," jawab Fariz sambil merapikan pecinya.
Maryam mengangguk. "Nanti bangunin Sheila sama Khalid ya, habis subuh sarapan dulu baru pulang."
"Iya, Ma."
Fariz lalu berjalan keluar menuju masjid. Udara pagi masih dingin dan jalanan masih sepi. Dalam perjalanan menuju masjid, entah kenapa pikirannya dipenuhi banyak hal. Tentang pekerjaan, tentang keluarga, tentang masa lalu mereka yang tidak selalu mudah.
Kadang Fariz masih tidak percaya bahwa sekarang semuanya sudah terasa tenang. Dulu, hubungan mereka penuh dengan salah paham, ego, dan jarak. Tapi sekarang, justru hal-hal kecil seperti bangun subuh bersama keluarga terasa sangat berharga.
---
Sekitar pukul enam pagi, Sheila akhirnya bangun. Ia mengucek mata sambil duduk di tempat tidur. Khalid sudah tidak ada di sampingnya.
Sheila keluar kamar dan melihat Khalid sedang duduk di ruang makan bersama Maryam, sementara Fariz sedang menuang teh.
"Wah, Bundanya baru bangun," kata Khalid sambil tersenyum jahil.
Sheila langsung menyipitkan mata. "Kamu bangunin nggak sih tadi?"
"Udah, tapi Bunda bilang 'lima menit lagi'," jawab Khalid sambil menirukan suara Sheila.
Fariz tertawa kecil.
Sheila langsung duduk di kursi makan. "Ini pasti kerja sama kalian bertiga."
Maryam meletakkan sepiring nasi kuning di depan Sheila. "Udah makan dulu. Habis itu baru pulang. Mama tadi masak khusus karena kalian nginap."
Sheila tersenyum hangat. "Makasih, Ma."
Mereka sarapan bersama sambil mengobrol ringan. Khalid bercerita tentang sekolah, Fariz sesekali menanggapi, dan Sheila hanya mendengarkan sambil sesekali mengingatkan Khalid untuk makan yang rapi.
Suasana pagi itu terasa sangat hangat dan sederhana.
---
Setelah sarapan, sekitar pukul tujuh mereka bersiap pulang. Khalid harus sekolah, dan Fariz harus ke kantor.
Di mobil, Khalid duduk di belakang sambil membuka tasnya.
"Yah, nanti sore aku tetap les Arab, ya?" kata Khalid tiba-tiba.
KAMU SEDANG MEMBACA
Selaras
General FictionShe fell first, but he fell harder. *** (Last Season Rasa & Harapan)
