Setelah memakai kembali pakaiannya, Jiwoo mengekori Mujin keluar dari kamar. Jiwoo sempat takjub melihat besarnya mansion Mujin, kamarnya saja sangat luas.
"Duduklah.." perintah Mujin.
Jiwoo duduk di hadapan Mujin.
"Apa ini pertama kalinya kau mabuk?"
Jiwoo dengan ragu mengangguk sedangkan Mujin bernafas lega layaknya sebuah beban baru saja diangkat dari dadanya.
"Kau sangat berbahaya jika mabuk, jangan pernah melakukan itu lagi. Kau hampir membuatku gila semalam" Mujin menyesap kopi panasnya.
Seorang wanita paruh baya yang Jiwoo yakini adalah maid, menaruh semangkuk sup tauge panas dihadapan Jiwoo lalu tersenyum ramah dan menunduk hingga berlalu dari hadapan keduanya yang terlihat sangat canggung.
"Makanlah selagi hangat" ucap Mujin yang terus memperhatikan gerak gerik gugup Jiwoo.
Jiwoo menatap sup bening itu dengan ragu, ia mengambil sendok dan menyuapkan beberapa suap ke mulutnya. Kepalanya masih terasa berputar, sisa aroma alkohol masih bisa ia rasakan dari nafasnya.
"Jadi, apa yang terjadi semalam? Kenapa aku bisa berada disini?" tanya Jiwoo tidak berani menatap Mujin.
Mujin tidak menjawab apapun, Jiwoo mendongak untuk melihat Mujin yang masih terdiam. Kontak mata lembut dari Mujin membuat hatinya lemah dan sesak.
"Bisakah kau menatapku saat berbicara? Bisakah kau tidak terus mengabaikan keberadaanku?" tanya Mujin dengan suara lirih.
Jiwoo menelan ludahnya, ia meletakkan sendok disamping mangkuk, ia memutuskan kontak mata dari Mujin dan menunduk menghela nafas panjang.
"Sepertinya tidak terjadi apa-apa, maaf aku merepotkanmu. Lain kali kau tidak perlu membantuku. Kau bisa berpura-pura tidak mengenalku." balas Jiwoo.
Mata Mujin tidak sengaja turun ke arah leher Jiwoo dan melihat kalung yang begitu ia kenali. Kalung yang ia berikan sepuluh tahun lalu dan Jiwoo masih memakainya hingga sekarang? Jantung Mujin bagai diremas kuat. Seketika ia tidak tahan lagi dengan gejolak di dadanya.
"Terima kasih untuk sup nya. Kalau begitu aku permisi" Jiwoo beranjak dari kursi hingga Mujin juga reflek ikut beranjak.
"Jiwoo-ya..." panggil Mujin lemah.
Jiwoo menghentikan langkahnya, jantungnya berdetak kencang setiap kali Mujin memanggil namanya.
Mujin berdiri di belakang Jiwoo menatap punggung wanita yang begitu ia cintai. Kerongkongannya terasa tercekat dengan mengepalkan tangannya akhirnya ia bertekad.
"Aku- aku masih mencintaimu.."
Dada Jiwoo terasa dihantam beribu ton batu. Tangannya mencengkram erat kerah bajunya menahan rasa sakit. Pria yang menghilang sepuluh tahun secara tiba-tiba muncul dan menyatakan masih mencintainya. Jiwoo menggigit bibirnya menahan bendungan air matanya. Jiwoo mencoba sekuat tenaga mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih tenang dan berbalik menatap Mujin.
"Jika memang benar kau masih mempunyai perasaan itu maka kau harus membuang rasa itu jauh-jauh mulai sekarang" balas Jiwoo mencoba tersenyum.
"Kenapa? Kenapa, aku harus membuang cintaku jika kau juga mencintaiku? Aku bisa memperbaiki semuanya, akan kubuktikan padamu!" suara Mujin sedikit meninggi.
"Aku tidak pernah mengatakan aku juga mencintaimu"
"Bisakah kau berhenti membohongi hatimu? Aku tidak sebodoh itu tidak mengetahui perasaanmu! Saat kau menangis, saat kau menolongku, saat kau menatapku penuh luka seperti ini" Mujin mendekati Jiwoo.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lie to Me
FanficChoi Mujin dan Yoon Jiwoo sama-sama merasakan cinta pertama yang tidak terlupakan, tetapi Choi Mujin terpaksa meninggalkan dan menghilang dari Jiwoo untuk meneruskan perusahaan ayahnya hingga menyisakan luka yang mendalam untuk Jiwoo. Mujin yang tid...