Astaga! entah apa yang author pencet chapter 1 jadi hilang, terpaksa author unpublish edit per chapter lalu publish lagi 😭😭 Untung ada copy an nya kalo gk kyaknya gk bakalan author sambung lagi dah ceritanya. Silahkan vote ulang 🤣🤣
Sudah satu bulan berlalu sejak kejadian Jiwoo mabuk dan menginap di mansion Mujin. Tak ada kabar tentang pertunangan, tak ada pula sosok Mujin di kantor. Pria itu menghilang lagi. Jiwoo memegang dadanya yang terasa sesak. Trauma akan Mujin menghilang seketika membuat tubuhnya gemetar, telapak tangannya berkeringat dingin, kini Jiwoo kesusahan bernafas, ia membuka mulutnya untuk menghirup oksigen namun tidak membantu apapun.
Jiwoo tidak membawa inhaler karena ia sudah dinyatakan sembuh, lalu apakah ini akan kembali terjadi lagi? Asma nya kambuh setelah 7 tahun berlalu. Sesak di dada Jiwoo kian menggerogotinya, seluruhnya tubuhnya terasa sangat amat sakit hingga pandangannya perlahan gelap, Jiwoo menutup matanya dengan linangan air mata. Ia pasrah dan dengan senang hati membiarkan ini terjadi jika memang saat ini adalah hembusan nafas terakhirnya.
Bruk!
Tubuh Jiwoo akhirnya ambruk di depan ruangan Jungwoo saat ia hendak mengantarkan berkas pada atasannya.
***
"Jiwoo-ya, kau sudah siuman?" terdengar suara berat bernada khawatir Jungwoo.
Jiwoo mengerjapkan matanya beberapa kali dengan nafas lemah didalam respirator ia mencoba tersenyum tipis pada Jungwoo.
Air mata mengalir lembut dari sudut mata Jungwoo. Pria itu terlihat sangat sedih dan kesakitan melihat keadaan Jiwoo mengingat dokter mengatakan jika Jungwoo terlambat satu menit saja mungkin Jiwoo sudah tidak bisa diselamatkan dengan riwayat pernah mengalami asma cukup parah.
Jiwoo mengulurkan tangannya dengan jemarinya ia mengusap air mata Jungwoo. Pria yang selalu ada untuknya saat ia susah maupun senang tetapi pria itu tidak pernah menuntut apapun, Jungwoo bahkan tidak pernah menyatakan perasaannya pada Jiwoo walau sejujurnya ia sangat menjaga dan mencintai Jiwoo. Ia ingin selalu berada di sisi Jiwoo apapun yang terjadi. Ya, Jiwoo tau itu semua. Ia pernah mencoba melupakan Mujin dan mencoba menyukai Jungwoo namun ia tidak bisa.
"Oppa.. mianhae..." Jiwoo tanpa suara, ia hanya menggerakkan bibirnya.
Jungwoo menggenggam erat tangan Jiwoo dan mengecup punggung tangannya sambil mengangguk.
Flashback On
Jiwoo setiap hari membuka email di komputer perpustakaan sekolahnya. Ia hanya bisa menghembuskan nafas berat nan kecewa. Sudah sebulan Mujin tidak mengabarinya ataupun membalas email yang ia kirim. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik Jiwoo selalu menunggu dan menunggu kabar dari Mujin. Akhirnya ia hanya bisa menangis dan menangis menerima kenyataan sudah satu tahun pria itu menghilang. Setidaknya berikan kata perpisahan atau apapun agar ia bisa mengerti dan menjalani hidupnya.
Setiap malam Jiwoo menangis berjam-jam hingga tertidur. Puncaknya adalah ia merasakan sesak yang amat sangat dan tidak bisa bernafas lalu semuanya gelap. Saat ia membuka matanya. Ibu Jiwoo menangis tersedu-sedu bersyukur Jiwoo masih diberikan kesempatan hidup. Jiwoo koma selama satu bulan dan di vonis menderita asma dan dokter mengatakan semua itu terjadi karena tekanan mental dan stres berlebihan tetapi setelah pengobatan selama hampir dua tahun, Jiwoo akhirnya dinyatakan sembuh.
Flasback Off
Jiwoo menarik respiratornya dan sekali lagi ia tersenyum pada Jungwoo.
"Aku baik-baik saja oppa.. terima kasih. Lagi-lagi kau menyelamatkanku" suara lemah Jiwoo terasa menusuk ke jantung Jungwoo.
...
KAMU SEDANG MEMBACA
Lie to Me
Hayran KurguChoi Mujin dan Yoon Jiwoo sama-sama merasakan cinta pertama yang tidak terlupakan, tetapi Choi Mujin terpaksa meninggalkan dan menghilang dari Jiwoo untuk meneruskan perusahaan ayahnya hingga menyisakan luka yang mendalam untuk Jiwoo. Mujin yang tid...
