07. Selamat Tinggal Bapak

37 9 0
                                        

Tuk tuk tuk. "Assalamu'alaikum!" terdengar suara ketukan pintu dibarengi salam seseorang.

Juna yang sedang tertidur, lantas bangun karena kamarnya yang dekat dengan pintu masuk. Dia berdecih kala kegiatan tidurnya terganggu. Dengan lunglai dia membukakan pintu dan menampakan seorang pria paruh baya berkumis tebal.

"Kenapa?" tanya Juna.

"Nak Yardan, bapakmu ... Bapakmu masuk rumah sakit."

Seketika rasa kantuk Juna menghilang, berganti dengan keterkejutan.

"Kenapa bisa, bapak kenapa?" tanya Juna merasa bersalah.

"Ayo, saya anterin ke sana," ajak bapak-bapak itu yang ternyata seorang RT di desa ini.

Juna kebingungan sekarang, dia harus segera pergi tetapi Yara---adiknya Yardan tidak ada di rumah, tidak mungkin Juna mengunci pintu. Dia merutuk Yardan karena tidak menghubunginya lebih dulu.

"Baiklah tak perlu dikunci." Dia berjalan ke arah pak RT itu.

Juna menaiki motor pak RT yang berniat mengantarkan Juna ke rumah sakit, hatinya berdesir saat ingat Yardan memintanya untuk membantu bapak dan dia malah menolak mentah-mentah permintaannya, dia sungguh merasa bersalah.

•••

Yardan terus menangis di luar ruangan IGD, dia terus merutuk diri telah gagal menolong ayah kandungnya sendiri. Kenapa tidak Yardan saja yang tertusuk? kenapa juga ayahnya menolong wanita itu dan berurusan dengan malaikat maut?

"Maaf pak." Isak Yardan

Juna telah sampai di IGD, terlihat Yardan duduk dan terus menunduk, dia terpukul dengan kejadian ini.

"Yardan!" teriak Juna keceplosan dia tidak bisa membiasakan diri menyebut nama.

Orang yang dipanggil namanya, mendongak ke sumber suara. Akhirnya Juna datang juga bersama dengan pak RT yang selalu membantunya, mereka memasang raut wajah khawatir.

"Kenapa bapak?" tanya Juna tanpa basa-basi.

"B-bapak, tadi ..." Yardan menjeda, dia malah menangis.

"Kenapa, Jun?" Kali ini Juna mengingatnya, dia harus bisa seperti Yardan dan bahkan harus lebih sedih darinya mengingat sekarang tubuhnya dan jiwanya tertukar.

"B-bapak, tadi ketusuk benda tajam ..." ucapannya tersendat-sendat. "Aku tadi bantuin bapak, di jalan dia nolong orang yang kena rampok, tapi malah bapak yang jadi korbannya."

"Kenapa gak kamu tolongin, hah?!"

"Aku sudah berusaha, apalah dayaku."

Juna mengembuskan napas kasar, dia sungguh sangat khawatir sekarang, bagaimana jika terjadi sesuatu pada ayah kandung Yardan, saat ini tentu Juna sangat membutuhkan bapak walaupun tahu dia bukanlah ayah kandungnya. Namun, ayahnya Yardan adalah benar-benar seorang ayah yang rela bekerja keras demi kebahagiaan anaknya.

Dalam keheningan itu, Juna mendekati Yardan sembari menyodorkan benda pipih berharga fantastis milik Juna, sedangkan Yardan menatap heran pada benda itu.

Juna berdecak. "Ini, kau lebih membutuhkannya. Jadi berikan hp-mu."

Dengan ragu, Yardan merogoh ponsel murahan yang jauh dari kata canggih miliknya dan ditukarkan dengan milik Juna. Apakah Juna mau memakai ponsel seperti itu?

Setelah menukar barang pribadi mereka, Juna duduk di samping Yardan dan menatap iba padanya.

"Sorry, ini juga salahku," ucap Juna.

"Aku juga yang salah, Bang."

Pak RT yang sedari tadi mondar-mandir di depan pintu UGD menatap bingung pada dua remaja itu, mereka seperti membicarakan sebuah rahasia karena berbicara pelan. Lantas pak RT mengenyahkan pemikiran itu, mungkin Yardan bertanya-tanya tentang kejadian ayahnya.

Cermin Terbalik 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang