20. Bullying

26 6 0
                                        

SMP Cakraswara. sekolah yang indah, kebersihan adalah ciri khas sekolah ini. Bisa dibilang sekolah favorit di kota ini. Maka tak heran anak-anak lebih suka belajar di luar ruangan dibanding di dalam kelas.

Juna dan Yardan, dua remaja yang tertukar jiwanya itu duduk di kursi taman. Mereka hanya menatap bunga-bunga di depan gedung sekolah. Masih ramai di antara mereka lantaran masih banyak murid yang berlalu-lalang menunggu bel masuk berbunyi.

"Bang, ibu lagi sakit." Akhirnya terlontar juga apa yang sedari tadi Yardan ingin ungkapkan, dia sedikit was-was saat mengatakan itu.

"Aku tahu ... dia kecelakaan mobil," balas Juna datar.

Yardan terperangah, lantas menatap Juna seakan meminta penjelasan. "Kok, bisa tahu, Bang?"

"Aku menyaksikan semuanya, ibu kecelakaan di hadapanku." Juna menunduk sejujurnya dia cukup sedih mengingat kejadian kemarin. Darah yang mengucur dari dahinya sampai kakinya terlihat bengkak.

"Oh, iya aku ingin mengatakan sesuatu." Juna kembali menatap Yardan. "Yara juga sakit, kemarin malam dia demam dan sekarang tidak masuk sekolah."

Yardan mengembuskan napas, dia tahu Yara tidak bisa menahan rasa sakitnya. Dia sudah menebak bahwa Yara pasti akan tumbang juga. Gadis itu tidak bisa memaksakan tubuhnya yang lemah.

"Maaf."

Hanya kata itu yang bisa Juna lontarkan, entah bagaimana dia semakin merasa bersalah kepada Yardan, dia seakan tidak becus hanya menjaga seorang anak kecil. Hati kecilnya merasakan penyesalan.

"Untuk apa?" tanya Yardan.

Lagi-lagi Juna menunduk. "Aku gak becus ngejaga adikmu."

Yardan tersentuh. Untuk kali pertama dia meminta maaf padanya, sepertinya sangat sulit bagi Juna untuk meminta maaf. Dulu rasa gengsinya begitu besar sampai tidak bisa berkata maaf barang sekalipun.

"Gak apa-apa Bang, Yara memang sering sakit ... Gak bakal lama, pasti dia sembuh. Makasih juga Bang udah menjaga Yara saat dia sakit."

"Kau tidak marah?" tanya Juna.

"Aku tidak ada alasan untuk marah," tutur Yardan.

"Seharusnya kau dendam padaku," balas Juna dengan rasa penyesalannya.

Yardan menatap pemandangan bunga-bunga di halaman sekolah, terdapat banyak siswa. Ada yang bercengkrama bersama temannya, ada yang sarapan, dan ada juga yang membaca buku. Pemandangan yang sangat indah.

"Awalnya marah, tapi sekarang enggak lagi. Setelah tahu alasannya ... Sekarang aku tahu posisi, Bang Juna," jelas Yardan mengingat kembali kejadian tadi pagi saat ia mengungkapkan keinginannya, Yardan tahu inilah yang diinginkan Juna.

Yardan beranjak dari tempat duduknya. "Bang Juna, malak bukan berarti kekurangan uang ... Tapi kekurangan kasih sayang." Ia tersenyum, bahkan Yardan sudah berani mengatakan itu.

Juna menatap tajam pada Yardan. Entah bagaimana, seakan Yardan meledeknya saat ini. Namun, Juna tidak bisa mengelak bahwa ucapannya itu seratus persen benar. Juna mengepalkan tangan berusaha untuk tidak emosi.

"Jangan salah paham, Bang. Aku mengatakan ini karena aku peduli padamu, aku tidak akan pernah dendam. Karena ini jalan takdirku."

Triing ... Triiing ...

Bel tanda saatnya masuk kelas, semua orang yang berada di halaman pun saling berbondong-bondong untuk secepatnya masuk kelas.

"Bang, bertahanlah sedikit lagi ... Kita akan segera mendapat kebahagiaan." Yardan menjeda. "Aku ke kelas duluan, Bang."

Tanpa menunggu balasan dari Juna, Yardan segera pergi dari sana dan meninggalkan Juna sendiri. Dengan pikiran yang kalut Juna tidak bisa menerima semuanya, sepertinya dia harus sabar menunggu.

Yardan saja berharap bisa kembali ke dunianya yang terbilang menyengsarakan, sedangkan Juna ingin menyerah bahkan belum genap sebulan. Juna memang merasa kalah oleh Yardan.

Terkadang manusia berpikir perjalanan hidup orang lain sangatlah indah. Namun, setelah Juna berada di hidup Yardan pikiran itu hilang seketika. Kehidupan orang lain juga tidak mudah.

Masalah orang lain yang sering diremehkan, Juna mengerti sekarang. Tidak semua orang mampu menjalani masalah kehidupan orang lain karena yang namanya masalah itu, tidak ada yang tidak berat.

Juna paham semuanya, apakah ia mampu sekuat Yardan? Inilah kesempatan untuknya bisa merubah dirinya menjadi lebih baik.

Bertukar jiwa tidak seburuk yang ia bayangkan.

•••

Hari demi hari, Juna jalani kehidupan sebagai Yardan. Dia bahkan seakan sudah menjadi Yardan. Ia tahu hidup di dunia ini tidaklah mudah bagi sebagian orang. Hingga Juna harus melakukan ini.

Juna berusaha untuk membantu perekonomian panti asuhan, dia berinisiatif untuk menjual segala macam makanan. Tanpa rasa gengsi lagi dia menjual makanan itu ke sekolah, dia juga memanfaatkan tubuh Yardan ini untuk mendapat kepedulian teman-temannya.

Sampai pulang sekolah pun Juna masih berkeliling menjual makanan camilan seperti keripik dan kerupuk. Namun, ternyata semua tidak bisa selalu berjalan lancar, akan ada di mana Juna merasa kecewa dan tersakiti.

"Woy! Kesini lagi, tuh anak!" teriak seorang laki-laki yang sebaya dengannya.

"Wah, anak yatim ini masih berani, yah lewat jalan sini." mereka tertawa saat Juna lewat di depan anak-anak nakal yang nongkrong itu.

"Sini keripiknya!" Anak itu merebut dagangan Juna.

"Heh! Apaan kalian kenapa membawa jualanku!" Juna mengepalkan tangan saat mereka berhasil merebut keripik Juna.

Mereka malah membuka semua keripik itu dan memakannya bersamaan. "Wah, enak juga, yah."

Juna mendorong tubuh tambun salah satu kawanan anak itu. "Kau jangan menggangguku!" Hingga anak itu tersungkur ke tanah.

"Heh! Beraninya kau!" Salah satu di antara mereka mendorong Juna hingga ambruk, semua dagangan Juna jatuh dan ada yang rusak.

Juna tak tinggal diam, dia bangkit dan memukul anak itu. Pipi anak itu memerah akibat pukulan Juna. Tidak ada yang mengalah akhirnya beberapa anak lainnya memegang tangan Juna, hingga si anak itu kembali memukul Juna dengan bebas.

Jelas Juna tidak bisa memberontak karena kaki dan tangannya terkunci oleh tiga anak yang lain. Juna mengerang, untuk saat ini dia tidak bisa melawan, tubuhnya terasa sakit dan lemas.

"Inilah akibatnya kalau kau berani sama kita, orang miskin!" Dia memukul Juna ke ulu hatinya.

"Ma-maaf, ampun jangan pukul lagi!" teriak Juna dengan suara yang serak.

"Tidak ada kata maaf, inilah hukumanmu!" Saat hendak melayangkan tinjuan lagi, anak itu mematung.

"Eh, kalian!" teriakan seorang bapak-bapak.

Sadar bahwa tindakan mereka diketahui warga, para anak itu melepas Juna dan langsung berlarian. Juna seketika ambruk dengan luka-luka di wajah terutama di bagian ulu hatinya yang amat terasa sakit. Rasanya sakit sekali.

"Ma-maaf ..." Juna lirih nyaris tak bersuara.

"Nak, bangun, Nak!" ucap pria paruh baya itu berusaha membangunkan Juna. Lelaki itu prihatin melihat keadaan anak ini yang sangat kacau.

"Ayo bangun, Nak. Kita ke puskesmas! Ayo bertahanlah, Nak." Bapak-bapak itu membantu Juna untuk bangkit.

Juna berusaha membawa barang dagangannya, dia ingin menyelamatkan dagangan yang masih utuh tanpa hancur. Hanya beberapa biji, yang lainnya berserakan akibat di acak-acak anak-anak nakal tadi. Juna mendapatkan kerugian yang sangat banyak di sini, ternyata dunia juga sesakit ini.

Pria paruh baya itu membantu Juna yang terseret-seret karena kakinya juga sepertinya terluka.

"Makasih, ya Pak," gumamnya.




TBC

19/06/23( ◜‿◝ )♡

Cermin Terbalik 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang