09. Anak Yatim Piatu

35 7 0
                                        

Seperti biasa setiap pagi, hanya bi Esmeralda yang selalu menyambutnya dan senantiasa menyiapkan sarapan untuk Yardan bertubuh Juna. Tidak ada kedua orang tua Juna, setelah menjauh dari pertengkaran mereka, Yardan tidak lagi melihat mereka. Apakah seperti ini keadaan rumah Juna? Setiap hari?

"Bi, kemana papa sama mama?" Yardan duduk sembari menyinduk nasi yang bertengker di meja makan.

Bi Esmeralda menghentikan aktifitas menghidangkan makanan, dia menatap sendu pada anak majikannya. "Seperti biasa Den, mereka berangkat kerja pagi-pagi banget."

Yardan mengembuskan napas berat. Seperti biasa katanya, berarti ini terjadi sudah lama dan mungkin benar, setiap hari kedua orang tua Juna jarang sarapan di rumah. Padahal jika dipikirkan lagi makanan di rumah terbilang mewah dan sangat layak dimakan. Yardan akan berpikir seperti itu sebagai orang yang kurang mampu secara ekonomi.

"Mereka biasanya berangkat jam berapa? Aku tidak pernah melihat mereka berangkat?" tanya Yardan penasaran.

Bi Esmeralda tersenyum miris, tidak biasanya anak majikannya ini bertanya-tanya soal orang tuanya, dia bahkan tidak peduli orang tuanya kerja seperti apa. Bi Esmeralda juga bimbang harus menjawab bagaimana bahwa ayahnya sejak tadi tidak kelihatan.

Bi Esmeralda berdeham. "Kalau ibu, dia suka berangkat jam setengah enam, kurang sedikit sepertinya, beliau disiplin sampai masuk kantor Jam segitu." Dia terkekeh agar tidak terlalu canggung.

Yardan mengangguk. "Kalau papa?"

Bi Esmeralda tampak berpikir, bola matanya mengarah ke atas. "Bapak suka berangkat bareng sama ibu, tapi  ...."

Bi Esmeralda menggantung ucapannya membuat, Yardan menghentikan aktifitas makannya, lalu menatap bi Esmeralda.

"Tapi, kenapa?"

Bi Esmeralda menggigit bibir bawahnya. "Tapi ... Bapak dari pagi gak keliatan, ibu juga berangkat sendiri ke kantor."

Yardan mengembuskan napas berat, pasti terjadi sesuatu kemarin malam. Apa yang membuat mereka bertengkar? Rasanya Yardan tidak bisa membiarkan ini, sungguh dia tidak suka adanya pertengkaran entah itu keluarganya atau pun orang lain.

Bapak pernah bilang, kita sebagai manusia harus saling menyayangi dan menghargai. Menuju perdamaian sangat sulit, tetapi setelah berdamai hari-hari akan tenang dan nyaman tanpa ada perasaan buruk di hati. Yardan merasa telah kehilangan kesempatan memiliki orang tua lengkap, kini nasibnya tertukar dengan Juna.

Satu hal yang sama antara Yardan dan Juna adalah kesepian, kesepian yang sama. Namun, dalam hal berbeda, kini Yardan mengerti mengapa Juna bisa bersikap seperti itu ketika dia memrundungnya.

•••

Yardan berjiwa Juna itu sibuk membereskan semua barang-barangnya, hari ini Juna tidak masuk sekolah begitupun Yara, dia masih berduka atas kepergian ayah kandungnya. Juna seakan mendapatkan sebuah tugas, amanah untuk menjaga adik perempuan Yardan itu.

Entah bagaimana caranya dia menjaga Yara, Juna anak tunggal, dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki seorang adik perempuan. Jika dipikirkan tentunya akan sangat berat lebih-lebih lagi kini Juna menjadi tulang punggung bagi Yara. Juna tersenyum pahit, dari sejak awal Juna tidak suka hidup miskin seperti ini. Dalam hati terus merutuk diri, kenapa dia harus seperti ini? anak orang kaya bertukar jiwa dengan anak miskin dan yatim piatu. Memang dunia Juna tidak masuk akal.

"Nak Yardan, udah selesai?" teriak wanita paruh baya yang Juna kenal istri dari pak RW.

Karena suaminya pergi bekerja, Bu RW mewakili suaminya untuk mengantarkan Juna ke rumah pelita alias panti asuhan yang jaraknya lumayan jauh dari rumah ini, tepatnya berada di pusat kota. Kini dirinya akan bergabung dengan golongan yang senasib.

"Iya, udah selesai, Bu." Juna tersenyum kaku.

"Yara udah selesai?" tanya bu RW saat Yara keluar dari kamarnya dan membawa sebuah tas kosong.

"Kamu belum siap-siap?" tanya Juna kala sadar Yara memang belum membereskan barang-barangnya.

Yara diam saja dia terus menunduk dengan mata sembab, Juna mengembuskan napas berat. Dia merasa iba pada anak kelas satu SD itu. Juna mendekati Yara dan berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Yara.

"Kenapa? Mau abang bantuin?" tanya Juna dengan lembut, sedangkan Yara hanya membalas dengan gelengan.

"Terus kenapa?" tanya Juna lagi, dia sudah mulai merasa kesal lantaran Yara termasuk orang yang bertele-tele sama saja seperti kakaknya, Yardan yang kini jiwanya di tubuh Juna.

"Yara gak mau pergi?" Dia menangis.

Juna terdiam, dia bingung harus mengatakan apa. Yara termasuk anak yang ngeyel, sedangkan Juna bukan orang yang sabar. Bu RW yang sedari tadi diam menghampiri Yara dan mengusap-usap puncak kepala Yara.

"Nak, kenapa kamu gak mau pergi?" tanya bu RW.

Beruntung ada ibu-ibu dengan pembawaannya sabar, jika tidak bisa saja Juna berbuat kasar pada Yara.

"Ya--ra, gak mau ting--galin tempat tinggal ba--pak." Dia terisak lagi padahal wajahnya sudah memerah seperti itu.

Bu RW tersentuh, dia mengerti apa yang dia rasakan, seorang ibu pasti akan mengerti kesedihan anaknya termasuk kesedihan orang lain, lebih-lebih lagi Yara yang telah kehilangan ayah kandungnya.

"Yara, kamu harus pergi, Nak. Di sana kamu bakal punya teman yang banyak, setelah kau ke sana kau akan merasa tenang. Kamu mau gak bapak bahagia?" tutur Bu RW berusaha merayu Yara.

"Mau." Dia mengangguk mantap.

Bu RW tersenyum. "Kalau Yara bahagia, bapak juga akan bahagia liat Yara. Jadi Yara harus pindah dan berbahagia bersama abangmu."

"Ta-tapi Yara pengen di sini? Yara gak mau pindah?"

Juna mengepal kuat. Namun, tetap berusaha menyembunyikan kekesalannya. sepertinya ini akan sangat sulit.

"Kenapa Yara gak mau pindah?" tanya bu RW lagi.

"Yara gak mau ninggalin barang peninggalan bapak--Yara pengen di sini aja!"

Bu RW mengembuskan napas berat. "Yara sayang, setelah kamu pindah kamu bisa, kok berkunjung ke sini ... Rumah ini tetap di sini gak akan kemana-mana, ibu hanya ingin kamu gak nangis terus, dengan kamu tinggal di rumah pelita, ibu yakin kamu pasti gak akan nangis lagi ... Gimana mau, 'kan?" tanya bu RW dengan pelan.

Yara terdiam, kini tangisnya berhenti entah apa yang dia pikirkan sampai berhenti ngeyel seperti tadi, Juna salut kepada bu RW ini, dia sangat sabar dan menunggu Yara.

"Gini aja, Yara bawa beberapa barang milik bapak yang menurut Yara sangat penting, yang penting aja, yah ... Mau 'kan?" tanya bu RW lagi.

"I-ya mau." Yara mengangguk pelan.

"Kalau gitu cepat beresin barang-barang kamu," ujar Bu RW.

Yara menurut dan kembali ke kamarnya untuk membereskan barang-barang, Bu RW lantas menatap Juna yang sedari tadi diam.

"Ibu ngerti, sepertinya ini tidak mudah untukmu, tapi percayalah semua yang terjadi pasti ada hikmah, Yara adalah anak yang lembut perlu kelembutan dalam memperlakukannya jadi, Nak Yardan kamu harus ekstra sabar, Allah selalu menjanjikan orang-orang yang sabar dan sholat, semuanya akan indah pada masanya." Bu RW menepuk pundak Juna, lantas Juna menunduk dan mengangguk sebagai balasan.

"Cepat bantuin adikmu, agar kita bisa cepat berangkat!" titah Bu RW.

"I-iya, Bu." Juna langsung ke kamar Yara.

Yatim piatu seakan sebuah gelar yang menyakitkan, sulit diterima, tapi itu kenyataannya. Perlu disadari bahwa tidak semua orang bisa bertahan dengan sebutan seperti itu, dibalik itu semua, sepertinya ada keistimewaan tertentu. jika seseorang berbuat baik kepada anak yatim piatu orang tersebut akan mendapat balasan yang lebih baik lagi. Sadar atau tidak anak-anak yatim juga bisa membantu orang yang membantunya juga. Tidak terlalu buruk, 'kan?


TBC

Kasih aku Kritik dan saran, yah ❤

04/11/22<3

Cermin Terbalik 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang