Juna duduk di ranjangnya, kaki kanannya diperban elastis dan wajah babak belur. Rasa nyeri di perutnya pun belum hilang total, lantas ia merebahkan tubuhnya berharap rasa sakit itu perlahan menghilang.
"Abang." Yara terbangun dengan melirih.
Sejak dua Minggu yang lalu, sampai sekarang Yara masih sakit. Sakit yang tak terduga, setelah bolak-balik ke rumah sakit ternyata Yara menderita diabetes karena faktor keturunan. Yardan juga meyakini itu karena ibunya juga menderita hal yang sama.
"Kenapa, Yara?" tanya Juna lembut.
"Abang kenapa? Abang jatoh?" tanya Yara mengusap pelan kaki Juna yang diperban.
Juna bangun dan mengusap puncak kepala Yara. "Iya, Abang jatoh tadi pas pulang." Ia berbohong, tentu dia tidak ingin adiknya ini merasa khawatir.
Juna sekarang sudah menganggap Yara sebagai adiknya sendiri, justru Juna merasa kasihan pada gadis ini karena dia masih tidak tahu bahwa kakaknya bertukar jiwa dengan orang lain.
"Yara, jangan khawatir sebentar lagi Abang sembuh, besok Abang beliin tas yang gambar Rapunzel kayak temen Yara pake."
Yara pernah meminta tas yang saat ini sedang marak dipakai, banyak teman-temannya yang memakai tas dengan gambar dan model yang sama. Tentu Juna tidak bisa menolak permintaan Yara, dia tidak tega jika Yara harus berbeda dari orang lain.
"Tapi, Yara udah lama gak sekolah," tuturnya.
"Nanti, kamu pakai saat ke sekolah, yah. Sebentar lagi juga kamu bakal sekolah." Juna menjeda ucapannya. "Sekarang kamu tidur, istirahat biar cepet sembuh dan sekolah lagi."
"Tapi Abang gak sakit?" tanya Yara.
"Enggak, tadi Abang udah diobatin jadi gak sakit lagi."
Terlihat mata Yara berkaca-kaca, perlahan dia mendekat dan memeluk Juna. Terdengar isakkan ke perut Juna. Juna meringis perasaannya juga ikut sakit saat Yara menangis seperti ini.
Dunianya tidak hancur, Juna memang harus menjalani dunia ini dengan keikhlasan, jalan hidupnya begitu indah sampai tidak semua orang bisa mengalaminya.
"Abang jangan jualan lagi." Yara bergumam. "Tas Yara Enggak penting dari pada Abang."
Walaupun umurnya terbilang masih bocah, tetapi pemikirannya sudah dewasa. Dia mengerti semua keadaan, bahkan dia mengerti kesusahan orang lain. Itulah Yara dewasa sebelum waktunya.
"Gak apa-apa, Yara ... Abang melakukan ini karena Abang sayang, Yara." Juna membalas dekapan Yara, lantas melepas pelukannya dan mengusap air mata di pipi Yara. "Yara gak perlu khawatir, Abang gak bakal dagang lagi. Uang yang Abang punya cukup buat beli tas bahkan uang itu nyisa lebih."
Yara kini terisak, wajahnya kembali berderai air mata. "Terima kasih, Abang Yardan."
Juna tahu rasa kasih sayang sekarang, di saat permintaan kecil orang yang di kasihinya adalah sesuatu yang harus ia wujudkan agar orang itu tetap bahagia.
•••
Reva memberi tahu Yardan bahwa Juna tidak masuk sekolah, entah apa alasannya karena Juna bahkan tidak mengabarinya lewat aplikasi pesan singkat ataupun surat izin tidak sekolah. Tentu sebagai teman sekalasnya cukup khawatir walaupun setiap pertemuannya dengan Juna selalu bertengkar.
"Emang ke kamu gak ngabarin sama sekali?" tanya Reva.
Mereka berjalan di jalanan gang yang untungnya besar yang bisa dilalui oleh mobil. Yardan menenteng makanan untuk Yara dan juga Juna. Yardan memang sering ke panti asuhan, seminggu dua kali atau tiga kali dia menjenguk Yara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cermin Terbalik 2
Teen Fiction[End](completed) #2 Teenfintion 25/02/23 #3 tentlit 27/05/23 Gara-gara cermin misterius itu, Juna harus terjebak di tubuh adik kelasnya yang cupu dan kucel. yang paling dia tidak terima adalah dia harus hidup seperti orang miskin dan sengsara. Jiwa...
