04. Harga Diri

39 9 0
                                        

"Kak Adan sakit, yah?" tanya gadis kecil yang sekarang menggandeng tangan Juna.

"Enggak," ungkapnya datar.

Yara termenung, tidak seperti biasa kakaknya seperti ini. Mungkin benar dia sakit umumnya dia terus mengobrol menanyakan sesuatu kepada Yara, tetapi sekarang dia seperti lebih pendiam.

"Kak, Yara nanti pingin beli pensil yang motif Barbie, temen-temen Yara banyak yang udah punya, cuman Yara yang gak punya," ungkap anak berusia enam tahun itu dengan wajah polosnya.

Juna menatap anak kecil di sampingnya. Andaikan dia tahu bahwa kakaknya ini bukanlah kakaknya yang asli. Juna masih tetap di tubuh Yardan yang sebelumnya memang berharap ketika bangun tidur dia sudah kembali seperti semula. Namun, itu hanya ekspektasinya saja, ternyata untuk kembali seperti semula harus dengan perantara cermin misterius kemarin.

"Kak, udah sampai!" Yara berseru.

Yara berhenti, di depan Juna sudah berdiri bangunan yang ia tebak bangunan SD. Bukan termasuk elite tetapi sekolahnya cukup ramai.

"Kak, Reva aku masuk dulu, yah," ujar Yara sembari mencium punggung tangan Reva.

"Belajar yang baik, yah!"

Yara meminta salam kepada Juna, Juna pun tergerak untuk memberi punggung tangannya dan dicium oleh anak kecil ini. Juna baru merasakan rasanya dihormati, dia semakin penasaran bagaimana tingkah laku Yardan yang mungkin saja berbeda 180 derajat dari Juna.

Tak lama Juna dan Reva kembali melanjutkan perjalannya setelah mengantar Yara, kini mereka sudah berada di trotoar yang mulai banyak orang yang berlalu-lalang.

"Dan, kamu mau masuk ekskul apa?" tanya Reva.

"Gak tahu," balas Juna, dia juga tidak tahu bagaimana karakter Yardan. dia mengenal Yardan hanya sebatas korban bullinya tidak lebih.

"Kayaknya kamu cocok eksul MTK, deh. Kamu 'kan pinter, harus ngembangin bakatmu."

"Gak tahu juga."

"Kalau aku sih, pinginnya masuk ekskul karate."

"Kenapa?" tanya Juna menjadi penasaran.

Reva menatap Juna sembari tersenyum penuh arti, lantas kembali menatap ke jalanan. "Aku pingin bisa karate, biar bisa nolong kamu kalau kena buli."

Juna tertegun, sedikit merasa bersalah dengan ungkapan Reva.

"Tapi, harusnya kamu juga masuk karate, deh. Kamu harus lawan para pembuli itu!" ujar Reva dengan nada bicara naik dua oktaf. "Kamu jangan mengalah terus, harus bela diri kamu sendiri, jangan inget bahwa orang yang buli kamu itu anak donatur. Bagaimanapun tindakan kayak gitu gak bisa dibenarkan."

Juna menunduk, dia tidak bisa berkata-kata. Reva tidak tahu bahwa dia bicara di hadapan pembullinya secara langsung.

"Kalau misalkan kamu gak dapet keadilan, gak apa-apa. Dunia memang seperti itu, tapi kalau kamu diam saja, harga diri kamu keinjek-injek. Kadang kamu harus bisa ngelawan."

Juna menatap Reva, Juna tidak tahu harus berkata apa. Juna juga tidak tahu dengan alasan apa dia melakukan pembullian selain hanya untuk bersenang-senang. terdengar jahat. Juna tahu itu, tetapi demi kesenangannya sendiri dia melampiaskannya kepada orang lain.

"Bener, 'kan perkataanku?" tanya Reva pada Juna.

"I-iya bener."

•••

Sekarang Yardan merasa cemas, dia juga merasa rindu kebersamaan dengan bapak dan Yara. Apakah mereka baik-baik saja? Apakah mereka menyadari bahwa Yardan itu adalah Juna? Sungguh overthinking melanda dirinya. Dia juga mencemaskan dirinya sendiri karena akan sekolah yang otomatis langsung naik kelas 9. Tentu saja dari pelajarannya saja jauh berbeda dengan kelas 7.

"Ya Allah, gimana, yah," gumam Yardan.

Yardan berada di pintu gerbang setelah turun dari mobil yang telah ayah Juna sediakan untuk antar jemput Juna. Yardan malah menatap horor sekolah itu, dia harus bisa berperan layaknya Juna.

"Hey, tumben Lo masih di sini!" Sirbul menepuk pundak Yardan.

"Cepet kita cari duit lagi," bisik Delva di telinga Yardan.

Yardan meringis, jujur saja dia takut bertemu mereka. Orang yang selalu memukul Yardan dan merampas uang saku Yardan, bagaimana Yardan menyikapinya? Andaikan mereka tahu bahwa dia bukanlah Juna yang asli.

"Jun, cepetan!" Sirbul menarik tangan Yardan.

"Eh, tu-tunggu dulu!" teriak Yardan.

"Apa lagi, sih. Biasanya Juna antusias kalau soal malak," ujar Sirbul.

"Nantilah, jangan sekarang, kalau sekarang lagi males," keluh Yardan, berusaha agar dia tidak terpengaruh ajakan teman nakal Juna.

"Caelah! Mana ada kau malas malak, atau kau takut dihukum, yah," timpal Delva.

"Enggaklah, biarin mereka bebasin aja kali ini, kita liat reaksi mereka kayak gimana," tutur Yardan bertubuh Juna.

Sirbul mengangguk-angguk, seakan dia mengerti rencana yang Yardan ungkapkan. "Bener, juga kita liat gimana reaksi mereka pas kita berhenti malak, mungkin mereka ngira kita tobat, padahal kena prank!" Dia tertawa.

"Oke kalau gitu." Delva menimpali.

•••

Saatnya istirahat, Juna dan Yardan berjanji untuk bertemu. Akhirnya mereka saling berhadapan di belakang sekolah, tempat dimana Yardan sering mendapat Bullian.

"Kita harus ke tempat cermin itu lagi, pokoknya harus!" tegas Juna.

"Gimana caranya, Bang. Aku gak tahu daerah itu."

"Tenang aja, supirku pasti tahu," timpal Juna.

"Terus alasannya gimana? Apa kita harus ceritain yang sebenarnya?"

"Jangan!" teriak Juna. "Jangan pernah kasih tahu siapa-siapa, semua orang yang mendengar pasti gak bakalan percaya. Kalaupun memang percaya nanti semua bakal beda."

Yardan mengetuk dagunya dengan telunjuk, memikirkan sesuatu. "Reva, dia pasti percaya, dia orang yang paling bisa percaya."

"Kau yakin? Dia pasti tidak akan percaya, lebih baik jangan diberi tahu."

"Gak Bang, siapa tahu aja dia tahu caranya kita bisa kembali."

Juna termenung, semua fenomena ini sangat tidak masuk akal, dia ragu kalau Reva akan percaya dan apakah Reva bisa membantu? Juna benar-benar tidak yakin.

"Oke, gimana caranya jelasin ke Reva?" tanya Juna pada Yardan.

"Aku suruh dia ke sini aja." Yardan segera mengutak-atik ponselnya dan menghubungi Reva.

Reva yang sedang makan enak di kantin terganggu dengan getaran di ponselnya, dia mengangkat telepon itu dan menolak ajakan Yardan dengan suara berbeda. Namun, saat tahu nada bicara Yardan, Reva seketika berhenti makan dan segera pergi ke halaman belakang sekolah. Dia tahu sepertinya ada masalah serius.

•••

"Adan!" teriak Reva yang malah Juna yang berbalik menatapnya.

"Kau bulli Yardan lagi, yah!" teriak Reva pada Juna berjiwa Yardan.

"Bukan gitu Reva, gak ada pembullian," tekan Yardan di hadapan Reva.

"Maksudnya apa?" Reva malah berdiri melindungi Juna bertubuh Yardan.

Juna dan Yardan bergeming, mereka tidak tahu harus berbicara dari mana. Tidak ada siapapun di sana hanya tiga orang itu, bahkan Sirbul dan Delva pun tidak ada, yang menjadikan tempat itu basecamp-nya.

"Reva, kita butuh kamu, tapi ..." Juna menjeda. "Kau pasti tidak akan percaya."

"Apa maksudnya?!" teriak Reva terheran-heran.





TBC

Kasih aku Kritik dan saran, yah❤


03/09/22<3

Cermin Terbalik 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang