[ PRIVAT ACAK - FOLLOW SEBELUM BACA ]
>>
Hujan turun membasahi jalanan kota, menorehkan kilau basah di aspal yang gelap. Suara Sirene memekik dari kejauhan, bercampur dengan langkah terburu seorang gadis yang berlari di antara gang sempit.
"Aku ha...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
Cahaya redup lampu gantung berayun pelan, menebarkan bayangan panjang di ruangan itu. Aroma wine dan bau besi berkarat bercampur menjadi satu.
Angel duduk anggun di kursi kulit hitam, mengenakan gaun elegan berwarna gelap yang membungkus tubuhnya dengan sempurna. Jemarinya yang lentik memutar gelas wine, seolah menikmati malam tanpa terganggu oleh pria yang terikat rantai di depannya.
Tatapan hazel-nya dingin, penuh wibawa. Sekalipun ia hanya duduk diam, ruangan itu terasa sesak. Aura penguasa yang ia pancarkan membuat siapa pun menunduk tanpa diminta.
Dengan gerakan tenang, Angel meletakkan gelas di meja. Sepasang tumit stiletto miliknya berderap ringan ketika ia berdiri. Sebilah belati tipis berkilau di tangannya. Ia mengangkat dagu pria itu dengan ujung bilah. “Bangun, tuan Reno.” bisiknya lembut, namun penuh ancaman.
Pria itu membuka mata perlahan. Saat menyadari siapa yang berdiri di hadapannya, tubuhnya kaku. Nafasnya tercekat, tidak berani menatap lama wajah Angel yang begitu tenang, namun berbahaya.
Angel tersenyum samar—bukan senyum hangat, melainkan senyum milik seorang predator yang tahu mangsanya tak punya jalan keluar. “Sayang sekali,” ucapnya ringan, “kau pikir bisa mencuri uang milik keluarga Alexander lalu hidup tenang?”
Reno bergetar. “Ku-kumohon, Nona Angel… lepaskan saya. Saya bersumpah, saya tidak akan mengulanginya.”
Angel mendekat, wajahnya semakin dekat hingga napasnya terasa di kulit pria itu. “Kesetiaan adalah harga mati di dunia kami. Dan pengkhianatan… hanya dibayar dengan darah.”
Ia menarik pistol dari balik mantel hitamnya, mengangkatnya dengan anggun. Gerakannya bukan milik pembunuh keji, melainkan seorang ratu yang menegakkan aturan. “Tapi tenanglah, Reno. Aku akan memberimu kebebasan. Kebebasan abadi.”
Suara tembakan menggema. Reno terjatuh tak bernyawa, darahnya mengalir memenuhi lantai.
Angel menegakkan tubuh, lalu menoleh singkat ke arah asistennya. “Bereskan,” perintahnya singkat.
“Baik, Nona,” jawab Satria sambil menunduk dalam, penuh hormat.
Angel melangkah keluar. Udara dingin Spanyol menyambutnya, menyapu rambut panjangnya yang tergerai. Di depan gedung tua itu, sebuah Lamborghini Aventador hitam sudah menunggu. Ia masuk dengan tenang, menyalakan mesin yang meraung gagah.
Tanpa menoleh ke belakang, Angel melaju menembus jalanan malam. Bagi dunia, ia bukan sekadar seorang wanita. Ia adalah legenda, pemimpin bayangan, dan namanya bergema di setiap sudut kota.