[ PRIVAT ACAK - FOLLOW SEBELUM BACA ]
>>
Hujan turun membasahi jalanan kota, menorehkan kilau basah di aspal yang gelap. Suara Sirene memekik dari kejauhan, bercampur dengan langkah terburu seorang gadis yang berlari di antara gang sempit.
"Aku ha...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
Sore itu langit Jakarta masih diselimuti cahaya keemasan ketika sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan sebuah mansion bergaya Eropa klasik. Gerbang tinggi berlapis besi terbuka perlahan, memperlihatkan halaman luas dengan pepohonan rapi dan pancuran air di tengahnya.
Dari mobil itu turun seorang wanita elegan. Postur tubuh tegap, balutan gaun sederhana namun berkelas, serta tatapan tajam penuh wibawa membuat siapa pun tahu-wanita ini bukan orang sembarangan. Chloe Fernandez, bunda dari Xavier.
Ia melangkah anggun menaiki anak tangga marmer putih, di sambut pelayan yang segera menunduk hormat. "Selamat sore, Madam Chloe. Nyonya besar sudah menunggu di ruang tamu."
Chloe hanya mengangguk tipis, bibirnya mengukir senyum kecil. Dalam hatinya, ada kerinduan lama yang menyeruak. Sudah bertahun-tahun ia tak berkunjung ke rumah sahabat lamanya.
"Chloe!" seru Laras dengan suara yang penuh kehangatan, lalu memeluk sahabatnya erat.
"Laras..." Chloe membalas pelukan itu, bibirnya mengembang dalam senyum yang jarang sekali muncul.
"Astaga, kita terakhir bertemu kapan ya? Rasanya sudah berabad-abad."
"Sejak kau pindah ke Eropa dulu... Lihat sekarang, kau masih sama, cantik dan elegan." Laras menepuk bahu Chloe dengan penuh rasa rindu.
"Dan kau juga. Aku benar-benar rindu suasana seperti ini."
Keduanya tertawa, tawa hangat yang mengisi ruangan mewah itu dengan nostalgia. Pelayan segera datang membawa teh hangat dan kue-kue kecil.
"Duduklah, kita punya banyak hal untuk diceritakan." Ujar Laras.
Chloe menatap sekeliling, rumah itu masih sama seperti dulu-megah tapi nyaman. Hanya ada tambahan jejak kehidupan remaja, tas sekolah di meja, buku-buku novel di sofa, dan sebuah gitar di pojok ruangan.
"Anakmu ya?" tanya Chloe sambil melirik gitar itu. Laras tersenyum lembut. "Ya, Angel. Gadis keras kepala, tapi dia anak baik."
Seakan namanya dipanggil oleh semesta, Angel turun dari lantai atas, masih memakai rok sekolah, rambut panjangnya diikat asal. Saat melihat ada tamu, ia sedikit ragu, sebelum akhirnya melangkah ke ruang tamu.
"Mommy?" tanyanya heran, lalu matanya berpindah pada Chloe. "Oh... hallo Bunda."
Laras menoleh pada putrinya. "Sayang, ini sahabat lama Mommy, Bunda Chloe. Sudah lama sekali kita tak bertemu."
Angel segera menunduk sopan. "Senang bertemu lagi, Bunda."