[ PRIVAT ACAK - FOLLOW SEBELUM BACA ]
>>
Hujan turun membasahi jalanan kota, menorehkan kilau basah di aspal yang gelap. Suara Sirene memekik dari kejauhan, bercampur dengan langkah terburu seorang gadis yang berlari di antara gang sempit.
"Aku ha...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
Di tempat lain, Xavier baru keluar dari garasi rumahnya. Mesin motor besar The Black meraung keras ketika ia menyalakannya. Dari kaca spion, ia sempat melihat Olivia keluar rumah sambil melambaikan kartu kredit di tangannya, wajahnya penuh kemenangan. Xavier hanya mendengus malas.
“Dasar bocah,” gumamnya sebelum melajukan motor menuju markas The Black.
Di jalan, pikirannya melayang ke satu nama. Angel. Gosip yang beredar di sekolah tentu sudah sampai ke telinganya. Dan meski ia biasanya tak peduli dengan omongan orang, kali ini berbeda. Entah kenapa, gosip itu justru membuat dadanya terasa sesak.
“Angel…,” gumamnya pelan, sebelum menarik gas lebih dalam.
Keesokan harinya, suasana sekolah lebih ramai dari biasanya. Semua orang seolah hanya membicarakan satu hal, Angel dan Xavier.
“Lo tau nggak, katanya mereka sering bareng di luar sekolah.”
“Eh serius? Gue kira gosip doang.”
“Ya kali bohong, gue pernah liat Xavier nganterin Angel pakai motor gede.”
“Gila, cewek baru pindahan bisa langsung ngegandeng Xavier. Keren banget sih.”
Bisikan-bisikan itu terdengar jelas saat Angel berjalan melewati koridor. Matanya menatap lurus ke depan, ekspresi wajahnya dingin. Tapi telinganya tak bisa menolak semua omongan itu.
Hana yang berjalan di sampingnya mendengus keras, jelas sudah tak sabar. “Gue sumpah pengen banget nyabut lidah orang-orang ini, Gel.”
“Biarin,” jawab Angel singkat. “Semakin lo tanggepin, mereka makin semangat ngomongin.”
Namun suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. Jelas gosip itu membuatnya jengkel.
Di ujung koridor, sekelompok cewek menunggu. Salah satunya, Bianca—cewek populer yang diam-diam memang iri pada Angel.
“Eh, yang ditunggu akhirnya lewat juga.” Bianca melipat tangan di dada, suaranya cukup keras untuk didengar banyak orang. “Gimana rasanya jadi pacarnya Xavier?”
Koridor mendadak hening. Semua mata tertuju pada Angel.
Angel menghentikan langkahnya, menoleh pelan dengan tatapan tajam. “Lo bilang apa barusan?”
“Jangan pura-pura nggak tau.” Bianca tersenyum miring. “Satu sekolah udah tau, kok. Angel—cewek pindahan—berhasil ngerebut Xavier. Hebat ya, cepet banget.”