[ PRIVAT ACAK - FOLLOW SEBELUM BACA ]
>>
Hujan turun membasahi jalanan kota, menorehkan kilau basah di aspal yang gelap. Suara Sirene memekik dari kejauhan, bercampur dengan langkah terburu seorang gadis yang berlari di antara gang sempit.
"Aku ha...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
Lima tahun kemudian.
Langit Jakarta masih sama-tenang, biru, dengan awan tipis yang bergerak malas. Danau di pinggiran kota itu tidak banyak berubah. Airnya masih berkilau, memantulkan cahaya matahari sore yang hangat. Bedanya, kali ini tidak ada luka, tidak ada darah, tidak ada rasa takut.
Angel turun dari motor hitam yang kini tampak lebih elegan daripada dulu. Ia melepas helm, rambutnya jatuh tertiup angin, dan senyum kecil terukir di wajahnya.
Semuanya terasa familiar-angin sore, aroma tanah, dan suara air yang bergelombang lembut di tepi batu tempat ia dulu duduk.
"Masih suka ke sini diam-diam, ya?" Suara itu datang dari belakang.
Angel menoleh, menemukan Xavier berjalan mendekat dengan senyum yang sama seperti dulu-tenang, tapi hangat. Hanya saja kini ada ketegasan di sorot matanya, bukan lagi amarah.
"Gue nggak pernah berhenti suka tempat ini," jawab Angel pelan. "Tempat ini saksi dari banyak hal."
"Termasuk waktu lo bilang gak akan suka sama gue?" Xavier menggoda, nada suaranya lembut.
Angel terkekeh. "Dan lo janji bakal tetap di sini, apa pun yang terjadi."
Xavier melangkah lebih dekat. "Janji itu masih berlaku."
Mereka duduk di batu besar yang sama seperti dulu. Angin sore berembus lembut, membawa aroma air dan rumput basah. Semuanya terasa damai-seolah dunia benar-benar memberi waktu khusus untuk mereka berdua.
"Gue nggak nyangka, ya," ucap Angel tiba-tiba. "Dulu kita Cuma dua orang yang nggak tahu arah, sekarang malah bisa hidup dengan tenang."
Xavier menatapnya lama. "Kita Cuma butuh waktu buat ngerti, Gel. Hidup nggak selalu tentang siapa yang menang... tapi siapa yang tetap ada."
Angel terdiam. Ia menatap mata Xavier, dan dalam keheningan itu, tak perlu kata-kata lagi. Semua yang pernah mereka lalui-pertempuran, kehilangan, luka-seolah lenyap, digantikan oleh kedekatan yang sederhana tapi nyata.
Angin bertiup pelan, membawa helai rambut Angel menutupi wajahnya. Xavier mengangkat tangan, menyingkirkannya dengan hati-hati. Sentuhannya lembut, tapi cukup untuk membuat jantung Angel berdebar.
"Xav..." bisiknya nyaris tak terdengar.
"Hm?"
"Gue... nggak tahu harus ngomong apa."
Xavier tersenyum kecil. "Kadang lo nggak perlu ngomong apa-apa."
Ia menunduk perlahan, menatap dalam mata Angel. Waktu terasa berhenti sesaat-sebelum akhirnya bibir mereka saling bertemu dalam ciuman pertama yang sederhana, tapi penuh makna. Bukan ledakan, bukan drama-hanya kehangatan yang perlahan menenangkan luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.
Angel memejamkan mata, merasakan hangatnya napas Xavier yang begitu dekat. Untuk pertama kalinya, semuanya terasa tepat.
Ketika mereka berpisah, Angel masih menunduk, pipinya memanas. Xavier tertawa kecil. "Itu... salah satu keputusan terbaik yang pernah gue ambil."
Angel memukul pelan bahunya. "Nggak usah sotoy."
"Gue serius," jawab Xavier sambil menatapnya. "Selama ini gue nyari alasan buat tetap bertahan. Sekarang gue nemuin alasannya."
"Dan alasannya?" tanya Angel, pura-pura tidak tahu.
Xavier tersenyum lembut. "Kamu."
Angel tertawa kecil, tapi kali ini tidak menolak. Ia hanya menatap danau di depan mereka-tempat di mana segalanya dimulai, dan berakhir dengan tenang.
Langit mulai berwarna jingga, dan di bawah langit yang sama, dua hati yang pernah hancur kini belajar mencintai tanpa takut lagi.
Mungkin, inilah akhir yang mereka perjuangkan sejak awal. Bukan kemenangan, bukan kekuasaan, tapi kedamaian. Dan cinta yang akhirnya menemukan jalannya sendiri.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
__________________________
Mari kita ramaikan>>
kritik dipersilahkan yaa, Dan jangan lupa untuk vote dan komennya>>
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.