[ PRIVAT ACAK - FOLLOW SEBELUM BACA ]
>>
Hujan turun membasahi jalanan kota, menorehkan kilau basah di aspal yang gelap. Suara Sirene memekik dari kejauhan, bercampur dengan langkah terburu seorang gadis yang berlari di antara gang sempit.
"Aku ha...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
Nama Angel sudah terlanjur jadi buah bibir. Di sekolah, ia jadi gosip paling hangat karena kedekatannya dengan Xavier. Di jalanan, Black Devil yang dipimpinnya dianggap ancaman sekaligus tantangan. Dan kini, tanpa ia sadari, ada mata lain yang menaruh minat—bukan hanya karena kekuatannya, tapi juga karena pesona berbahaya yang melekat pada dirinya.
Angel mungkin mengira bisa menghindari keributan, menolak tantangan The King demi menghindari konsekuensi Opa Bams. Tapi keputusan itu justru membuatnya semakin diperhatikan. Bagi sebagian orang, Angel bukan sekadar pemimpin Black Devil. Ia adalah target yang menarik.
Sepulang sekolah, Angel dan gengnya memutuskan untuk mampir ke mall lebih dulu. Ide itu tiba-tiba saja terlintas di otak mungil Hana. Setibanya di mall, mereka memarkir mobil masing-masing lalu masuk.
“Kita beli gelang couple yuk, siapa tahu ada yang bagus,” ajak Hera.
Yang lain hanya mengangguk, mengikuti langkah Hera menuju toko pernak-pernik. Mereka sibuk memilih gelang, kalung, hingga aksesori lain. Setelah puas, bukannya pulang, kelima gadis itu justru sepakat meluncur ke markas.
Lima mobil sport mewah melaju rapi di jalan raya. Aventador hitam milik Angel berada di barisan depan, diikuti Porsche putih Hara, Ferrari biru Semi, Porsche hitam Hera, dan terakhir Aventador pink Hana.
Sampai di markas, mereka memarkir mobil sembarangan lalu masuk. Suasana di dalam sudah ramai oleh anggota Black Devil.
“Wih, lima sultan baru datang!” sahut salah satu anggota.
“Sultan ndasmuu,” cibir Hana sambil menjatuhkan diri di kursi di sebelah Semi.
Seorang cewek, Aira Putry, duduk di samping Angel dan menatapnya intens. Angel hanya melirik malas.
“Kenapa?” tanyanya datar.
“Ada yang nantangin war. Gimana?” suara Aira terdengar serius.
Hana langsung menoleh. “Siapa? Tumben banget ada yang ngajak war.”
“The King. Mereka yang nantang,” jawab Aira pelan.
Angel terdiam sejenak, pikirannya sibuk menimbang. Jika menerima, konsekuensinya bisa berat. Opa Bams pasti akan murka. Dengan mata terpejam, ia menghela napas kasar.
“Tolak. Bukan karena gue takut, tapi konsekuensinya ribet kalau kita terima.”
Aira mendengus. “Serius lo, Gel? Padahal gue udah panas banget. Mereka bilang kita Cuma geng gaya-gayaan.”