Ahhhh, udah tunggu apa lagi?
Kalau sudah nggak sabar menanti kabar Kenan dan Gama, segera ke Karyakarsa.
Aku tunggu.
Waktu berjalan dengan cepatnya, sudah tiga pekan Freya mengenal dekat keluarga sahabatnya, akrab dengan Amanda dan mulai sering mengobrol hal-hal apapun dengan Kenan. Sekarang waktunya Hari Besar itu tiba, semua orang menyambut dengan penuh suka cita, mungkin. Sebab ada pula orang-orang yang sedang ditinggalkan sementara waktu dan hatinya menimbun rindu teramat dalam, rasa bahagia terasa kurang lengkap menurut mereka.
Selesai shalat Idul Adha, Freya sempat melihat prosesi peyembelihan hewan kurban di halaman masjid dekat apartemennya, ia rindu masa kecil yang menyaksikan semua itu dengan mata telanjang. Tanpa takut, tanpa khawatir hewan itu akan lari dan mengejar-ngejarnya. Namun setelah sebesar sekarang, ia malah tidak tega melihat erangan kambing yang akan disembelih, akhirnya dia kabur ke apartemennya dan istiahat sebentar sambil menunggu telepon dari ibunya.
Ibu menanyakan kabarnya, serta menanyakan apakah dia sudah baik-baik saja sekarang setelah berpisah dengan Vian. Dan akhirnya Freya sedikit demi sedikit berhasil menggeser sosok itu dari dalam hatinya. Sebab kesibukannya sekarang, ia jadi jarang memikirkan soal Vian, meski kelebatan kenangan kadang timbul dan tenggelam. Tidak bisa ia pungkiri kalau Vian adalah orang yang spesial dulunya, pacar pertama dan sosok yang pernah mencurahkan banyak perhatian padanya. Sekarang perhatian itu tidak ada lagi, Freya merasa bebas dari aturan Vian, tetapi juga sedih karena tak ada lagi yang menegurnya jika dia melakukan kesalahan-kesalahan kecil. Dia memang harus menerima konsekuensi ini, mendapat kebebasan, tetapi juga kehilangan perhatian dari Vian.
"Sampai kapan lo kerja di tempat Gama?" tanya Jena, dia masuk ke kamar dan menutup pintu sekali sentak.
Freya memutar tubuh dari kursi riasnya. "Tengah bulan. Sampai orangtuanya balik, Jen."
Jena berdiri di sampingnya, menyandarkan tubuh ke sisi meja. "Lo mau pergi?"
"Hem." Freya sedang memoles lipstick pink ke bibirnya.
"Sama Gama?"
"Ho-oh."
"Kalian nggak pacaran, kan?" Jena menatap temannya lekat, tangannya sudah terlipat di dada. "Fre, kalian beneran sahabatan doang, serius?"
Freya menutup lipstick-nya. "Iya, lah. Gue sama dia memang cuma sahabatan dari dulu," jawabnya mantap.
"Laki-laki dan perempuan sahabatan itu mustahil, nggak ada yang abadi, Fre."
Freya menatap Jena tak mengerti. "Tapi," dia berpikir keras, apa selama ini ada yang salah? persahabatannya baik-baik saja. "Nggak ada apa-apa. Dia sama gue mustahil lebih dari itu. Dia itu Gama, bukan tipe yang gue mau."
"Tapi waktu dia mampir ke sini, gue ngerasa lo paham semua tentang dia, bahkan gula berapa sendok buat kopinya aja lo sampai tahu!" ujar Jena keukeuh.
"Tahu belum tentu ada sesuatu, kan? Sekadar tahu dan perhatian apa salahnya sih?" Freya bangun dari duduknya, ia meraih tas talinya di atas kasur.
"Lama-lama perhatian itu jadi candu, Fre. Kalau bukan lo yang sakit nantinya, dia yang sakit hati. Pasti itu."
"Jangan ngaco deh!"
"Kita lihat saja nanti."
Freya menatap Jena dengan tegas, seakan berusaha meyakinkan sekali lagi kalau dia dan Gama memang hanya bersahabat. Murni dan tulus. "Nggak bakal terjadi itu, jangan ngelantur deh lo, Jen." Freya memakai tasnya, bercermin sekali lagi. Dirasa sudah cukup baik penampilannya hari ini. Ia memakai gaun lengan pendek, panjang di bawah lutut dengan warna hijau force, ada aksen kancing di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Djournal Town (Done)
ChickLitFreya Terobsesi sekali dengan dunia menulis. Sudah jadi content writer tetap di Djournal Town, tetapi memiliki pekerjaan freelance & membuatnya sering dikejar deadline. Ia adalah gadis lincah, pintar memasak dan cantik! Gama Lawardi Sahabat baik Fre...
