Aksi penolakan Freya kepada Kenan membuat gadis itu urung menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik. Dia berencana untuk menghindar dulu, tapi takdir malah membawanya semakin dekat dengan keluarga itu.
Tadi pagi, dengan sangat sopan Marwa meminta tolong padanya untuk memasak di rumah. Marwa harus menemani suaminya pergi ke luar kota selama tiga hari. Freya benar-benar tidak punya pilihan sama sekali selain memenuhi permintaan dari Marwa. Yang membuat Freya kesulitan adalah, dia tidak hanya disuruh masak, tetapi juga menginap untuk menemani Amanda. Dengan begitu dia pasti bertemu Kenan, laki-laki yang membuatnya bingung, resah, tidak keruan.
Hari pertama berjalan lancar, Kenan bersikap biasa saja, tidak mendendam pada Freya. Freya pun bisa melewati hari itu dengan sangat baik. Namun pada hari kedua, ada kejadian yang membuat Freya agak kesal, Kenan tiba-tiba meminta tolong padanya untuk memasangkan dasi saat suasana rumah sedang sepi, hanya ada Mbok Mi yang memergoki mereka. Buru-buru Freya mendorong tubuh Kenan menajuh saat Mbok Mi lewat di dekat mereka.
"Kamu kenapa dorong aku, Fre?" ucap Kenan agak kaget.
Freya tidak menjawab, ia melanjutkan aktivitas memasaknya. Tangannya memegang spatula. Semoga saja Mbok Mi tidak berpikir macam-macam, Freya sudah gelisah luar biasa.
"Freya? Ini belum rapi..." Kenan memohon sambil melihat dasinya.
"Aku lagi kerepotan, Nan!"
"Sini, biar Mbok saja yang lanjutin masaknya, Mbak. Kasihan Mas Kenan buru-buru berangkat tho?" Mbok Mi berinisiatif membantu, sayangnya Freya tidak suka dengan tawaran itu, yang tidak menguntungkan baginya.
Kenan tersenyum penuh kemenangan, dia menarik Freya menjauh dari kompor.
"Tunggu, aku cuci tangan dulu." Freya menuju wastafel dan Kenan tak mau ditinggal. Kenan terus mengikutinya seperti anak kecil usia lima tahun. Jarak mereka terlalu dekat, Freya susah sekali untuk tidak mencium aroma khas Kenan.
Alhasil hal itu sempat membuat Freya kebanyakan melamun sore ini, sebab aroma Davidoff Kenan masih melekat di hidungnya—membuat dia teringat tawa, senyum, dan wajah lelaki itu. Semuanya terus berputar di dalam kepalanya tanpa bisa ia kendalikan.
Ia sudah selesai memotong wortel, brokoli, buncis dan kembang kol. Freya menarik napas dalam-dalam, lalu mendesah pelan. Sampai kapan Kenan akan mengaduk-aduk isi kepalanya hari ini? Menulis saja ia tidak bisa, seharian ia hanya menatap layar yang kosong. Pemandangan wajah Kenan ada di layar tersebut, membuat Freya seperti orang linglung.
"Masak apa sore ini?" Kenan sudah berdiri di belakang Freya dengan jarak yang lumayan dekat.
Freya tidak kaget sama sekali, barusan telinganya memang menangkap langkah berat seseorang dan ia berhasil menebaknya. Gadis itu sedang menyusun potongan-potongan sayur ke wadah besar. Dalam hatinya menggerutu, kenapa bukan Gama duluan yang datang? setidaknya kalau Gama dulu yang datang, ia bebas mengobrol tentang apapun dan tidak seaneh ini.
"Fre, gue tanya lo masak apa?" ujar Kenan lembut.
"Mau bikin capcay," ucap Freya tanpa menoleh. "Eh, tumben jam segini sudah balik sih?" Freya mengambil pisau dan bakso, siap membelahnya menjadi empat bagian.
Kenan masih diam, tak niat menjawab. Tetapi tindakannya membuat pisau di tangan Freya berhenti bergerak.
"Nan..." Panggil Freya pelan, jantungnya berdesir hangat ketika menangkap sepasang mata Kenan terus mengawasinya. Freya merasa gugup dan kacau.
Kenan masih diam, tidak mengalihkan tatapannya pada objek lain, baginya wajah Freya benar-benar menarik. Dia suka melihat Freya mendadak gusar dan tak tahu mau melalukan apa, seperti sekarang ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Djournal Town (Done)
ChickLitFreya Terobsesi sekali dengan dunia menulis. Sudah jadi content writer tetap di Djournal Town, tetapi memiliki pekerjaan freelance & membuatnya sering dikejar deadline. Ia adalah gadis lincah, pintar memasak dan cantik! Gama Lawardi Sahabat baik Fre...
