Jika dirunut, aktivitas Freya hari ini lumayan padat. Mulai dari bangun tidur, ia beribadah seperti biasanya, membangunkan Amanda, dan mulai membuat sarapan pagi untuk keluarga ini. Siangnya dia harus kembali ke apartemen sebelum pergi ke Senopati karena tidak membawa baju ganti. Lelah, seharian mondar-mandir mengurus banyak hal. Meski begitu dia tidak ingin mengeluh, kegiatannya telah membantunya untuk tidak memikirkan soal Vian.
Berhasil? Lumayan berhasil. 50:50 persen. Fifty-fifty.
Seiring bergulirnya waktu dia pasti benar-benar melupakan Vian meski awalnya terasa sangat sulit, bahkan tersendat. Kalau ada tombol delete dalam kepalanya untuk menghapus semua kenangan tentang Vian, mungkin tombol itu sudah ditekan Freya berulang kali. Tidak nanggung-nanggung, dia juga akan membersihkan recycle bin agar tidak ada sedikit pun memori tentang Vian. Ah, sayang, itu semua hanya ilusi. Sekarang dia harus kembali menyibukan diri dengan hal apapun agar pikirannya penuh dengan jadwal harian, mingguan, tugas dan pekerjaan sehingga bayangan Vian dapat tergeser, tertimbun, lalu hilang.
Setelah rapatnya selesai, Freya langsung mengurus pekerjaannya dengan cepat. Dia dan Kemal sudah mendapatkan beberapa ide untuk isi majalah bulanan, konten web Djournal Town pun sudah diperbaharui. Tinggal beberapa 'PR' lagi yang harus Freya kerjakan tapi nanti, tidak sekarang, sebab dia sedang sibuk mencatat resep masakan yang ingin dia eksekusi malam ini.
Demi menghalau rasa galau, sedih, benci sekaligus marah, sepulang kerja Freya merencanakan banyak hal, termasuk harus berbelanja ke supermarket. Berhadapan dengan banyak barang, merek, sayur, buah, bumbu-bumbu dan minuman kaleng, pasti membuat nama Vian terdorong mundur sehingga perlahan-lahan dia akan lupa. Freya sedang berusaha keras untuk move on. Cara apapun akan ia lakukan, meski harus begadang sampai tengah malam untuk lanjut menulis 'PR-nya' hari ini.
------
Freya bersemangat memasuki pekarangan rumah itu, ia sampai ketika hari masih sore dan dia sudah tak sabar ingin segera mencoba resep baru dari salah satu chef yang ia kenal di Djournal Town. Gulai daging sapi. Ia sudah membeli satu setengah kilo daging sapi segar dan bahan lainnya di supermarket sepulang kerja tadi.
Seperti biasa, pukul lima rumah itu nampak sepi. Rumah besar itu seperti tak berpenghuni. Amanda nampaknya masih membersihkan diri di kamar atau mencuri waktu untuk rehat sejenak sebelum maghrib tiba. Mbok Mi sedang melakukan tugasnya di belakang, melipat dan menyetrika pakaian yang dia cuci tadi pagi. Sementara Nur entah di mana, ART muda itu sering tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
Setelah selesai berkutat dengan resepnya, Freya menuju kamar Amanda. Maghrib sudah lewat lima belas menit lalu dan Amanda masih tertidur di karpet lantai, lengkap dengan setelan putih abu-abunya yang masih melekat di badan.
Freya menepuk pelan pipi Amanda. "Manda...?"
"Hm." Amanda menggumam pendek, ia membalikan badan, mengerang manja dan tidak mau membuka mata.
"Magriban dulu, Sayang...," ujar Freya lembut.
Seketika Amanda sadar ini suara siapa.
"Fre!" Dia membelalakkan mata, bahagia melihat wajah teman abangnya ada di sini. "Iya. Sudah jam berapa?" Amanda mengucek matanya dengan punggung tangan, rambutnya terlihat berantakan.
"Enam ... tujuh belas." Jawab Freya melirik jam tangannya.
"Aku ketiduran tadi, Fre." Amanda langsung bangkit dengan tertatih, ia mengambil handuk di dekat pintu kamar mandinya.
"Kita shalat jamaah aja ya? Aku juga belum, Manda." Ujar Freya yang bergegas mengambil wudhu di kamar mandi luar.
Amanda mengangguk sambil tersenyum senang. Kadang ia membayangkan bagaimana rasanya punya kakak perempuan, diperhatikan dan disayang seperti barusan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Djournal Town (Done)
Genç Kız EdebiyatıFreya Terobsesi sekali dengan dunia menulis. Sudah jadi content writer tetap di Djournal Town, tetapi memiliki pekerjaan freelance & membuatnya sering dikejar deadline. Ia adalah gadis lincah, pintar memasak dan cantik! Gama Lawardi Sahabat baik Fre...
