Malik mendatangi kamar anaknya setelah acara makan malam di luar selesai, mereka sekeluarga makan malam di restoran hotel bintang lima dengan mengundang Freya dan Dela. Khusus membahas hubungan serius Kenan dan Freya ke depannya.
Ada yang ingin Malik tanyakan meski ia menyadari hal ini cukup lama, sejak makan malam pertama yang dibuat oleh Freya di rumah ini. Malam itu Malik ingat sekali, Kenan sangat diam, lebih diam dari biasanya ketika mereka berada di meja makan. Entah karena ada orang lain di meja makan itu, atau karena masakan yang ia makan terlihat berbeda. Waktu itu Malik tak ingin lekas menyimpulkan, biarlah waktu yang mengungkap perasaan.
"Jadi kenapa kamu suka Freya, Nan?" tanya Malik ingin tahu.
Kenan tidak langsung menjawab pertanyaan Malik, dia hanya tersenyum sekilas. "Dia..." Ia menarik napas, tak percaya dengan pendapatnya sendiri; cantik. Bukan, bukan itu jawabannya. Banyak gadis cantik yang lalu lalang di bumi Jakarta ini, yang jadi kliennya, teman-teman SMA dan kuliahnya, sepupunya, semuanya cukup cantik, tetapi cantik itu relatif, kan? Kalau yang mampu membuat dia tertarik memang tak banyak.
Ah, mungkin jawabannya adalah ini, Kenan sempat tersenyum sebelum mengungkapkannya. "Ehm, Freya supel dan baik, Pa. Aku nggak perlu banyak alasan buat suka sama dia, bukankah jatuh cinta se-simple itu?" akhirnya suara Kenan terdengar juga.
Malik tersenyum menanggapi jawaban anaknya. "Dia mirip Mama kamu ya, Nan?"
Maksudnya adalah ibu kandung Kenan, yang melahirkan Kenan ke dunia. Meski Kenan tidak melihat rekam jejak sang Mama karena meninggal diusia muda, tetapi dia sering mendengar cerita tentang mamanya sewaktu masih kecil, entah itu dia dengar dari Malik langsung atau kakek dan neneknya kala masih hidup.
"Iya, Pa." Kenan mengangguk setuju. Mereka memang mirip.
"Papa kayak kamu, nggak akan membiarkan gadis baik-baik lolos begitu saja." Malik menepuk bahu anaknya. "Kalau orangtuanya sudah setuju sama kamu, pernikahan secepatnya saja, Papa nggak suka kalian pacaran lama-lama. Nggak guna juga." Malik tertawa renyah, sejujurnya ia jengah melihat orang pacaran.
"Gama sudah cukup jadi contoh yang buruk dalam menjalin hubungan, jangan tiru dia, Nan." Ujar Malik lagi. Membuat Kenan tertawa menanggapi. "Lho, iya kan? Kalian sudah cukup dewasa untuk memikirkan pernikahan. Bahaslah dengan Freya lebih dalam, kalian cocok kok!"
"Makasih, Pa. Akan Kenan coba temui keluarganya juga." Jawab Kenan sembari mengangguk.
Papanya memang benar, kalau sudah cocok dan mendapat restu, ngapain harus pacaran lama-lama? Lagipula Kenan sudah mantap melanjutkan ke jenjang itu, dia siap bertanggungjawab untuk seseorang yang akan dia nikahi nantinya. Ia juga siap mendidik istrinya, apalagi jika mengingat bahwa perempuan itu Freya. Kenan makin semangat melakukan apapun agar pernikahannya segera terlaksana. Ia ingin tumbuh bersama seseorang yang ia cintai sedalam-dalamnya. Freya.
-----------
Dua bulan kemudian...
Di taman belakang kediaman Malik, Amanda menunggu Freya. "Fre! Sini." Amanda menepuk tempat kosong di sebelahnya ketika sosok Freya terlihat di pintu belakang.
Freya berjalan mendekat, wajahnya tampak merona. Hatinya pasti sedang musim semi.
"Ah... Freya yang aku tunggu akhirnya datang juga!" jerit Amanda, ia sungguh bahagia pagi ini.
"Nda, dia calon kakak iparmu lho. Panggil yang benar!" hardik Gama gemas. Ia sudah ada di sana sejak setengah jam lalu, menikmati udara pagi yang sejuk bersama Amanda.
"Iya... Kak Fre, deh." ujar Amanda malu-malu. Pipinya bersemu merah. "Kepada calon kakak ipar harus hormat," tambahnya dengan seringai jail. Tertular oleh Gama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Djournal Town (Done)
Chick-LitFreya Terobsesi sekali dengan dunia menulis. Sudah jadi content writer tetap di Djournal Town, tetapi memiliki pekerjaan freelance & membuatnya sering dikejar deadline. Ia adalah gadis lincah, pintar memasak dan cantik! Gama Lawardi Sahabat baik Fre...
