Freya buru-buru keluar dari restoran setelah pamit pada rekan kerja barunya. Mobil Kenan ada di tepi jalan besar, tepat di depan restoran seafood dan sedang menunggunya. Freya sudah berusaha menolak jemputan itu dengan banyak alasan, tapi tidak mempan sama sekali. Dia sendiri baru selesai meeting dengan salah satu editor majalah modern yang terbit setiap bulan, Freya akan menulis beberapa artikel di sana. Ini adalah kegiatan freelance-nya yang lain, yang sedang dia kejar habis-habisan.
"Lama nunggunya?" Freya meletakkan map berkasnya ke kursi belakang. Melihat wajah Kenan sekilas, terlihat agak kusut. "Maaf ya, lain kali nggak usah jemput. Jangan maksa makanya," sindir Freya sambil memasang seatbelt-nya.
Kenan hendak menjawab ucapan Freya, tapi ujung lidahnya tidak bergerak sama sekali saat mengamati wajah perempuan itu agak berbeda dari biasanya. Freya terlihat ... aneh.
"Lo ngapain pake blush on sih." Protes Kenan yang tak suka melihat Freya berubah seperti ini, terlalu berlebihan menurutnya. Baginya, wajah Freya terlihat baik-baik saja dan tidak pernah aneh, kecuali saat dandan seperti ini, tidak cocok.
"Tadi meeting." Freya memandang dirinya di cermin depan, menarik tisu dari konsol dan menghapus sisa make up-nya. Sayang, hanya sedikit yang terhapus karena ia tidak memakai face cleancer.
Kenan sudah menyetir mobilnya, berjalan pelan menuju Jakarta Pusat.
Freya yang sudah selesai dengan kegiatannya, kini duduk bersandar, pandangannya lurus ke jalanan. Nggak macet-macet banget, pikirnya.
"Meeting saja harus dandan? Nggak wajib, kan?" tegur Kenan. Nadanya terdengar ketus dan sedikit posesif.
"Perlu, Nan. Biar nggak kayak zombie lah," Freya mengajak bercanda, tak menyadari nada cemburu dari Kenan. "Gue pucat banget kalau lagi pusing mikirin kerjaan dan stres, hantu saja kalah pucat." Tambah Freya sambil terkikik pelan. Ia teringat pada Kemal yang pernah bilang begini padaya, "Freya sudah kayak zombie, pucat dan menyeramkan kalau lagi menghadapi banyak tulisan."
"Biar menarik gitu? Bair ada yang ngelirik?" tanya Kenan yang keluar dari topik candaan Freya.
"Kok jahat banget ngomongnya. Gue kan sumbang ide, bukan fisik!" sahut Freya tidak terima.
"Sori. Sori ... tapi lo bagusan natural aja, Fre. Nggak usah aneh-aneh deh." Nada protes itu terdengar menuntut, ingin dituruti.
Freya sendiri tidak suka terlalu banyak dikomentari. Lagi pula, laki-laki mana mengerti urusan beginian, makeup. "Gue tuh perempuan ya, suka-suka dong mau pakai blush on atau bulu mata extension sekalian!" ujarnya tegas.
"No!" Kenan menolak mentah-mentah ide bulu mata barusan, suaranya naik satu oktaf. "Yang tebel dan serem itu, kan? Enggak ya. Gue nggak akan setuju." Kenan berusaha menahan suaranya agar tak terlalu keras. Tapi tetap saja reaksi Freya terlihat kaget. Benar, gadis itu kaget karena Kenan kelewat batas dengannya.
"Nan, memangnya gue butuh persetujuan lo apa?" tanya Freya dengan nada sinis.
Kenan diam beberapa detik, sebelum akhirnya mengeluarkan bunyi pelan dari mulutnya. "Iya, Fre."
"Lho, lo siapa gue? Mantan majikan doang, kan?" Freya menarik napas dalam-dalam. "Lagian pasang bulu mata, sulam alis, sulam bibir, itu nggak akan merusak cita rasa masakan gue kok!" Freya melupakan larangan ibunya kalau dia tidak boleh melakukan semua itu. Ibunya selalu mewanti-wanti agar dirinya selalu mensyukuri apapun bentuk fisik yang telah Allah berikan kepadanya, dan dilarang merubah ciptaanNya, bahkan cukur alis saja ibunya melarang.
Kenan membayangkan semua kegiatan mempercantik diri yang barusan dikatakan Freya, dan ia justru merasa jijik dengan apa yang ada di kelapanya. Wajah Freya yang bersih dan segar itu mau dipermak seperti nenek lampir? Dia tidak akan mengizinkan sampai mati sekali pun. Sebagai lelaki memang seringnya senang menikmati perempuan cantik dengan segala atribut make up-nya, tetapi lain dengan Kenan yang lebih suka melihat Freya biasa saja, make up natural saja cukup. Sungguh, dia tidak berbohong.
KAMU SEDANG MEMBACA
Djournal Town (Done)
ChickLitFreya Terobsesi sekali dengan dunia menulis. Sudah jadi content writer tetap di Djournal Town, tetapi memiliki pekerjaan freelance & membuatnya sering dikejar deadline. Ia adalah gadis lincah, pintar memasak dan cantik! Gama Lawardi Sahabat baik Fre...
