Kamu tim Kenan atau Gama nih?
Suka karakter yang mana?
Buat yang mau namatin duluan, mampir ke karyakarsa aja ya guys...
Pagi ini Freya sangat pontang-panting ketika membuat sarapan. Ia bangun terlambat, pukul lima lewat tiga puluh menit. Semalaman ia begadang lagi karena harus menyelesaikan artikel dari klien freelance-nya.
Nasib tukang ketik, pikirnya. Kendati demikian dia tidak menyesal sama sekali dengan keputusannya hanya jadi penulis content dari situs milik Djournal Town. Dia lumayan introvert, jadi pekerjaan menulis memang paling cocok dengannya.
Freya sudah rapi dengan pakaian kerjanya, ia mengenakan celana putih dan kemeja mocca lengan pendek yang dimasukan. Ia memakai apron dongker dan saat ini ia sedang membilas gelas bekas susu yang diminum Amanda sebelum berangkat sekolah.
"Lo hari ini ke Senopati, Fre?" tanya Gama sambil mencomot roti bakarnya. Dua hari kemarin Freya kerja dari rumah, tidak pergi kemana pun.
Freya menoleh sebentar pada Gama. "Nggak, ke Kemang sih."
"Kemana? Kemang?" bukan suara Gama.
Freya menoleh lagi ke belakang punggungnya, melihat Kenan sedang merapikan kancing kemejanya. "Iya."
Gama tak suka Kenan mendadak muncul dan ikut obrolan pagi ini. Ia sering menangkap Kenan dan Freya mengobrol berdua, baik di ruang tengah atau di meja makan seperti ini. Kenapa pemandangan itu mengusik Gama? Ia juga tidak tahu jelasnya.
"Manda mana, Nan?" tanya Gama setelah menggigit ujung roti bakarnya.
Kenan menatap Gama balik. "Lho, sudah diantar Mang Opik, kan."
"Fre, Manda sudah sarapan?" tanya Gama khawatir.
"Sudah, pagi tadi gue buatin salad buah kok." Freya mencopot apronnya, meletakkan di tempat seharusnya. "Eh, duluan ya semua." Dia meraih blazer abu-abu dan tasnya yang ia letakkan di kursi.
"Ke Kemang, kan?" Kenan mencegatnya.
"Iya."
"Bareng aja sekalian. Gue juga mau ketemu klien di sana." Kenan menyunggingkan senyum tipis. "Sebentar ya," Kenan tidak meminta persetujuan Freya, dia malah setengah berlari ke atas untuk mengambil kunci mobil dan tas kerjanya, tentu saja yang isinya laptop dan berkas untuk penawaran kerja sama dengan kliennya nanti.
Gama menyesap susu hangat, menatap Freya dari ujung rambut yang rapi, wajah yang bersih dan segar. Tunggu, dia melihat ada gradasi berwarna cerah di pipi sahabatnya itu. "Fre, lo ngapain pakai dandan segala. Tumben!" celetuknya agak heran.
Seumur-umur dia sadar kalau Freya dandan pasti hanya di pesta kawinan saja, bukan saat kerja seperti ini, atau dia yang kurang memperhatikan sahabatnya dengan jeli?
"Lho, gue kalau mau ketemu klien kan gini biasanya."
"Masa?"
"Iya. Pas sudah kena wudhu dan ketemu lo sorenya udah nggak ada bekas lah, Ga." Freya menanggapi dengan santai. Ia tidak sadar kalau Gama melihatnya sambil terus tersenyum, aneh.
"Yuk!" Kenan mengajak Freya, ia sembari memasang dasinya dan berjalan ke meja makan. "Sebentar...," katanya lagi, ia kerepotan memasang dasi dengan satu tangan disampiri jas hitamnya.
"Perlu bantuan?" Freya sudah inisiatif membantu. Tangannya menarik dasi Kenan dan membuat simpul yang baik. Dia pernah belajar memasangkan dasi untuk Kemal, temannya di kantor, dan ia masih ingat betul bagaimana membuat simpul dasi yang bagus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Djournal Town (Done)
ChickLitFreya Terobsesi sekali dengan dunia menulis. Sudah jadi content writer tetap di Djournal Town, tetapi memiliki pekerjaan freelance & membuatnya sering dikejar deadline. Ia adalah gadis lincah, pintar memasak dan cantik! Gama Lawardi Sahabat baik Fre...
