Pagi itu setelah shalat subuh, Kenan mengaji dan berdoa untuk kedua orangtuanya yang sedang berada di negeri jauh. Biasanya dia membangunkan Amanda untuk subuhan, hari libur seperti ini adiknya pasti lelap tidurnya dan tidak memasang alarm. Tapi teringat bahwa Freya menginap, rasanya tidak mungkin Freya sama lelapnya seperti Amanda, kan? Gadis itu sudah lebih dewasa dari adiknya.
Kenan menuruni anak tangga dengan langkah pelan, hari masih pagi dan semua ruangan sungguh gelap. Saat tinggal beberapa deret anak tangga lagi untuk sampai di lantai dasar, lampu ruangan tiba-tiba saja menyala.
Kenan melihat seseorang bediri di dekat meja telepon, menekan beberapa saklar lain dan membuat ruangan yang tadinya gelap jadi terang. Kenan lanjut berjalan pelan, matanya masih awas mengamati sosok yang sedang menguap dengan rambut sepunggung yang terlihat wavy. Khas orang baru bangun tidur.
"Eh, Nan?" Freya bersuara ketika memutar badan.
Kenan hanya mengangguk, ia lanjut berjalan menuju rak sepatu di sudut, mengambil satu yang bertali berwarna biru gelap bergaris putih.
"Mau jogging?" tanya Freya yang memperhatikan kostum Kenan pagi ini. Kaos polos lengan pendek dengan celana training panjang warna hitam.
"Iya." Jawab Kenan, yang sempat melirik wajah Freya. Mukanya sedikit sembab, mungkin khas bangun tidur bukan karena semalaman menangis setelah berdebat dengan Gama. Sesaat mulutnya ingin bertanya, "lo nggak apa-apa?" tapi ia menahan diri, melanjutkan aktivitas menali sepatunya.
Freya mengamati punggung Kenan, juga ingin bertanya sesuatu. "Nan, hari ini mau dimasakin apa?"
Kenan menoleh, baru selesai menali sepatu kanannya. "Terserah saja."
Terserah kan bukan jawaban, pikir Freya. Percuma dong dia tanya, iya nggak?
"Lagi nggak ada ide sih. Kalian maunya apa? Atau biasanya kalau weekend makan apa gitu?" Freya tidak tahu lagi harus masak apa, belum sepuluh hari saja rasanya sudah bingung. Kalau dia masak untuk diri sendiri sih gampang, telur dadar pun jadi, dia bukan pemilih makanan dan tidak punya alergi pada seafood, yang penting makanan tersebut halal dan belum kedaluarsa.
Kenan sudah selesai mengikat kedua sepatunya, dia berdiri. "Di kulkas ada apa?" tanyanya balik. Sama-sama tak ada ide.
"Nah!" Freya baru ingat kalau bahan makanannya pun habis. "Nothing!" ia nyengir kuda.
Kenan melihatnya sekilas sebelum berjalan ke arah pintu keluar, Freya mengikutinya. "Di depan biasanya ada tukang sayur keliling. Langganan kompleks ini, bisa nunggu di depan kalau mau. Pagi-pagi kok orangnya lewat." Jelas Kenan sambil memutar kunci dan membuka pintu depan. "Suruh Nur aja yang beli," imbuhnya.
Seketika udara dari luar menerobos masuk, melewati celah sedang antara pintu dan dinding. Angin berembus cepat, membuat wajah Freya terasa dingin. Ada semburat jingga di langit, tanda waktu subuh sudah mau habis.
"Oke. Gue tunggu di depan nanti. Dingin." Freya melipat tangan di depan dada, ia hendak masuk mengambil jaket dan dompet untuk belanja.
Kenan tidak menjawab, ia melangkah menjauhi halaman rumah. Memulai dengan pemanasan kecil di jalan depan rumah. Kompleks perumahan ini sangat luas, ada taman dan lapangan basket di bagian kanan, tentu saja Kenan barlari ke arah sana. Pada Minggu pagi seperti ini, beberapa orang akan keluar rumah untuk berolahraga. Kalau sedang tidak sibuk, biasanya Malik mengajak Amanda bermain bulu tangkis di depan rumahnya sendiri, lalu Marwa ikut senam kecil di area kompleks sampai pukul delapan.
-------
Uang belanjaan akan ditransfer oleh Gama setiap Minggu, kalau ada sisa maka Freya akan menahannya dulu, tambahan untuk hari dan Minggu berikutnya. Mbok Mi biasa dititipi Freya untuk belanja sayur, lauk dan buah, tapi kemarin dia memang selupa itu. Terlalu sibuk dengan kehidupan pribadinya sendiri sampai lupa mengecek isi kulkas. Syukurlah, dia bertemu tukang sayur langganan keluarga ini. Pagi-pagi Freya sudah belanja banyak, tiga kantung dia bawa sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Djournal Town (Done)
ChickLitFreya Terobsesi sekali dengan dunia menulis. Sudah jadi content writer tetap di Djournal Town, tetapi memiliki pekerjaan freelance & membuatnya sering dikejar deadline. Ia adalah gadis lincah, pintar memasak dan cantik! Gama Lawardi Sahabat baik Fre...
