Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

7 Kamu Tak Harus Tahu

495 69 2
                                        

Kepala Freya benar-benar pusing, sepuluh menit sudah ia mondar-mandir tidak jelas di kamarnya sendiri. Ia sudah membasahi badan dari ujung kepala sampai ujung kaki, masih belum bisa meredakan separuh emosi dan menghilangkan kepusingannya. Ini tentang housemate-nya, Lia akan pergi sebenar lagi, tinggal menghitung hari dan mereka belum menemukan solusi selain dia harus ikhlas bahwa uang sewa apartemen bulan depan akan bertambah. Berlipat-lipat!

Melayanglah sebagian uang yang sedang dia tabung di bank!

Sejak SMA dia belajar hidup mandiri, berusaha tidak merepotkan siapapun termasuk orangtuanya. Ia tidak meminta uang jajan pada orangtuanya meski keduanya sama-sama mampu membelikan ponsel baru setiap semester berganti, membelikan kendaraan roda dua berupa motor matic untuk transportasi Freya waktu SMA.

Dulu, Freya rajin membantu-bantu dan kerja serabutan di restoran milik keluarga neneknya, mulai jadi tukang nyapu dan ngepel, bagian bersih-bersih, cuci piring, sampai asisten koki di dapur. Apa saja ia kerjakan. Tidak heran jika dia sudah bisa memasak sejak masuk SMP. Dan dari kegiatan serabutannya itu dia memperoleh upah sebagai uang jajan.

Tok! Tok! Tok!

Ada yang mengetuk pintu kamarnya dengan keras, Freya berjalan terburu ke pintu dan membuka kuncinya. Jena yang berdiri di balik pintu itu.

"Apa, Jen?" tanya Freya malas. Semoga emosi yang sedang disusutkan tidak mulai memuncak lagi. Masa iya dia harus mandi dua kali?

"Gue putuskan untuk ajak Max ke sini, Fre!"

Mendengar itu Freya tercengang sesaat. "Nggak salah lo!" bola mata Freya nyaris keluar. "Ini Indo, bukan Amrik, bukan barat!" lagi-lagi bola matanya makin melebar, suaranya meninggi karena shock.

Seumur-umur Freya selalu menjaga diri untuk tidak tinggal satu atap dengan laki-laki yang bukan anggota keluarganya. Ibunya juga penah bilang alasan dia mati-matian melarang putrinya tinggal satu atap dengan lelaki manapun kalau belum menikah.

Karena itu tidak aman, setan ada dimana-mana, nasihat ibunya.

"Mau gimana? Gue sendiri lagi krisis, kan? Lo tahu biaya rawat tipes gue kemarin? Masih hutang sama Tante dan Om." Jena memohon, ia menatap Freya dengan binar mata yang surut, tak ada ide lain di kepalanya saat ini.

"Ya, kenapa harus Max sih!" Freya tidak terima.

"Ya ... terus siapa dong, Fre?" Jena balik bertanya. "Lagian Max juga dapat kerjaan dekat sini. Jadi efisien buat dia, Fre."

Max, lelaki itu adalah tunangan Jena. Mereka berdua sama-sama berwajah separo Indonesia dan separonya lagi entah keturunan negara mana, Freya tidak pernah bertanya terlalu jauh tentang kerhidupan pribadi Jena—yang berusia lebih tua dua tahun darinya.

"Hem, terus gue suruh pindah ke kamar lo, gitu?" Freya menarik rambut kepalanya yang masih basah. Mendadak ia ingin menyiram ubun-ubun dengan air dingin. Kalau begini caranya bagaimana emosinya bisa reda? Yang ada justru nambah dua kali lipat dari sebelumnya!

"Iya, masa gue harus sekamar sama Max sih, Fre? Yang benar aja lo."

Freya jadi gemas mendengar kalimat terakhir Jena, kok seperti dia yang disalahkan atas situasi sulit ini ya? Freya menyandarkan punggungnya ke kusen pintu kamarnya, melipat tangan di depan dada dan berpikir sejenak. Kalau dia tidak sayang uang yang telah dia tabung selama ini, mungkin akan sok-sokan dengan membayar bagian Lia, hanya tiga bulan ke depan ini. Tapi, mengingat kerja kerasnya selama di Jakarta, ia jadi sayang. Ia sudah sering begadang setiap malam demi menyelesaikan tulisannya, mengetik, atau sekadar mencari referensi dengan berselancar di dunia maya hingga lupa waktu dan tidak tidur sampai hampir subuh. Pengorbanannya begitu besar.

Djournal Town (Done)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang