*16. Cita-Cita Kucing*

1.2K 154 47
                                        

Karena cerita lumayan panjang jadinya chap kali ini gak dimasukin bahasa kucing ya (´-ω-')

***

"Apekah?!"

Para kucing menatap horor pada layar laptop yang menyala terang ditengah kegelapan dapur. Kecuali Thorn yang malah cekikikan melihat wajah syok yang lain.

"I-ini pasti mimpi! Iya kan?" Ice mengguncang bahu Thorn disebelahnya sekuat tenaga. Mata mengantuk si kucing gembul melotot pada Thorn yang memasang wajah polos.

"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya? Aku kasih tau ya ini bukan mimpi. Sini aku tampol biar kamu percaya, rawr!" Thorn lalu menampar Ice.

Ice yang merasa ia memang berada dikenyataan bersimpuh. "Tidaaak!"

"Para kucing berbondong-bondong mencari lowongan pekerjaan?! Lawak apakah ini?!" Blaze emosi saat membaca kalimat yang tertulis di artikel berita Daily Meow. Sebuah portal berita kebanggaan rakyat kucing.

"Suku kucing pedalaman menyeberang sungai dengan menaiki buaya untuk mencari lowongan pekerjaan di kota. What the fish?!" geram Ice yang lalu lanjut memakan dry-food untuk meredakan amarahnya.

"Solar bukankah ini di luar nalar. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi?!" Blaze bertanya pada si kucing paling pintar.

Solar mengetik keyboard laptop dengan cepat seolah dia sudah terbiasa lalu setelahnya menyahut. "Setelah kutelusuri, semua bermula karena berita tentang Soleh si kucing yang diangkat jadi pegawai pajak, kemudian nama Pororo si pengusaha fashion kucing juga mulai disebut."

"Aku tau Bang Pororo yang sudah lebih dulu terkenal sebagai model di Meow Daily tapi si Soleh ini sepertinya anak baru," ujar Blaze.

"Enok ini siapa lagi sih?" gerutu Ice yang membaca artikel lainnya. Tangannya kembali mencomot makanan dengan geram.

"Woi udah woi! Thorn belum kebagian!" Thorn berlomba dengan Ice menghabiskan makanan kucing.

"Dia kucing pegawai bank berdikari," sahut Solar.

"Mereka ini melawan kodrat kucing nggak sih?!" seru Blaze.

"Akhirnya! Hahaha!" Solar tiba-tiba tertawa jahat.

"Kok kamu malah senang sih?" sinis Ice yang mengusap wajahnya tanda dia selesai makan. Sementara disebelahnya ada Thorn yang menganga tak percaya jika sebagian besar makanannya sudah pindah ke perut Ice hanya dalam waktu singkat.

"Karena aku malah suka situasi ini. Dengan begini kucing akan diakui bisa menjadi bagian perkembangan dunia. Dan lagi impianku sebagai penguasa negeri ini jadi lebih dekat rasanya, hohoho!" Solar menggosok kedua tangannya dengan ekspresi licik.

"Aku nggak setuju!" seru Ice yang menggebrak meja makan sehingga mengundang para saudaranya menoleh cepat padanya.

"Diem ish! Nanti kita ketahuan nggak izin minjem laptop!" kesal Thorn yang mengincar laptop untuk nonton mencari Nemo. Kalau diambil nanti ia tidak bisa nonton. Ngomong-ngomong soal nonton, Thorn jadi kesal lagi karena harusnya makanan itu dijadikan cemilan teman nonton tapi Ice malah menghabiskan duluan.

"Bukannya khawatir kita ketahuan bisa pake laptop ya?" heran Solar.

"Dengar ya. Sebagai kucing kita harus tetap menjadi beban!" seru Ice.

"Setuju!" sahut Blaze berapi-api.

Sementara Thorn berdeham karena merasa tenggorokannya kering.  "Izin mau ke wc," Thorn lalu turun dari meja.

"Mau eek ya? Ntar kecemplung dalam lobang loh," ujar Blaze.

Thorn menggeleng. "Nggak, mau minum tuh."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 25, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Meow Attack!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang