Kakinya bergerak dengan gesit. Mengejar seekor kucing yang berlari sangat cepat. Tangannya sesekali terulur ke depan berusaha menangkapnya. Akan tetapi sang kucing yang mengetahui itu tak tinggal diam. Ia selalu mengelak agar tidak tertangkap.
Keningnya berkerut. Tidak pernah terbayang di benak Halilintar jika suatu hari seekor kucing akan mengalahkannya dalam berlari. Jika pihak sekolah melihatnya mungkin kucing itu yang akan menjadi kandidat lomba lari tahun depan. Halilintar sontak menggelengkan kepala menyadari pemikiran konyolnya itu.
"Woi! Sudah woi! Berhenti kamu kucing!" seru Halilintar.
Bukannya berhenti sang kucing malah ikut berseru. "Meow! (Jangan hentikan aku! Aku masih bisa lari sepuluh putaran lagi untuk sekotak wiskas tambahan!)"
Halilintar berdecak untuk kesekian kalinya. Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa Halilintar mau repot menangkap kucing itu. Padahal bisa saja Halilintar membiarkan si kucing capek sendiri ataupun meninggalkannya.
"Berhenti! Uang jajanku nggak sebanyak pe-er matematikaku. Kamu kira beli wiskas pakai daun?!"
Ya, Halilintar mengkhawatirkan kondisi keuangannya.
"Nyahahaha! (Wiskas aku datang! Akhirnya aku bisa makan wiskas! Hahaha!)" tawa jahat si kucing menggema.
Halilintar mengerang frustasi. Ia kemudian menambah kecepatan lariannya. Sedikit lagi, sedikit lagi Halilintar pasti bisa menangkap hewan berkumis itu. Dan ...
... kena!
Saat Halilintar mengatur nafasnya. Kucing dalam pegangannya terus memberontak.
"Nyek! (Aaaaa! Lepaskan aku manusia!)"
Ice semakin memberontak. Ia tidak bisa menyerah begitu saja. Bayangan dua kotak wiskas sudah di depan mata. Bagaimanapun caranya ia harus mendapat dua kotak wiskas dengan rasa yang berbeda! Pokoknya harus!
"Hah...," Halilintar masih berusaha mengatur nafasnya. Belum pernah seumur hidupnya ia lari sampai berkeringat begitu hebat. The power of wiskas memang mengerikan. Lain kali Halilintar tidak akan menggunakannya lagi.
Bocah sekolah dasar itu kemudian bergerak pulang dengan tangan masih memegang si kucing.
"Meowiskas! (Wiskas! Mana wiskasnya? Berikan padaku sekarang!)"
Halilintar menggeram kesal. Sepanjang perjalanan pulang si kucing terus saja mengeong ribut. Awalnya Halilintar membiarkannya saja. Namun, lama kelamaan semakin parah saja. Apalagi ketika mereka melewati sebuah toko yang di etalasenya memajang dry-food untuk kucing. Ice seketika mengeong dua kali lebih berisik dari sebelumnya.
"Meowiskas! (Wiskas! Itu dia! Kamu janji membelikanku wiskas, bukan?!)"
Mengetahui Ice yang mengeong ke arah toko itu membuat Halilintar berdecak. Rupanya si kucing masih belum melupakan wiskas yang telah dijanjikan. Dengan terpaksa Halilintar melangkah menuju toko itu. Si kucing gembul sontak berhenti memberontak, kembali tenang. Seolah mengetahui impiannya akan segera terwujud.
Detik itu juga Halilintar membuat catatan dalam benaknya. Yaitu, jangan pernah menjanjikan makanan pada kucing jika uang sakumu tengah krisis!
KAMU SEDANG MEMBACA
Meow Attack!
FanfictionSekelompok makhluk berbulu lebat menyerang. Selamatkan ikan kalian! *** Musim liburan telah tiba. Akan tetapi tiga anak kembar malah kedatangan tamu tak diundang. Tunggu! Emang ada tamu yang datang-datang main nyerang minta ikan?! *** Genre : Famil...
