Elixir Class, Survive : Perpustakaan

184 28 0
                                    

Mora terisak dipelukan Wonia, "Mereka mati, Won."

Wonia masih berusaha menenangkan Mora yang sudah lima menit menangis tanpa berhenti.

"Lo bisa diem gak sih? berisik tau gak suara lo itu." kata Raka, lalu ia beranjak menghampiri Mora,

"Hapus air mata lo, gak ada gunanya nangis. Mereka juga gak bakal hidup lagi." Raka menyodorkan sapu tangan miliknya.

Mora menatap Raka dengan mata sembab, hidung nya merah. "Sekalian bersihin tuh muka cemong lo." Raka melemparkan sapu tangannya, lalu kembali duduk ditempat semula.

"Li." panggil Altharel pada Lianz.

Lian menoleh, "Apa?"

"Lo sama Ryu lagi ngapain? sibuk sendiri dari tadi," tanya Altharel.

"Lagi cari denah sekolah, kita perlu itu." jawab Lianz.

"Buat apaan? kita udah sekolah disini dari delapan bulan yang lalu, hampir setahun cui, masa gak hafal sama tata letak sekolah." tanya Prevan.

Ryula mendengus, "Ribet, mending lo semua bantu cari deh. Nanti dijelasin."

"Gak. jelasin dulu baru gue bantu." sahut Deano kemudian.

Lianz menarik nafas panjang, "Tadi Arka bilang kalau dia ngerasa lantai dua gak ada ujungnya, jadi gue sama Ryula inisiatif cari denah sekolah kita. Gue yakin denah itu bakal bermanfaat nantinya." ucap Lianz menjelaskan.

"Brilliant! ide lo bagus." Altharel bertepuk tangan, lalu beranjak dari kursinya, hendak membantu.

Mereka yang tersisa, berbondong-bondong mencari denah sekolah diruang perpustakaan yang berukuran sekitar 150 meter persegi itu.

"KETEMU!" seru Arka beberapa saat kemudian.

"Ayo semuanya kumpul." teriak Prevan.

Mereka mengerubuni denah itu, "Jadi kita semua ada disini, dan kemungkinan Erik sama Reihan ada dikelas kosong itu." jelas Ryula.

"Oh, kelas kosong yang dibelokan lorong sana?" tanya Getsy, lalu Ryula mengangguk.

"Kelas itu kan angker," tiba-tiba Altharel bersuara.

"Waktu itu, gue kan cabut pelajaran kimia, terus gue tidur disana sendirian, dan kalian tau apa yang terjadi?" Altharel menjelaskan ceritanya.

Mereka semua yang mendengarkan, menggeleng serempak.

"Tiba-tiba pas gue bangun, gue udah gak ada dikelas itu." lanjut Altharel dengan nada sok menegangkan.

"Lo ada dimana?" tanya Revano.

"Berarti lo diseret-seret ya sama penunggu nya?" Haikal bersuara.

"Diseret kemana lo, Al? gue gak yakin setan itu kuat seret lo, secara kan lo itu berat karena banyak dosa." kata Arka.

"Sialan lo, gue ada diruang BK," jawab Altharel,

"Ternyata pak Anang yang gotong gue sendirian kesana, baik ya dia .." ucap Altharel dramatis.

"Diluar bumi coy." ucap Deano dan Arka sembari bertepuk tangan.

"Sinting lo, waktu berharga gue kebuang sia-sia karena dengerin cerita lo." oceh Ryula, sementara Altharel hanya cengengesan saja sama sekali yakin merasa bersalah.

"Udah-udah, kita lanjut lagi." Mia bersuara.

"Ngomong-ngomong sekarang jam berapa?" tanya Shaza.

Mereka semua saling memandangi pergelangan tangan masing-masing, lalu menggeleng. Ternyata satu pun tak ada yang membawa jam tangan.

[1]  Elixir Class : Survive  ❪ ✔️ ❫Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang