Elixir Class, Survive : Ini alasannya

157 21 21
                                    

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.
.
.

"Jangan minta maaf ke gue, nanti minta maaf nya ke Ryula aja." jawab Altharel dengan suara yang amat pelan, seperti bisikan.

Mereka berdua sama-sama terdiam, tak ada yang bisa mereka lakukan sambil menunggu kematian datang menjeputnya.

Lalu tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di lorong, sosok itu mendekat kearah Altharel dan Revano yang sudah terbaring lemah di lantai.

"Permainan nya seru ya?" ucap sosok itu, ia membuka jubah serta topeng nya, lalu membuang kesembarang arah.

Revano melotot kaget, " .. lo fajash?" ucap nya kaget.

"Oh, hai teman lama." sapa Fajash pada Revano yang setengah mati kaget disana.

Altharel sudah tidak bisa memasang ekspresi apa-apa lagi, badannya kaku, namun indra pendengaran nya masih berfungsi.

Fajash jongkok, mendekati Revano dan Altharel.

"Pasti kalian masih bertanya-tanya kenapa kalian bisa ada disini kan? .. oke, saya bakal kasih tau kalian berdua sesuatu sebelum kalian mati." ucap Fajash tertawa.

"Dua tahun yang lalu, di tanggal yang sama, kelas saya juga merasakan hal yang sama dengan kalian. Kami juga dijebak dan berakhir harus mengikuti permainan gila waktu itu."

"Dari Tiga puluh siswa IPA yang ada, yang tersisa hanya kami bertiga."

"s-siapaa?" tanya Revano.

Fajash melirik Revano sekilas, "Karvino, Iganz dan saya."

"Itulah alasan mengapa angkatan saya tidak memiliki kelas IPA. Padahal, awalnya kami bertiga adalah siswa kelas IPA dan berakhir ada di kelas IPS."

"Selama setahun kami mengalami trauma parah, melihat dua puluh tujuh orang mati mengenaskan didepan mata kami sendiri."

Fajash memejamkan matanya, kembali mengenang kejadian waktu dirinya berada dipermainan mematikan itu.

"Kalian bertujuh harus saling membunuh!" suara intrupsi dua tahun lalu itu terdengar di otaknya.

"Tadinya kami memilih opsi untuk sama-sama bertahan, namun nyatanya kami bertiga terlalu takut untuk mati,"

" .. yaa, jadinya kami terpaksa membunuh keempat siswa yang lain. Semenjak itu kami bertiga dinyatakan sebagai pemenang dan keluar dalam kondisi yang terus dihantui rasa bersalah."

"Kematian teman-teman kalian ini tidak akan pernah terungkap, pihak sekolah akan membuat alibi seakan-akan para siswa-siswi itu hilang sebelum datang kesekolah,"

"Itu persis seperti apa yang pihak sekolah lakukan ke teman-teman kami." ucap Fajash.

"Bangsat." Altharel bersuara.

Fajash tak mengubris umpatan Altharel, "Seminggu yang lalu, kepala sekolah mengajak kami bergabung untuk membuat permainan gila ini .. awalnya kami menolak untuk bergabung, namun mereka memaksa, dan mengancam akan membunuh kami bertiga."

[1]  Elixir Class : Survive  ❪ ✔️ ❫Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang