"Semuanya udah masuk? gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Ryula, semua mengangguk.
"Teo," panggil Lianz, "Arisa mana? bukan nya tadi lo yang bopong dia?" tanya Lianz.
"Gue tinggal pas tadi ada ledakan." jawab Teo enteng.
"Maksud lo apa? lo ninggalin temen gue disana? lo sengaja pengen dia mati hah?!" bentak Mora.
"Justru karena dia udah mati," ujar Teo. "Di perjalanan tadi dia kejang, terus muntah. Karena gue jijik, jadinya gue tinggal aja. Lagian denyut nadi nya juga udah gak ada." tambah Teo.
"Palingan si Rina sama Hensy juga udah mati." timpal nya sekali lagi.
Kini seluruh atensi mereka tertuju pada Revano dan Altharel yang sedang membaringkan Rina dan Hensy dilantai tanpa alas.
"Hhhh .." Altharel mengeluarkan helaan napas berat,
"Bener, Hensy sama Rina udah meninggal."
。。。
"Rik, lari lo kurang kenceng!"
"Lari lo yang kecepetan." ucap Erik susah payah sambil mengatur nafas.
Erik masih tertinggal sekitar tujuh langkah dari Reihan.
"Han, dengerin gue, disana ada kelas kosong biasanya gak dikunci, nanti kita langsung belok ya." perintah Erik.
Hanya butuh 15 langkah sprint bagi Reihan untuk sampai ke kelas yang dimaksud Erik. Untuk saat ini skill lari memang sangat dibutuhkan.
"Erik buruuuuaaan!" teriak Reihan yang sudah sampai diambang pintu, ia tinggal menunggu Erik sampai lalu menutup pintunya.
Sekarang jarak antara punggung Erik dan tangan raksasa itu hanya 10 senti, jantungnya berdegup kencang, nafasnya sudah mulai tak beraturan.
Haruskah Erik menyerah sekarang?
Erik menggeleng, ini terlalu cepat untuk menyerah, lagi pula tinggal 10 langkah sprint lagi untuk sampai.
"BURUAAAN." teriak Reihan panik ketika tangan raksasa itu kembali keluar dalam kegelapan,
dan,
BRUK!
Tepat saat Erik berhasil masuk ke kelas, Reihan langsung menutup pintunya. Tangan raksasa itu terus berusaha mendobrak pintu berkali-kali.
"Rik, bantu gue dulu dong! tidur-tiduran nya nanti aja." ucap Reihan dengan suara bergetar karena tubuhnya berusaha sekuat tenaga menahan pintu itu.
Erik kemudian berdiri, ia menepuk-nepuk seragamnya yang dipenuhi debu, lalu ia segera membantu Reihan untuk menahan pintu dari dobrakan tangan raksasa tersebut.
"Terus kita harus tahan pintu ini sampai kapan?" tanya Erik kebingungan, pikirannya kini tengah kacau.
"Lo sama gue tinggian siapa?" Reihan balik bertanya.
Erik menggedikan bahu, "Gue gak pernah merhatiin."
"Oke, lo bisa jebol plafon kan?" tanya Reihan yang masih berusaha sekuat tenaga menahan pintu tersebut.
"Terus lo gimana?! lo nahan sendirian dong?" tanya Erik spontan.
"Gak usah pikirin gue dulu, kita butuh waktu sekitar tiga puluh detik untuk lo jebol plafon, setelah itu kita langsung naik sama-sama." jelas Reihan dengan tubuhnya yang sudah bercucuran keringat.
BUGH .. BUGH
Tangan raksasa itu berusaha mendobrak pintu lebih kuat lagi.
Lantas Erik segera menyusun kursi dan meja setinggi mungkin agar ia dapat leluasa menjebol plafon.

KAMU SEDANG MEMBACA
[1] Elixir Class : Survive ❪ ✔️ ❫
Mystery / Thriller❝ Harusnya lo semua ikut saran gue tadi, kita cabut sekelas.❞ ⊹ ⊹ ⊹ ⊹ ⊹ ⊹ ⊹ ⊹ ⊹ 26 Siswa yang berjuang untuk tetap hidup di lingkungan yang mereka tidak ketahui mengapa mereka bisa ada disana. Mereka disis...