Chapter 49 (Republished)

10.2K 593 35
                                        


Flashback on ;

Seorang siswa smp baru masuk kedalam mansion megahnya dengan tatapan berbinar, karena baru saja dia mendapat kabar bahwa dia menang di olimpiade yang dia ikuti.

Sambil membawa piala dan mendali kemenangan dia memasuki mansion itu, berharap orang tuanya bangga kepadanya.

Namun langkahnya terhenti saat mendapati banyak orang asing yang berada didalam rumah, dan juga ada darah yang berceceran di ruang tengah tempatnya kini berdiri.

Dia menatap semua orang yang ada di rumah ini, mereka menatap prihatin kepadanya, dan dia benci tatapan itu, saat salah satu dari mereka hendak mendekatinya, namun dengan cepat ia berlari, tujuannya hanya satu! Memastikan orang tuanya baik baik saja.

Namun saat dia tiba di kamar orang tuanya, matanya melotot tak percaya, orang tuanya sudah tergeletak tak berdaya dengan tembakan yang membidik tepat di jantung ke dua orang tuanya.

Dia menangis meraung raung dan terduduk dilantai, menggoyangkan tubuh kedua orang tuanya.

namun, usahanya tak membuahkan hasil, orang tuanya telah tiada, dan tak akan bangun kembali.

"om akan mengurus pemakaman kedua orang tuamu, sekarang kamu ganti baju" ucap seseorang yang baru datang dengan pakaian yang terdapat banyak darah, anak laki laki itu menatap pria itu dengan marah, "kenapa?, mari ikutlah bersamaku, aku akan menjagamu seperti aku menjaga putra ku, Raditya" ucap pria paruh baya tersebut, argara.

Anak kecil itu bangkit dan menatap nyalang argara, "apa om argara yang membunuh orang tua ku!?" tuduh anak kecil itu.

"untuk apa?" tanya argara, "aku adalah sahabat papah mu, tak mungkin aku membunuh sahabat ku sendiri, jangan suka menuduh " tegur argara hanya membuat anak laki laki itu mendengus kesal.

"apa yang tak bisa dilakukan mu tuan argara?, kau bisa membunuh orang tuaku untuk mendapatkan saham perusahaan kan agar jatuh kepadamu?" tuding anak itu yang malah membuat argara terdiam

"nyawa lebih penting di banding materi!"

"tapi om kan haus harta pasti aja om bunuh orang tua aku!"

"tutup dan jaga ucapan mu!, kau tak boleh menuduhku seperti itu, aku sudah membantu kalian sebisa ku, jadi berterimakasih lah, bukan malah menuduhku!" tegur argara

"percuma! Untuk apa aku berterimakasih kepadamu jika kau lah yang meregut nyawa kedua orang tuaku!!" kekeh nya dan argara mengusap wajahnya secara kasar

"sudah, jika kita berdebat tak akan selesai, kau gantilah baju, lalu ikutlah kepemakaman, kedua orang tuamu akan dimakamkan!"

"orang tua ku tidak boleh dimakam kan!!"

"lalu mau kau apakan? Orang yang sudah meninggal harus dimakam kan nak, kau tak boleh egois!" dan akhirnya anak itu mengangguk setuju walaupun dalam keadaan marah.

Setelah pemakaman selesai, mereka kembali kerumah, anak itu menatap kamar pramg tuanya yang sangat sepi.

"kau merebut semuanya dariku pak tua!" teriak anak itu

"sudah berapa kali ku bilang aku tak membunuh kedua orang tuamu, bisakah kau percaya?" ucap argara yang baru masuk membuat emosi anak itu memuncak, sudah lelah ia menahan amarahnya, saatnya ia luapkan, tak peduli resiko nya.

"tidak, pembunuh hanya akan membunuh tak akan membantu orang lain, jadi kau tetaplah pembunuh dan kaulah pembunuh kedua orang tuaku!"

"kau tak cukup bukti nak, kau bahkan tak mengerti bahwa aku tak salah disini!"

TRANSMIGRASI BAD GIRL (republished) (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang