The Real Boyfriend

207 30 27
                                        

Aku peringatin ya, sebelum baca lanjutan FF ini untuk menekan bintang di akhir. Juga warning dengan segala isi yg kadang diikuti Typo. Isi konten merupakan imajinasi penulis juga ide aslinya. Jadi, dilarang protes karena ini mutlak milik pencipta! Juga dilarang plagiat! Jika itu terjadi, aku sedot ubun-ubunnya! ⭐ Vote di pencet. Tuh, ada di bawah!
*
*
*
*
*

"Ini akan segera berakhir, Sayang."

Kalimat itu samar-samar terdengar dalam tidurnya. Suaranya bahkan masuk ke dalam mimpi, begitu halus, menenangkan. Seungri seakan kenal dengan pemilik suara tersebut. Tak asing dan setiap hari dia mendengarnya. Itu Jiyong. Suara itu milik Jiyong.

Namun, mengapa dia mengatakan 'sayang' padanya?

Seungri baru saja akan menanyakan itu pada pria yang kini berdiri di depannya. Si tampan itu berdiri sambil menjulurkan tangannya meminta Seungri untuk berpegangan padanya. Senyum yang paling disukai dari Seungri itu merekah untuknya. Jiyong seolah memberikan segalanya hanya untuk Seungri.

Tangan itu menariknya pelan, menyuruhnya untuk mengikuti ke manapun langkah yang Jiyong ambil. Seungri tak keberatan sama sekali. Dia bahkan rela ikut pada laki-laki yang dikenalnya beberapa bulan belakangan. Hanya karena Jiyong telah memberinya kenyamanan. Tempatnya bersandar dari masalah yang tengah dipikulnya.

Jiyong segalanya bagi Seungri.

Sayang, mimpi indah itu harus berakhir bergantikan dengan sebuah kenyataan. Kenyataan yang perlu dia hadapi pagi ini. Sebuah persidangan yang bahkan dia tak mengharapkan hasil terbaik karena sampai detik ini dia buntu akan bukti.

Sedikit lesu Seungri mendudukan diri di tepi kasur. Matanya yang sayu, wajah bantalnya yang masih menempel terlihat jelas. Dia memandangi jari kakinya sendiri sementara pikirannya melayang pada mimpi indah semalam.

"Kenapa masih di sini?"

Seungri tersadar dari lamunannya. Jiyong yang entah sejak kapan sudah berada di kamarnya dengan wajah segar seperti biasa. Jiyong berdiri tepat di depannya membuat Seungri harus mendongak untuk melihat Jiyong.

"Eoh, kapan masuknya Hyung?"

"Aku ketuk pintu, tapi kau tidak merespon. Ada apa? Memikirkan sesuatu?"

Seungri menggeleng lesu.

"Tidak ada. Hanya aku ..."

"Soal kasusmu?"

Seungri mengangguk. Jiyong simpuh lutut di depan Seungri. Kedua tangannya dibiarkan untuk Jiyong genggam. Sepasang netra mereka bersitatap.

"Jangan khawatir. Hadapi saja dan jangan kabur lagi. Apa kau percaya dengan Pengacara Choi?" tanya Jiyong.

"Iya, aku percaya dengannya. Aku lama mengenalnya," jawab Seungri.

"Jika kau percaya dengannya maka kau akan bebas dari segala tuduhan yang diberikan wanita itu."

"Hyung, apa kau percaya padaku?" Seungri balik bertanya. Dia masih ragu jika Jiyong selama ini percaya akan dirinya yang tidak melakukannya.

"Seungri-ah, seandainya aku tak percaya denganmu, apakah aku masih mau menemanimu selama ini?"

Seungri menggeleng lagi.

Jiyong menambahkan, "Aku masih di sini itu karena yakin kau adalah orang baik. Orang yang akan bertanggung jawab dengan masalahmu. Kau harus mampu berdiri dengan kedua kakimu. Mengerti?"

Seungri pun akhirnya tersenyum. Dia lega setidaknya meski hanya satu orang yang percaya padanya itu sudah cukup. Apalagi, orang itu yang dia sayangi.

"Gomawo, Hyung."

Hug and Love Me MoreCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang