***
Ketukan sepatu hak tinggi menggema di lantai lobi. Irma berjalan dengan penuh percaya diri, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Jemarinya lincah menekan layar ponsel, menghubungi seseorang.
Hari ini, Irma mendapat kabar yang membuatnya kembali merasa berada di puncak.
FoodBeary kembali mengangkatnya sebagai brand ambassador untuk kedua kalinya.
"Hallo, Rafli sayang. Lagi di mana?" tanya Irma, berlenggak-lenggok mengitari lobi.
"Di Pasar Modern Citra. Lagi shooting konten TikTok," jawab Rafli dari seberang.
"Oh, review makanan lagi?"
"Iya. Cuma agak lama, kameranya sempat mati. Jadi nunggu kamera cadangan."
Irma tersenyum kecil. "Aku ke sana, ya? Sekalian bikin Insta Story. Siapa tahu bisa bantu promosiin."
"Boleh. Di sini banyak banget makanan enak. Ada tomyum bakso keju, sate-satean. Pokoknya mantap."
"Baiklah. Aku pesan taksi online dulu. Kirim lokasi, ya."
Irma menutup telepon dengan perasaan riang. Selain bertemu kekasihnya, dia juga bisa menikmati makanan gratis—tentu saja, atas traktiran Rafli.
Belum sempat melangkah lebih jauh, suara seseorang memanggilnya.
"Bu Irma!"
Irma menoleh. Rendra berjalan tergesa ke arahnya, sedikit terengah.
"Ada apa?" tanya Irma, alisnya terangkat.
"Maaf, saya hampir lupa menyampaikan. Besok Bu Irma diminta datang ke kantor lagi untuk membahas strategi campaign sekaligus konsep konten ke depan."
Irma langsung mengernyit. "Besok? Bukannya bisa dijadwalkan beberapa hari lagi? Saya ada agenda dengan brand lain."
Rendra yang mengenakan kacamata bulat itu tampak ragu sejenak, lalu berkata hati-hati, "Ini cukup mendesak, Bu. Kehadiran Bu Irma sangat berpengaruh untuk engagement FoodBeary. Jadi ... kalau bisa, secepatnya."
Padahal gue bentar lagi mau bulan madu, batin Rendra. Cuma pengen bikin dia repot sedikit saja. Biar dia ngerasain.
Irma mendengus pelan, memijat pelipisnya. "Baiklah. Saya atur ulang jadwal dari brand ya. Supaya besok saya bisa datang."
"Baik. Terima kasih karena Bu Irma sudah mengerti."
Rendra segera berbalik. Begitu cukup jauh, senyum miring muncul di wajahnya.
"Rasain," gumamnya pelan sebelum melangkah menuju lift.
***
Menjadi pacar pura-pura Adelia ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan Hardi.
Tanpa persiapan apa pun, dia kini dihadapkan pada situasi yang menuntut semua terasa meyakinkan.
Hardi mondar-mandir di dalam unit 21-5 milik Dani. Sesekali dia menggigit kuku, mencoba berpikir jernih.
Masalah pertama—mobil.
Apakah harus meminjam lagi dari Dani?
Kalau suatu saat Dani butuh, bagaimana?
Hardi memijat keningnya sendiri, frustrasi.
Pokoknya aku nggak mau sampai dicemooh keluargaku sendiri, Mas. Aku nggak mau ayahku malu.
Ucapan Adelia kembali terngiang di kepalanya.
Masih teringat jelas percakapan mereka sehari sebelumnya. Kata-kata Adelia terus berputar, membuat pikirannya semakin buntu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mission to be Liar
Storie d'amoreDiduga tidak setia karena menceraikan istrinya, Hardi seakan membawa beban baru. Hardi dihujat tanpa sebab, membuatnya tertekan dan memilih resign dari kantor tempatnya bekerja. Tanpa sengaja, Hardi dipertemukan dengan Adelia. Keakraban kembali terj...
