***
Hardi sempat mengira Rendra akan marah karena tidak menepati janji makan malam sebelumnya. Namun di luar dugaan, justru Rendra yang lebih dulu menghubunginya dan mengajak makan malam di sebuah restoran semi-kafe yang lokasinya cukup jauh dari minimarket Mate.
Beruntung, Hardi segera mengirimkan lokasi terkini, sehingga Rendra bisa menjemputnya.
Sahabatnya memang selalu seperti itu—tetap baik dan tulus, meskipun kini mereka tidak lagi bekerja di kantor yang sama.
Dalam perjalanan, Hardi duduk di kursi belakang, memperhatikan Rendra dan Vina yang sesekali tertawa di kursi depan. Tanpa sadar, dia ikut tersenyum melihat kebersamaan mereka.
Namun perlahan, pikirannya kembali melayang pada percakapannya dengan Adelia.
Permintaan aneh itu.
Menjadi teman kencan?
Dan... acara apa itu? TimeY?
Adelia bahkan pergi begitu saja tanpa memberinya waktu untuk menjawab. Dia hanya diminta mempertimbangkan.
Mobil pun berhenti di depan restoran.
Hardi turun mengikuti Rendra dan Vina. Namun langkahnya jauh lebih lambat, seolah ada beban yang menahannya. Jarak mereka perlahan merenggang.
Saat memilih tempat duduk, Rendra sadar Hardi masih berada di sekitar pintu masuk. Segera, Rendra menyuruh Vina duduk lebih dulu kemudian mengejar Hardi yang berjalan terlalu loyo.
"Bro, lo kenapa? Melamun?" Rendra menepuk lengan Hardi pelan.
"Duduk di sana," lanjutnya, menunjuk ke arah meja booth tempat Vina menunggu.
"Gue ke bagian pemesanan dulu," kata Rendra meminta izin, kemudian Hardi melangkah menuju meja yang dilekatkan pada dinding restoran tersebut. Lalu duduk berhadapan dengan Vina yang sedang memainkan ponsel.
Tak lama kemudian, Rendra datang dengan struk pesanan dan langsung duduk di samping istrinya.
"Kok tadi lo lesu banget pas masuk restoran?" tanya Rendra "Padahal waktu gue jemput di Mate, lo masih semangat."
Hardi tak menjawab, hanya memandang nalar.
"Apa karena lo belum rela ninggalin FoodBeary?" tebak Rendra lagi.
Hardi menggeleng pelan. "Nggak. Bukan karena itu."
Pria kemeja linen itu mengatur napas terlebih dahulu seraya memperbaiki posisi duduk. "Gue mau tanya sesuatu."
"Tanya aja." Rendra mempersilakan.
Hardi tampak sedikit canggung sebelum akhirnya bertanya,
"Waktu lo putus dari Adel, lo dan Vina dulu ... pernah pura-pura pacaran kan?"
Rendra dan Vina saling bertukar pandang.
Hardi segera menambahkan, "Iya gue tahu ini terlalu awkward buat tanya gini ke lo. Tapi gue cuma penasaran aja. Gimana rasanya kalian pacaran pura-pura, terus akhirnya jadi beneran?"
Vina tersenyum tipis, lalu menjawab lebih dulu.
"Awalnya dari Mas Rendra," ujarnya. "Waktu itu dia masih belum bisa move on dari Adelia. Jadi kami pura-pura pacaran, supaya dia bisa pelan-pelan melupakan."
"Dan biar nggak diledek juga," tambah Rendra sambil tertawa kecil.
Hardi mengangguk, lalu bertanya lagi dengan serius,
"Selama itu... kalian nggak canggung?"
"Sama sekali nggak, kok," timpal Rendra. "Soalnya kami sudah sahabatan dari kuliah. Jadi nggak ada rasa aneh."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mission to be Liar
RomanceDiduga tidak setia karena menceraikan istrinya, Hardi seakan membawa beban baru. Hardi dihujat tanpa sebab, membuatnya tertekan dan memilih resign dari kantor tempatnya bekerja. Tanpa sengaja, Hardi dipertemukan dengan Adelia. Keakraban kembali terj...
