Bab 7

178 19 0
                                        

***

Hardi mengerutkan kening saat membaca pesan itu. Adelia—mantan sahabatnya—seolah tak pernah berhenti menghubunginya.

Sebelum resign, pesan serupa juga sempat dia terima. Namun saat itu ditolaknya karena kesibukan. Kini, yang membuatnya heran adalah sikap Adelia yang terkesan mendesak.

Tanpa banyak berpikir, jari-jarinya bergerak cepat membalas.

(Boleh. Bagaimana kalau jam lima sore?)

Begitu pesan terkirim, Hardi langsung mengumpat dalam hati.

Sial.

Tangan dan otaknya seperti tidak selaras. Padahal dalam rencananya, ia tidak ingin bertemu siapa pun. Termasuk Adelia.

Berulang kali Hardi mengusap wajahnya kasar, lalu memijat pelipis yang mulai terasa nyut-nyutan.

Ponselnya kembali bergetar, balasan pesan dari Adelia.

(Bisa. Kalau Mas Hardi nggak keberatan, kita ke minimarket itu lagi. Yang di samping bank—tempat Mas narik uang waktu itu.)

Hardi hanya membaca, tanpa membalas. Napasnya terembus pelan. Tubuhnya terasa berat, seolah enggan digerakkan.

Namun beberapa saat kemudian, pikirannya mulai berubah. Ada sesuatu yang janggal. Tidak mungkin Adelia terus-menerus mendesaknya tanpa alasan.

Rasa penasaran itu perlahan mengalahkan keengganannya.

Maka setelah bercengkrama dengan kedua orang tuanya hingga sore hari, Hardi pun memesan taksi daring, dengan tujuan ke minimarket Mate.

Tempat itu bukan sekadar minimarket biasa. Di sanalah dirinya pertama kali bertemu Adelia pada suatu malam yang tak terlupakan.

Dengan mengenakan kemeja linen dan celana kain abu-abu terang, Hardi bersiap keluar. Setidaknya, dia butuh sedikit udara segar.

"Tolong ke minimarket Mate ya, pak," ucapnya pada pengemudi begitu masuk ke dalam mobil.

Perjalanan berlangsung lancar. Jalanan relatif lengang, membuat mereka tiba dalam waktu sekitar dua puluh menit.

Begitu turun, Hardi tiba-tiba teringat sesuatu.

Rendra.

Padahal dia pernah berjanji akan makan malam bersama Rendra saat hari terakhirnya di kantor. Namun rencana itu tertunda karena kedatangan orang tuanya. Bahkan dia belum sempat memberi kabar.

Hardi menghela napas. Dia justru menyingkirkan pikiran itu untuk sementara.

Langkahnya bergegas masuk ke dalam minimarket. Lonceng pintu berdenting saat mendorongnya.

Seperti biasa, meja panjang di dekat jendela besar tampak kosong. Tempat itu memang jarang ditempati, entah karena terbatas atau karena orang-orang sungkan.

Namun bagi Hardi, duduk di situ justru terasa nyaman. Dia bisa melihat aktivitas di luar, sambil menikmati makanan.

Tanpa berlama-lama, dia mengambil empat onigiri dengan berbagai rasa dan dua botol minuman ukuran 500 ml.

"Mas, sekalian dipanasin, ya," pintanya pada kasir.

"Siap, Pak," jawab pegawai itu sambil tersenyum.

Sambil menunggu, Hardi duduk di meja dekat jendela. Dia memilih sisi kanan, menyisakan ruang di sebelahnya.

"Ini. Onigirinya sudah hangat." Pegawai tadi membawa kantong kresek kecil, menyerahkannya pada Hardi.

"Terima kasih."

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang