***
Selesai mengantar Dani ke FoodBeary, Hardi memutuskan berkeliling kota seharian. Mengemudi tanpa tujuan yang jelas justru membuat pikirannya terasa lebih ringan. Ada sensasi menyenangkan yang sulit dijelaskan—seperti memainkan mobil-mobilan di arena permainan, hanya saja kali ini dirinya benar-benar berada di balik kemudi.
Menjelang sore, Hardi mampir ke sebuah kedai kopi dengan layanan drive-thru. Pesanannya ialah cappuccino dan croissant, lalu menepikan mobil di area parkir kosong tak jauh dari jendela pemesanan.
Sembari menyesap kopi hangatnya, pikirannya kembali melayang pada Adelia.
Bukan karena menghindar. Memblokir nomor Adelia hanyalah caranya untuk memberi ruang berpikir. Dia tidak ingin gegabah mengambil keputusan.
Dan kini, jawabannya sudah ada.
Hardi memutuskan menerima tawaran itu.
Hanya saja, dia belum sempat menyampaikannya. Rencananya, sore ini dia akan membuka blokiran dan menghubungi Adelia. Namun rupanya wanita itu lebih dulu mengirim pesan melalui Instagram.
Hardi menghela napas pelan.
Terkadang, Hardi perlu mengasihani diri sendiri.Keputusan-keputusan yang diambilnya sering kali terasa keliru di kemudian hari. Jika saja dirinya mampu bertahan menghadapi hujatan di kantor, mungkin dia tidak akan melepas jabatan yang susah payah diraihnya.
Namun, baginya, produktivitas tetap nomor satu.
Saat tekanan mulai memengaruhi kinerjanya, semua terasa sia-sia. Lagi pula, kini Dani justru lebih bersinar di FoodBeary. Memikirkan itu hanya akan membuatnya semakin terpuruk.
Cukup.
Tanpa ragu lagi, Hardi membuka blokir nomor Adelia, lalu segera meneleponnya.
"Halo, Del? Masih di kantor?" sapanya.
"Mas Hardi!" suara Adelia memekik di seberang telepon, membuat Hardi refleks menjauhkan ponselnya.
"Bisa nggak sih nggak usah teriak?" gerutunya sambil mengusap dada. "Aku kaget."
"Iya, maaf, Mas. Ada apa menelepon?"
Hardi mengernyit. Ada apa? Bukankah beberapa jam lalu Adelia mengirim pesan? Harusnya dia sudah bisa menebak maksud telepon ini.
Atau ... memang sengaja menunggu konfirmasi?
"Kamu nanya ada apa?" suara Hardi sedikit meninggi. "Aku mau bilang—aku bersedia jadi teman kencanmu di acara makan malam TimeY itu."
"Oh ... iya. Benar."
Respons Adelia terdengar santai, membuat Hardi sedikit kesal.
"Tapi kamu janji, kan? Soal posisi di Oradi?" lanjutnya. "Aku sudah perbarui CV dan LinkedIn-ku."
"Tenang saja. Mas Hardi kirim CV dalam bentuk PDF dan tautan LinkedIn, nanti aku teruskan ke HRD."
"Oke, siap."
Hardi menyesap kopinya sebelum melanjutkan, "Kalau begitu... boleh aku jemput kamu di kantor?"
"Hah?" suara Adelia terdengar bingung. "Jemput? "
"Iya, jemput. Sekalian kita bicarakan teknis kencannya gimana."
Beberapa detik hening.
"Baiklah. Aku pulang satu jam lagi. Jam lima aku tunggu di depan lobi."
Telepon terputus begitu saja.
Hardi melirik jam di ponselnya—pukul 16.20. Jika melihat jarak di peta, dia butuh sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke Oradi.
Tanpa membuang waktu, dia segera menyalakan mesin dan meninggalkan area kedai kopi itu.
Perjalanan terasa lancar. Jalanan cukup bersahabat, membuat Hardi bisa melaju dengan stabil tanpa banyak hambatan.
Tak lama kemudian, dia sampai di gedung perkantoran Oradi yang menjulang setinggi dua puluh lantai. Mobil dibelokkannya ke area masuk, tangannya terulur mengambil karcis parkir, lalu langsung mengarahkan kendaraan ke area drop-off.
Baru saja hendak mengambil ponsel, seorang wanita blazer cokelat melambaikan tangan dari arah lobi.
Adelia.
Hardi membunyikan klakson singkat sebagai tanda. Adelia segera menghampiri, membuka pintu, dan masuk ke dalam mobil.
"Mas Hardi naik mobil? Yang warna kuning mana?" Adelia hafal mobil milik Hardi karena itu yang pernah digunakan mengantar Rendra yang sakit beberapa bulan lalu.
"Itu ... di bengkel." Hardi menjawab sedikit gugup.
"Terus ini mobil siapa?" tanya Adelia seraya mengedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan.
"Mobil Dani. Dia pinjamkan."
Adelia mengangguk pelan. "Lalu Dani naik apa?"
"Katanya bus atau taksi online. Dia nggak tega aku sendirian di apartemen."
"Baiklah." Adelia mengaitkan sabuk pengaman. "CV dan LinkedIn jangan lupa kirim ke WA-ku, ya."
"Pasti." Hardi mulai menjalankan mobil keluar dari area gedung. "Prosesnya lama?"
"Sekitar tiga hari. Kebetulan posisi manajer digital marketing lagi kosong. Sementara ini tugasnya dipegang supervisor. Jadi kalau HRD setuju, Mas Hardi bisa langsung masuk kerja."
Hardi mengangguk, meski masih merasa sedikit canggung.
"Jujur saja ... aku kurang enak kalau harus pakai 'jalur orang dalam' begini."
"Nggak apa-apa," sahut Adelia santai. "Oradi memang lagi butuh. Waktu manajernya mendadak resign, satu divisi langsung panik."
Mobil melaju melewati jalanan kota yang mulai padat.
"Ngomong-ngomong, acara makan malam TimeY itu kapan?" tanya Hardi.
"Tiga hari lagi," sahut Adelia kemudian tiba-tiba tangannya memukul lengan Hardi pelan. "Aku tuh panik loh. Sudah telepon berkali-kali, kirim WA juga, tapi nggak dibalas. Baru sadar kamu blokir aku."
"Memangnya kenapa sih kamu butuh banget teman kencan? Nggak bisa datang sendiri?"
Adelia langsung menghela napas panjang. "Ayahku yang suruh."
Hardi melirik sekilas.
"TimeY itu perusahaan ayahku," lanjut Adelia. "Kemarin mereka sukses besar, jadi diadakan acara makan malam. Memang cuma acara keluarga, tapi keluarga besar ayahku itu ..." perlahan ia meringis, "... suka sekali mengomentari hidup orang."
Hardi mulai paham arah pembicaraan itu.
"Mereka selalu bilang aku terlalu pemilih, egois, sampai nggak becus soal hubungan," lanjut Adelia dengan nada kesal. "Aku capek dengarnya."
Mobil berhenti di lampu merah. Adelia menoleh menatap Hardi.
"Jadi... Mas Hardi mau, kan? Jadi pacar pura-puraku?"
Hening sejenak.
Hardi menghela napas pelan. Ini bukan keputusan yang mudah. Hardi dan Adelia bahkan nyaris tidak saling mengenal. Bukan teman lama, bukan pula rekan kerja.
Namun, demi pekerjaan... mungkin ia bisa mengesampingkan ego untuk sementara.
Lagipula, hanya sekali.
Dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti saat bersama Irma—terlalu cepat jatuh, tenggelam terlalu dalam.
"Iya," ucap Hardi akhirnya. "Aku mau."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Mission to be Liar
RomansaDiduga tidak setia karena menceraikan istrinya, Hardi seakan membawa beban baru. Hardi dihujat tanpa sebab, membuatnya tertekan dan memilih resign dari kantor tempatnya bekerja. Tanpa sengaja, Hardi dipertemukan dengan Adelia. Keakraban kembali terj...
