Bab 1

630 25 4
                                        

***

"Bisa-bisanya masih cari muka, padahal dia yang nyebabin perceraian?"

"Kenapa ya jadi suami lemah banget? Bukannya beresin rumah tangga, malah ninggalin istrinya gitu aja."

Seorang lelaki tinggi dengan kemeja polos biru muda yang digulung sampai siku membungkuk di depan dispenser, mengisi air minum ke dalam tumbler miliknya. Sayup-sayup, suara beberapa pegawai yang sedang bergosip tentang dirinya terdengar jelas.

"Dia beneran mantan suaminya Irma? Yang dulu jadi BA FoodBeary itu?"

Dasar.

Pendengarannya terlalu peka untuk mengabaikan itu. Padahal jarak pantry dengan meja kubikelnya cuma sekitar lima belas langkah. Tapi tetap saja, suara-suara itu sampai ke telinganya dengan jelas.

Hardi berdiri tegak, lalu langsung meneguk air dari tumbler-nya, mencoba mengusir rasa kering di tenggorokan. Hardi membelakangi meja kayu cokelat yang biasa dipakai pegawai untuk bikin mi instan atau sekadar nyeduh kopi.

Telinganya masih menangkap sisa-sisa obrolan itu.

Seperti ini efek Irma yang pernah jadi BA FoodBeary. Orang-orang langsung nganggep gue yang salah. Padahal udah berbulan-bulan cerai. Mulut Irma emang ... dari atas sampai bawah pengaruhnya semua. Pantes disebut influencer. Omongannya langsung dipercaya.

Hardi menggerutu dalam hati.

Keadaan kantor FoodBeary benar-benar di luar dugaannya. Kabar perceraiannya dengan Irma baru tersebar setelah ada yang menyebarkan tangkapan layar entah dari mana. Hardi sendiri cuma sempat lihat sekilas di grup kantor—itu pun langsung ditutup lagi.

Pandangan Hardi berkeliling pantry yang cukup luas.

Pantry kantor yang begitu luas mengurungkan niat Hardi untuk balik ke meja kerjanya. Pandangan diedarkannya, melihat sekeliling.

Di sisi kiri dekat pintu masuk tersedia berbagai snack gratis. Sementara di sisi kanan, ada rak berisi kopi sachet dan gelas kertas dua ukuran—medium dan large.

Hardi mengambil satu sachet kopi berwarna merah maroon. Setelah menuangkan bubuknya ke dalam gelas, ia membuang bungkusnya ke tempat sampah kecil di samping kulkas.

"Lo baik-baik aja?"

Suara itu terdengar familiar.

Segera Hardi berbalik. Ternyata Rendra yang sedang mengambil air di dispenser.

"Gue nggak nyangka lo mantan suaminya Irma. Yang dulu BA FoodBeary itu," lanjut Rendra sambil meneguk air dari tumbler abu-abu gelapnya. "Lo nggak pernah cerita, sih. Jadi gue taunya dari gosip kantor."

Giliran Hardi yang menggunakan dispenser. Dia menjawab tanggapan Rendra.

"Memang gue nggak banyak cerita ke lo sih, Rend. Gue sengaja rahasiain." Hardi menanggapi sebisanya. "Irma juga sengaja bikin seolah-olah gue yang salah. Alasannya? Ya ... alasan sampah." Hardi berucap gundah.

"Oh iya, mau gue buatkan kopi juga?" tawar Hardi, kemudian diiyakan oleh Rendra.

"Tapi gue heran sih. Kenapa malah lo yang disalahin? Gara-gara Irma bilang dia nggak dapet apa yang dia mau dari lo?" tanya Rendra kembali dibuat penasaran.

Hardi terkekeh saat menuangkan serbuk kopi di gelas milik Rendra. "Begitulah."

Satu kata yang jelas menutup topik.

Rendra paham, Hardi nggak mau bahas itu lebih jauh.

"Oh, biar gue yang tuang gulanya." Pria rambut mohawk itu spontan meraih gelas yang digenggam Hardi. Giliran Rendra yang mengambil alih--berdiri di depan meja kayu--untuk menentukan sendiri kopi yang dia inginkan.

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang