***
"Adel, gimana jas hitam yang Kakak pakai ini?" tanya Tio, meminta pendapat pada Adelia yang masih sibuk merias diri di depan cermin.
Kusuma bersaudara tengah bersiap menuju hotel, satu jam sebelum acara dimulai. Termasuk Adelia, yang tampak begitu total malam ini. Tentu, dia ingin tampil sempurna di hadapan keluarga.
Brush masih menyentuh wajahnya. Tinggal alis yang belum selesai.
Sambil menebalkan alis, Adelia menjawab santai, "Bagus, kok. Jas hitamnya cocok sama badan atletis Kak Tio."
Tio langsung menjentikkan jari, puas dengan pujian itu. "Mantap. Cocok nih kalau nanti gandengan sama Sasa."
Nada bicaranya jelas menggoda.
Namun kali ini Adelia tidak terpancing, justru terlihat tenang, seolah punya rahasia sendiri—karena memang dirinya akan datang dengan gandengan.
"Oh iya, Del," lanjut Tio, kali ini dengan nada lebih serius. "Acara keluarga kita nanti gimana? Kamu nggak ada cowok yang bisa diajak, minimal buat formalitas sehari?"
Adelia tidak langsung menjawab.
"Kakak takut kamu jadi bahan omongan sepupu kita. Apalagi Tante Fatma ... duh, mulutnya nggak ada rem," tambah Tio sambil menggeleng.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Adelia pernah merasakannya sendiri. Saat membawa mantan pacarnya dulu, komentar pedas dari tantenya terasa begitu menusuk—bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.
"Kalau kamu tetap mau datang sendiri," lanjut Tio sambil mengeluarkan ponsel, "Kakak bisa telepon teman. Dia santai kok, bisa jadi gandengan siapa saja."
"Mau Kakak hubungi?"
"Nggak, jangan!" Adelia langsung mengangkat tangan, mencegah. "Aku sudah punya, kok."
Tio menyipitkan mata. "Siapa?"
"Pokoknya ada," jawab Adelia singkat.
"Jangan bilang dari kantor Oradi lagi."
"Bukan." Adelia mendecih kesal. "Kakak ini kenapa sih kepo banget? Orangnya baik, kok."
Sebisa mungkin Adelia menutupi rapat-rapat identitas pria itu. Setidaknya jangan sampai Tio tahu bahwa Hardi-lah yang akan menemaninya malam ini. Terlebih, Tio pernah satu kantor dengan Hardi di FoodBeary. Biarlah jadi kejutan.
"Yah, Kakak cuma khawatir," ujar Tio, kini benar-benar serius. "Cowok-cowok di sekitar kamu pasti tahu kamu anak orang kaya. Founder TimeY itu bukan hal kecil. Bisa aja mereka manfaatin kamu."
Adelia terdiam, tapi tidak membantah.
"Kakak maunya kamu dapat yang benar-benar baik," lanjut Tio. "Teman-teman Kakak juga banyak yang oke. Nggak aneh-aneh."
Ponsel putih milik Adelia tiba-tiba bergetar di atas meja rias. Adelia meraihnya, pesan dari Hardi masuk kurang dari semenit lalu.
(Adel. Kalau kamu sudah siap, bilang ya. Aku jemput pakai mobil. Nggak usah ke apartemen, biar kamu nggak repot.)
Senyum tanpa sadar terbit di wajahnya.
"Del?" suara Tio membuyarkan lamunannya. "Ngapain senyum-senyum?"
Kakaknya mendekat, mencoba mengintip layar ponsel.
"Ish, apaan sih, Kak!" Adelia buru-buru menjauhkan ponselnya.
Tio menghela napas. "Kakak cuma ngingetin. Hati-hati, ya. Kalau dia macam-macam, bilang ke Kakak. Kakak nggak bakal ngomong ke Ayah."
Di balik sikap jahilnya, Tio memang yang paling peduli.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mission to be Liar
RomanceDiduga tidak setia karena menceraikan istrinya, Hardi seakan membawa beban baru. Hardi dihujat tanpa sebab, membuatnya tertekan dan memilih resign dari kantor tempatnya bekerja. Tanpa sengaja, Hardi dipertemukan dengan Adelia. Keakraban kembali terj...
