***
Tiga hari kemudian
Sejak acara makan malam perusahaan TimeY, Adelia memilih menutup diri. Hardi memakluminya. Luka yang terlihat di malam itu bukan sekadar sedih—ada amarah yang belum reda. Hardi tahu, jika Adelia butuh, gadis itu akan menghubunginya sendiri.
Setidaknya, satu hal berjalan sesuai rencana: Fatma, kakak dari ayah Adelia, tampak senang melihat mereka "berpacaran".
Masalah justru datang dari arah lain.
Irma mengirim undangan ulang tahun dalam bentuk digital—sekaligus acara launching skincare terbarunya. Dan yang membuat Hardi mengernyit, namanya tercantum sebagai tamu khusus dengan akses VVIP.
Benefit-nya berlebihan. Produk gratis, merchandise eksklusif, hingga makanan bebas pilih.
Aneh.
Bukankah seharusnya dia tidak diundang sama sekali?
Mobil yang sempat dipinjam Hardi telah dikembalikan pada empunya. Dani bisa pergi berlibur dengan keluarga menggunakan mobil tersebut. Tentu saja Hardi masih tinggal di unit 21-5 milik Dani. Sementara ini, Hardi dihadapkan pada pindahan yang belum kelar. Mungkin dalam beberapa hari, unit 20-9 bisa ditempatinya tanpa ada hambatan.
Hardi menyandarkan punggung di kursi barstool dekat dapur. Ponselnya sudah di tangan, YouTube terbuka seperti kebiasaan. Tanpa sadar, dirinya kembali menonton channel milik Rafli dan Irma.
Video terbaru mereka mengulas restoran Padang bernama Siang Malam.
Visualnya menggoda.
"Ini bumbu ayamnya terasa banget. Pakai bumbu apa sih, beb?" tanya Rafli dari layar.
Hardi langsung mengernyit. Beb?
"Bumbu kuning. Kita kan pernah buat waktu video ASMR," jawab Irma santai sambil menyobek daging ayam berlumur kuah kari.
"Benar, benar."
Kamera menyorot tangan Rafli yang merobek rendang, bumbu merah kehitaman melekat di jemarinya. Detailnya terlalu nyata—terlalu menggoda.
Perut Hardi langsung bereaksi.
"Gila ... bikin lapar," gumamnya.
Tanpa pikir panjang, dia menutup YouTube dan beralih ke aplikasi OjekFood. Sore hari, ditambah promo, jadi alasan yang cukup untuk memesan.
Saat sedang memilih restoran, notifikasi masuk.
Dari HRD Oradi.
Hardi membuka pesan itu, membaca perlahan—lalu terdiam.
(Selamat sore, Bapak Hardi Yudhistira.
Saya Sari, dari HRD Oradi.
Setelah mempertimbangkan CV dan Linkedin yang Anda kasih ke bagian kami, juga pertanyaan dari kami yang telah Anda jawab, maka atas nama Bapak Hardi Yudhistira DITERIMA sebagai manajer di divisi Digital Marketing. Harap besok Bapak Hardi bisa ke kantor untuk keperluan administrasi dan lain-lainnya.
Terima kasih sebelumnya.)
Sudut bibirnya terangkat. Setidaknya, usaha dan drama beberapa waktu terakhir tidak sia-sia. Besok, dia akan kembali duduk di kursi kerja, menghadapi layar komputer, dan menjalani rutinitas yang sempat hilang.
Satu hal yang terlintas di kepalanya justru sederhana—
Pantry-nya bagus nggak, ya?
Hardi kembali fokus ke layar. Cepat-cepat dia memilih menu: nasi ayam gulai, nasi rendang, dan jus jeruk. Tanpa banyak pertimbangan pun langsung menekan tombol pesan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mission to be Liar
RomansaDiduga tidak setia karena menceraikan istrinya, Hardi seakan membawa beban baru. Hardi dihujat tanpa sebab, membuatnya tertekan dan memilih resign dari kantor tempatnya bekerja. Tanpa sengaja, Hardi dipertemukan dengan Adelia. Keakraban kembali terj...
