Aku tahu yang sebenarnya, tapi tetap saja
Dengan mendengarkan suara itu, aku merasa terselamatkan
Dan perasaan ku terisi oleh mu
Kali ini, Eve terbangun di kamar Sou. Ia langsung mengenali ruangan itu dalam sekali pandang. Dinding berwarna krem lembut dengan beberapa poster band indie tertempel rapi, lemari kayu mahoni di sudut ruangan, dan jendela dengan tirai biru muda yang separuh terbuka, membiarkan sinar matahari pagi menerobos masuk. Ditambah aroma bubble gum yang menyenangkan menguar di udara, membungkus seluruh ruangan dengan kehangatan yang familiar. Kekhawatiran yang semula bercokol di dadanya menguap seketika, berganti dengan rasa aman yang menenangkan.
Pintu diketuk tiga kali dengan irama teratur dan Sou masuk dengan satu nampan di tangan. Senyum cerah langsung terukir di wajahnya begitu melihat Eve telah bangun.
"Ah, Eve-san!" serunya dengan nada riang yang melegakan.
Menutup pintu rapat hingga terdengar bunyi 'klik' pelan, Sou bergegas menuju ranjang dengan langkah-langkah ringan dan meletakkan nampan di atas meja nakas. Tangannya yang hangat meraba kening Eve dengan lembut, kemudian menyentuh keningnya sendiri untuk membandingkan suhu tubuh mereka. "Hm, sudah lumayan turun ya. Baguslah," gumamnya dengan ekspresi lega terpancar jelas dari kedua matanya.
Perlakuan sederhana ini memicu debaran aneh dalam dada Eve. Detak jantungnya tiba-tiba meningkat. Aliran darah berdesir ke wajahnya, membuatnya terasa hangat. Pemuda itu menjadi salah tingkah, jemarinya tanpa sadar mencengkeram ujung selimut erat-erat. "Ah- umh, makasih... sudah merawatku," ucapnya terbata, suaranya nyaris seperti bisikan karena gugup.
"Hei, kenapa kamu bilang begitu, Eve-san?" Sou menggelengkan kepalanya, alisnya terangkat heran. "Sudah wajar aku membantumu, kan? Jangan tidak enakan begitu." Ia tersenyum hangat, mengibaskan tangannya seolah apa yang dilakukannya bukanlah hal besar. "Lihat ini, aku buat bubur bersama bibi Sekai. Anak-anak juga ikut membantu, lho!"
"Kamu ingat Yui?" lanjutnya sambil menuangkan segelas air. "Semalam dia nangis saat melihatmu kugendong. Matanya berkaca-kaca dan pipinya yang gembul memerah. Dia menghentakkan kakinya dan berteriak, 'Kamu apain Eve-san aku!!' katanya." Sou menggelengkan kepala geli.
Eve juga menanggapi dengan tawa ringan. "Yui-chan memang manis, ya," ucapnya dengan senyum lembut.
Sou langsung menyipitkan mata, bibirnya mencebik dengan jenaka. "Hei, hei, apa maksudnya itu? Yui masih kecil, lho Eve-san," godanya dengan nada pura-pura curiga, kedua tangannya berkacak pinggang.
"Ih, bukan begitu!" Eve buru-buru menyangkal. Wajahnya semakin merona merah hingga ke telinga. "Aku hanya suka ka-"
Lidah Eve kelu detik itu juga. Otaknya mendadak kosong. Menyadari kalimat apa yang barusan akan rampung dari lisannya, ia merasa seperti tersengat listrik. Tidak hanya sadar, ia juga bingung mengapa ia bisa membuat kalimat seperti itu. Gugup, ia menelan ludah, merasakan tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Sou yang selesai mengaduk bubur dengan gerakan memutar yang konstan menunggu kalimat Eve rampung, ekspresinya penuh rasa ingin tahu.
"Suka apa?" tanyanya, memiringkan kepala dengan tatapan menyelidik yang polos.
KAMU SEDANG MEMBACA
Outsider || SouEve
Fanfiction⛓️ Utaite Fanfiction ⛓️ mungkin ia hanya lelah. atau mungkin ia bosan saja dengan kesehariannya. dirinya sendiri bahkan tak tahu bagaimana cara untuk menjabarkan apa yang saat ini ia rasakan. padahal, ia sudah berhasil menerima keadaan hidupnya. ia...
