Aku masih mencintaimu hingga tak bisa diperbuat
Jika perasaan tak terhentikan ini adalah segalanya bagiku
Aku masih mencintaimu hingga tak bisa diperbuat
Setelah sekian lama, Eve kembali merasakan sebuah pagi yang hampa. Namun ini adalah pertama kalinya ia merasakan nyeri yang luar biasa di dadanya tanpa terbentur benda apapun. Rasa sakit itu menusuk-nusuk, menjalar dari pusat dadanya hingga ke seluruh tubuh, membuatnya sesak dan sulit bernapas.
Rasa cinta sungguh luar biasa.
Dengan tangan gemetar, Eve meremat selimutnya kuat-kuat, mencoba menahan rasa sakit yang tak terkira ini. Ia bangkit perlahan dari posisi berbaringnya dan menangkap sapu tangan basah yang jatuh dari keningnya. Sapu tangan itu masih sedikit lembap dan hangat. Apa panasnya semalam naik lagi? Jika begitu, apa Sou semalaman menjaganya? Menoleh ke seluruh ruangan dengan mata yang masih berat, ia sama sekali tidak menemukan sosok Sou di sudut manapun. Cahaya redup pagi menerobos masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka. Dengan tangan yang masih lemah, Eve menarik ujung gorden dan menatap langit pagi yang masih kelabu, diselimuti awan mendung yang menggantung berat. Tidak mungkin Sou sudah pergi sekolah jam segini, kan?
Tapi, apakah ia mampu menemui Sou sekarang? Setelah semua yang terjadi?
"Ukh...." Eve meremat dadanya, merasakan jantungnya berdegup kencang dan menyakitkan. Terisak dengan nyeri yang sakitnya bukan main, air matanya mulai menetes tanpa bisa ditahan, membasahi pipinya yang pucat. Menggigit bibirnya kuat-kuat hingga hampir berdarah, Eve menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Bahkan hela napasnya pun terasa bergetar, bergelombang tak beraturan.
Apa rasa cinta memang selalu sesakit ini? Apakah semua orang juga merasakan hal yang sama?
Tok! Tok!
Eve tersentak kaget, tubuhnya menegang seketika dan refleks menarik selimutnya hingga menutupi dada. Derit pintu terbuka terdengar pelan, disusul kemudian suara riang anak kecil yang memecah keheningan pagi. "Eve nii-san! Mia bawa sarapan!"
Eve langsung membeku, jantungnya berdebar kencang, dan cepat-cepat berbalik, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sembab. "Mia-chan?"
Gadis berusia 10 tahun itu datang dengan senyum lebar yang menghiasi wajah mungilnya. Rambut hitamnya yang dikepang dua berayun lembut saat ia melangkah masuk. Di tangannya terdapat nampan berisi semangkuk bubur hangat yang masih mengepul dan segelas air hangat. Uap tipis menguar dari permukaan bubur, membawa aroma yang menenangkan. "Sou nii-chan titip padaku karena pagi ini dia harus antar koran. Obatnya jangan lupa diminum ya! Sou nii-chan bilang itu penting biar Eve nii-san cepat sembuh!"
Eve menerima nampan dengan tangan sedikit gemetar dan kembali bertanya dengan suara serak. "Bukannya Sou kerja di kedai ramen dan cafe?"
"Iya itu juga. Tapi Sou nii juga kerja serabutan jadi pengantar koran buat tambahan pemasukan, katanya," jelas gadis itu sambil memiringkan kepalanya sedikit. "Sou nii-chan bilang kebutuhan semakin banyak, apalagi sekarang musim dingin, jadi biaya pemanas dan semuanya naik."
Tertegun dengan penjelasan ini, Eve menatap strip obat di nampan. Dadanya kembali terasa nyeri membayangkan Sou harus bekerja begitu keras, dan sekarang masih harus repot mengurusinya. Sebuah ide terlintas di pikirannya. "Berapa lama biasanya... dia kerja pagi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Outsider || SouEve
Hayran Kurgu⛓️ Utaite Fanfiction ⛓️ mungkin ia hanya lelah. atau mungkin ia bosan saja dengan kesehariannya. dirinya sendiri bahkan tak tahu bagaimana cara untuk menjabarkan apa yang saat ini ia rasakan. padahal, ia sudah berhasil menerima keadaan hidupnya. ia...
