17

19 0 0
                                        

Bahkan jika aku memutar balikan jarum jam ke arah sebaliknya, saat ini tetap tak akan berubah

Akan tetapi dunia disekitar ku menjadi sesuatu yang hampa dan seperti sampah

Dengan tak ada nilainya sama sekali



Setelah menghabiskan dua infus lagi di apotek, Eve dinyatakan boleh pulang. Kepalanya masih terasa berat, tubuhnya lemas, namun tekadnya kuat untuk tidak lagi menyusahkan Sou. Dengan suara serak dan tangan yang masih bergetar lemah, ia menelpon jemputan dan memutuskan pulang ke rumahnya. Meski awalnya Sou bersikeras agar Eve istirahat 2-3 hari lagi. Namun, Eve menolak dengan alasan pekerjaannya sudah terlalu menumpuk. Lagipula, ia tak mau Sou melihat sisi lemahnya lagi. Di balik wajahnya yang pucat, tersembunyi ketakutan bahwa Sou akan mengetahui kebohongan tentang pengakuannya hari itu.


"Benar kau akan minum obatnya teratur?" tanya Sou ke sekian kali, alisnya bertaut menunjukkan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Tangannya menggenggam kantong plastik putih berisi obat-obatan, masih ragu untuk menyerahkannya pada Eve.


Eve terkekeh kecil dan menimpali setengah mengejek, berusaha menutupi kegugupannya dengan sikap defensif. "Apa kau ibuku? Bawel sekali." Matanya menghindari tatapan Sou yang terlalu peduli itu.


"Diamlah," balas Sou dengan nada jengkel, meski matanya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran tulus. "Apa aku harus menelponmu setiap jam makan?"


"Baik, baik. Tidak perlu begitu. Akan kuingat," janji Eve, menyerah pada kebaikan Sou yang kadang terasa menyesakkan. Jauh di lubuk hatinya, ada sepercik kehangatan yang ia sendiri enggan akui.


Begitu mobil jemputannya datang—sebuah sedan hitam mengkilap yang tampak asing—Eve melambaikan tangan pada Sou dan anak-anak yang mengantar kepergiannya di beranda gedung panti. Beberapa anak kecil melambai dengan semangat, beberapa yang lebih besar menunjukkan wajah khawatir. Menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang dingin, Eve menghela napas pelan dan meraba dadanya sendiri. Jemarinya merasakan detak jantung yang tidak beraturan di balik sweater longgar yang ia kenakan.


Hari ini pun, ia masih sulit menangani nyeri di dadanya. Tapi selama ia tidak mengingat hari pengakuan dan kebohongannya, rasa sakit itu sedikit ringan dibanding sebelumnya. Matanya menatap kosong ke luar jendela, melihat gedung panti yang semakin mengecil di kejauhan, dan sekilas sosok Sou yang masih berdiri di sana, mengawasi kepergiannya. Ada sesuatu yang terasa tidak benar, sebuah firasat gelap yang berbisik di sudut pikirannya.


Melirik kaca di langit-langit mobil, Eve menyipit kala menyadari wajah sang supir belum pernah ia lihat sebelumnya. Pria itu memiliki bekas luka samar di sisi kanan wajahnya, mata yang terlalu waspada, dan sikap yang terlalu kaku untuk seorang supir biasa.


"Aku yakin menelpon Yuusei sebelumnya. Siapa kau?" tanya Eve dingin, instingnya langsung waspada. Tangannya diam-diam mencari ponselnya di saku celana.


Ada sekian detik hening berlangsung—keheningan yang terlalu berat, terlalu mencurigakan—sebelum sang supir menjawab dengan suara monoton. "Saya pekerja baru di kediaman Takaaki."


"Apa? Takaaki katamu?!" Jantung Eve seolah berhenti berdetak. Nama itu memicu alarm bahaya di seluruh tubuhnya.

Outsider || SouEveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang