"Ide seni untuk seni, adalah tipuan"
-Pablo Picasso-
-----###*****###-----
Tak!
Wanita berjas putih itu meletakkan earphone nya di atas meja, setelah mendengar isi rekaman dari perekam mini berwarna hitam.
"Kau yakin untuk tetap tidak memberitahunya?"
Ucapnya kepada gadis yang sedang lesu di hadapannya itu. Dengan kepala yang bertumpu di atas meja, Nara hanya merespon berupa anggukan saja. Sedang matanya sibuk menelisik lebih jauh tanaman kaktus hias yang ada di depannya.
"Baiklah."
Bu Rita kemudian menceklis daftar kotak yang ber-angka 12 pada layar laptopnya. Ia juga memindahkan file rekaman itu ke dalam satu folder yang sudah ada.
"Madam..." Panggil Nara pelan kepada Bu Rita sambil mengangkat kepalanya dari meja. Kemudian duduk tegak, dengan pandangan yang masih belum terlepas dari tanaman kaktus hias di dekat jendela.
"Ya?"
"Seberapa besar pengaruh kata terimakasih?" Tanya Nara.
"Seberapa besar rasa hangat yang kau rasakan setiap kali aku memelukmu?"
Alih-alih menjawab, wanita itu malah balik melemparkan pertanyaan. Namun Nara yang mendengar itu justru tak keberatan. Otak jeniusnya mencoba mencerna ujaran Bu Rita, kemudian mengangguk-angguk pelan seolah paham dengan jawabannya.
"Baiklah." dan kembali menumpukan kepalanya di atas meja itu. Sementara Bu Rita mengambil kertas bergambar-kan setangkai bunga tulip dari dalam laci. Lalu menyurukkan kertas bergambar itu dan satu kaleng pensil warna kepada Nara.
Tanpa di perintah, gadis itu langsung membenarkan posisi duduknya untuk berkonsentrasi pada gambar yang diberikan. Nara mengambil pensil warna berwarna pink dan mulai mewarnai gambar itu dengan rapi.
"Apa Sir Heri sudah memberikan izin untuk tinggal di asrama?"
"Udah."
"Beliau ga bilang apa-apa lag-"
DUGH!
Pintu ruangan konseling terbuka secara tak wajar. Bu Rita yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya spontan terlonjak kecil, kemudian menilik ke arah sumber suara. Tapi Nara tak kaget sama sekali. Ia bahkan tak perduli, dan hanya santai mewarnai kertas bergambar bunga tulip miliknya.
Wajah tampan dari seorang pria yang muncul di mulut pintu, tak lagi membuat Bu Rita keheranan dengan apa yang baru saja terjadi. Tampak bahwa pria berhoodie merah itu sedang ter- engah-engah di sana
"Anda masih punya waktu 10 menit lagi Tuan Baskara, mohon tunggu sampai giliran anda." Ujar Bu Rita.
Di lihat nya seorang gadis berpakaian seragam rapi dengan rambut sepunggung duduk membelakangi nya dari tempat ia berdiri. Jeje yang melihat Bu Rita sedang melayani tamu nya itu, perlahan melangkah mundur untuk menjauh dari ruangan.
"Maaf." Kata pemuda itu.
"Tidak apa-apa, anda bisa tunggu di luar."
Cklek!
Terdengar suara pintu telah tertutup. Nara yang sedari tadi mencoba menahan diri untuk tidak ikut campur, kini mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
"Apa Madam ga ngajari pasien cara mengetuk pintu?"
Wanita yang ada di seberang mejanya itu hanya mendengus kasar, "Aku sendiri sudah lelah mengingat kan untuk ngga buat janji yang menyulitkan nya,"
"Semua orang punya sisi uniknya masing-masing Naraa..."
KAMU SEDANG MEMBACA
San chróma
Teen Fiction"Mungkin gue gabisa nuntasin masalah lo, tapi gue harap gue bisa nguatin lo Ra" "Gue harap gue bisa jadi kekuatan lo buat terus hidup..." Eza menangis sesegukan di samping Nara, sedang gadis itu tak tau harus berbuat apa. Prinsip aneh yang terus men...
