10. Kematian Tak Terduga

105 21 21
                                        

Siulan merdu menjadi alarm bagi Revan dan Zarine. Mereka membuka mata secara perlahan. Pandangan mereka yang sedikit buram tidak bisa melihat jelas orang yang asyik bersiul di depan mereka.

Pukulan balok kayu itu membuat kepala Revan dan Zarine berdenyut nyeri.

Cewek bertubuh mungil dengan pakaian serba hitamnya itu menoleh ke belakang. Siulannya terhenti, digantikan oleh senyuman mengerikan.

"Udah bangun?"

Revan dan Zarine saling pandang sebelum akhirnya mereka sadar kalau ada di atas atap sekolah SMA Bina Bangsa.

Mereka berdua tidak mengingat dengan jelas kenapa bisa ada di sini. Yang mereka ingat hanya satu, yaitu keluar dari rumah bersama, dan sosok misterius datang lalu memukul kepala mereka.

Ingin mengatakan sesuatu pun tidak bisa karena mulut mereka dilakban. Beberapa kali Revan mencoba melepaskan ikatan di tangannya, tetapi tidak berhasil.

Mereka berdua menatap benci sosok di depan sana yang hanya tersenyum bahagia.

"Kalian mengadopsi Levant? Terus membesarkan cewek itu sampai jadi penindas?"

Revan dan Zarine kebingungan mendengar ucapan cewek di depannya. Kenapa ia bisa tahu tentang Levant yang diadopsi? Bahkan kebenaran itu pun tidak diberitahukan kepada Levant sendiri.

"Asal kalian tau, Levant jadi penindas di sekolah ini," jelas cewek itu lalu menuding dirinya.

"Salah satu korbannya adalah saya."

Terlihat Revan memberontak, ia ingin mengatakan sesuatu dan membela Levant.

"Kalian terlalu memanjakan Levant. Kalian tidak mendidik Levant dengan benar."

"Bahkan ...."

Cewek itu menarik sweater hitam panjang yang menutupi kedua tangannya. Terlihat bekas luka di sana, membuat Revan dan Zarine kebingungan.

Satu lagi, cewek itu juga menunjukkan bekas luka di bahu kirinya.

"Semua luka ini karena Levant, Varo, dan Venya."

Suasana berubah menjadi sendu. Di atap sekolah ini angin bertiup cukup kencang. Suara hewan malam juga ikut terdengar.

"Kalian tidak percaya, 'kan? Kalau semua ini ulah anak yang kalian adopsi?"

Cewek itu menghela napas malas. Ia kembali menutup kedua luka di tangannya.

Tidak mau berlama-lama, sosok itu mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Levant yang masih di rumahnya.

|Datang sekarang ke SMA Bina Bangsa.

|Jangan bawa siapa-siapa, atau nggak.

Ponsel itu diarahkan ke Revan dan Zarine lalu memotret mereka berdua. Foto itu dikirimkan ke Levant.

|Mereka akan tiada sekarang juga.

Tanpa menunggu jawaban dari Levant, cewek itu kembali mengantongi ponselnya. Tatapan malasnya jelas terlihat, ia tidak sabar menunggu kedatangan Levant.

Sedangkan Revan dan Zarine tidak bisa berbuat apa-apa. Zarine diam, tanpa sadar air matanya turun mengalir begitu saja.

"Ngapain nangis?" tanya cewek itu heran melihat Zarine menangis dan menatapnya memohon.

"Kalau anak adopsi kalian datang ke sini, kalian akan tetap hidup," jelas cewek itu lalu mendekat ke Zarine.

Mata Zarine membelalak karena cewek itu menghapus jejak air matanya secara kasar.

My Shadow [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang