Suara motor memenuhi lingkungan komplek. Pagi-pagi buta seperti biasa dikala hari libur menghampiri, Minji akan selalu berkunjung ke hunian milik sahabat karibnya.
Tanpa salam, tanpa sopan santun dia membuka pagar sendiri. Kemudian masuk tanpa disuruh dan merebahkan diri pada sofa tanpa rasa malu.
Kalimat basa-basi 'Anggap kayak rumah sendiri, ya' benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh Minji.
"Ck!" decakan tersebut mengganggu pendengaran Minji, dia lalu mengintip dari balik lengannya yang menutupi mata itu.
Bisa dilihat dengan jelas abg seusia Haerin sedang berbenah rumah. Agenda akhir minggu.
"Eh, sorry-sorry," Minji cepat-cepat melepas sepatunya yang ternyata cukup kotor.
"Kebiasaan, orang udah dibilangin berapa kali ganti pake sendal rumah gak didengerin. Dasar tuli," bisiknya geram pada diri sendiri, tapi cukup nyaring untuk didengar oleh Minji.
"Maaf In, gue beneran lupa kali," kata Minji melengos begitu saja dari hadapan Hyein menuju lantai atas.
"Btw, gue ada bawain lo bubur depan kayak biasa," lanjut Minji sebelum benar-benar menghilang masuk ke dalam kamar.
Sebelum menutup pintu rapat Minji bisa lihat dengan jelas acungan jari tengah milik Hyein mengarah tepat padanya.
Anak itu, sungguhan punya dendam kesumat pada Minji.
"Oit anjing, kaget gue."
Minji berbalik, mendapati Hanni yang baru saja keluar dari toilet dengan penampilan yang sudah hampir rapi.
"Adek lo makin hari makin ngeri aja," Minji curhat terus merebahkan diri pada kasur.
"Idih, gak sadri banget si orgil," Hanni melirik malas pada Minji sambil sesekali memperbaiki eyeliner miliknya, "Lo lupa? Udah bikin gue patah hati hah?" lanjut Hanni.
"Sejak kapan anjrit? Itumah cuma akal-akalan lo doang biar diterima sama si Danielle. Reputasi gue hancur gara-gara ngelindungin lo, tai."
"Yeu, kan gue juga bantu lo banyak buat makasih nya," jawab Hanni tak mau kalah.
"Tau sih, tapi sekarang imbasnya Haerin di komporin mulu sama si Hyein."
"Lagian lo mah cupu anjrit, tinggal di jebret aja susah amat."
"Mata lo anjing, dikira mah enak buat si Haerin luluh? Capek aing, serius dah."
Hanni balik badan lalu menemukan raut muka lelah terpampang jelas pada wajah Minji.
Bukan, bukan hanya lelah karena perasaannya tak kunjung berbalas tapi Hanni tau dibalik itu semua banyak beban yang dia tanggung.
Banyak, banyak sekali. Sampai membayangkan menjadi Minji saja tak sanggup Hanni lakukan.
"Lo udah makan belum sih? lesu amat," selesai dengan riasan nya, Hanni mendekati Minji yang kentara sekali kelelahan tak berdaya.
Terlihat dengan jelas kalau si lawan bicara menggeleng. Hanni hembuskan nafas pasrah memandang nya, "Nanti makan bareng Hyein."
"Ya."
"Gue mau sportdate dulu sekalian sarapan diluar bareng Dani, jadi jangan tungguin gue," kata Hanni sembari memasang sepatunya, "Dan jangan ribut kalian!" perintahnya terakhir sebelum benar-benar hilang dibalik pintu.
Minji membuka matanya perlahan, melirik seluruh penjuru ruangan. Kosong, sepi, dan dingin.
Diluar tiba-tiba rintik hujan terdengar. Pikiran pada Hanni yang hendak jogging bersama Danielle terbesit membuat tawa ejek dari mulut Minji keluar begitu saja.
"Mampus, gak bisa nge-date," katanya tanpa beban.
Dia lalu merogoh kantong jaket dan cepat-cepat mencari kontak seseorang disana.
Ya, siapa lagi kalau bukan Haerin.
Minji rindu padanya, semenjak kejadian sore hari kemarin mereka belum bertukar kabar sampai sekarang. Singkat memang, tapi Minji takut, kalau saja dia tiba-tiba hilang tanpa kabar.
Minji rasa, dia tidak sanggup menghadapi itu semua.
Haerin itu, bagai lilin yang menerangi kehidupan Minji ketika semua padam. Terlihat begitu mendadak, tapi sangat berharga.
Minji jatuh pada awal waktu mereka bertemu. cliche, namun nyata adanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Minji segera menekan tombol dial, sedetik kemudian panggilannya terhubung menampilkan wajah rupawan milik manusia yang tiga tahun belakangan ini memenuhi hatinya.
Tiga tahun mengenal Haerin tapi nyali Minji baru bisa tergerak pada awal tahun kemarin.
Dengan berbekal informasi dari Hyein yang bernotabene sebagai adik dari sahabatnya sekaligus teman dekat Haerin, Minji mulai terang-terangan menunjukkan rasa sukanya.
Yang sayangnya mendapat penolakan besar dari Hyein, dengan alasan kalau berandal kelas kakap seperti Minji tidak cocok bersanding dengan Putri Sanjaya yang terpoles bak putri kerajaan itu.
Minji setuju, selain beda perasaan dia dan Haerin juga beda status, beda kasta, beda level, beda segalanya.
"Halo Ji?" panggilan diseberang menyadarkan Minji dari lamunan mendadak.