Minji bagi Haerin adalah masalah besar. Dimata nya, Minji itu buaya betina yang punya gandengan dimana-mana dan tidak pernah serius dengan hubungan, salah-satu alasan yang membuatnya terus menarik ulur hubungan mereka. Dan dari cerita Hyein, dia percaya kalau Minji itu manusia berandal tak kenal rumah, tak kenal waktu, tak kenal simpati.
Point kedua itu benar, dan untuk yang pertama itu jelas hoax. Minji menolak kasar gagasan tentang diri nya tersebut dan berani bersumpah kalau sampai saat ini dia hanya satu kali suka dengan manusia sampai segila ini, dan itu hanya pada Haerin.
“Lo kenal Hyein darimana?”
Minji otomatis mengalihkan kamera ponsel ke arah Hanni yang kini juga sedang sibuk melakukan panggilan video dengan pacarnya.
“Fyi, kakak nya Hyein itu kawan gue.”
“Terus?” tanya Haerin ketus.
“Ya, mulai sekarang lo jangan mau percaya omongan si Hyein. Lo mah di kibulin mulu tau.”
“Ya ya ya, terserah.”
“Eh, gue serius,” kesal Minji. Dia tidak mau kalau Haerin terus-terusan mengkonsumsi omongan-omongan orang luar yang ketidakjelasan nya sudah tak tertolong itu.
“Terus? Keuntungannya buat gue apa?”
“Ya, supaya lo lebih kenal sama gue lah. Kan lo sendiri yang bilang mau kenalan lebih lagi sama gue. Lupa lo? Cakep-cakep pikun, idih,” Minji bergidik, menunjukkan muka jijik nya yang sok membuat Haerin mencebik kesal.
Haerin lalu mengacungkan jari tengahnya pada Minji yang masih asik meledek dirinya.
“Ew, Haerin ew plin-plan!”
Daripada menanggapi kalimat tidak jelas itu, lebih baik ganti topik saja. Haerin pun berucap, “Lo dimana sih, Ji? Berisik amat.”
“Ini gue kerja.”
Alis Haerin otomatis tertaut, kebingungan dengan jawaban Minji, “Becanda lo? Bentukan nya aja lo kayak lagi di club, iyakali lo kerja disitu?”
Minji tersenyum simpul terus memperlihatkan baju nya yang sengaja ia lapisi dengan jaket. Tidak baik ditutupi lebih lama lagi, karena cepat atau lambat Haerin harus tau dan harus segera membuat pilihan kalau Minji itu pilihan yang baik atau tidak.
Bordiran nama pada kemeja hitam terpampang jelas disana, Haerin sedikit kebingungan untuk menanggapi fakta baru ini.
Jujur, semua tentang Minji benar-benar membuatnya terus terkejut.
“Gue bisa kerja disini karna gue udah kenal lama sama yang punya, udah kayak saudara sendiri, jadi ya gitu,” dia mencoba memberi penjelasan pada Haerin yang terlihat masih bungkam.
“Rin?” panggil Minji khawatir saat tak kunjung mendapatkan kalimat tanggap dari lawan bicaranya.
“Hm?”
“Lo nggak marah, ‘kan?” Minji bertanya hati-hati. Jujur, dia takut sekali kalau setelah ini Haerin akan pergi menjauh, “Gue banyak kurang nya Rin. Bener kok yang dibilang Hyein, kalo gue tuh jauh dari kata anak baik. Tapi, gue juga bingung cara ngejalanin dunia tanpa siapapun, gue capek sendiri terus. Dan apa yang gue lakuin selama ini tuh cuma buat ngehibur diri doang, meskipun ya mungkin jalannya salah,” Minji tertunduk, tidak sangup bertatapan dengan Haerin.
“Gue bukan mau egois, tapi gue harap lo gak pergi Rin. Gue gak janji, tapi gue coba buat perbaiki diri buat lo,” lanjutnya.
“Ji.”
“Iya Rin?”
“Liat sini coba,” titah Haerin, ketika mata keduanya bertemu mereka saling lempar senyum. Memberi cahaya untuk satu sama lain, “Minji ya tetap Minji yang gue kenal. Gue juga gak perduli sama omongan orang lain. Bagi gue lo itu udah baik Ji, gak perlu ngerubah diri buat orang lain apalagi buat gue. Cukup jadi diri sendiri, gue gak nuntut lo sedikitpun.”
“Gue gak mau becanda tapi kalimat lo alay banget Rin, serius.”
“Minji tai!” umpat Haerin yang mengundang tawa untuk keduanya.
“I love you endlessly, Rin. Serius inimah! ”
“Iya Ji, Iya terserah lo dah.”
.
KAMU SEDANG MEMBACA
❶ Coldplay
FanfictionTry again, until you solve this coldplay! _ ⚠︎END, slowburn, wlw relationship, harshwords, cringe, local au, 18+ for some action, also some triggered issue! ©bimilday, 2023.
